OPINI: Belajar dari Kematian Tabloid Bola

FOKUSLINTAS.comKita mungkin masih ingat ketika di bangku SMP atau SMA, seorang teman membawa Tabloid Olahraga Bola ke kelas dan dibaca secara beramai-ramai.

Seru lantaran informasi yang dibaca itu terus jadi bahan obrolan sepanjang hari. Akhir kata, sang tabloid kesayangan itu akhirnya akan berhenti terbit tergerus kemajuan jaman dan teknologi.

Bagi sebagian orang, rencana berhenti terbit Bola jadi tanda datangnya senjakala tabloid olahraga, menyusul Soccer yang telah ‘mati’ lebih dahulu. Dan sudah lama memang kita membaca tanda-tanda berakhirnya kejayaan media cetak seperti koran atau tabloid.

Tagar #Terima Kasih Tabloid Bola langsung muncul di Twitter merespons rencana penutupan itu. Orang-orang menyampaikan testimoni, seolah sedang ‘melayat’ di media sosial sambil membagi foto-foto masa lalu.

Namun, di tengah matinya satu-dua media itu tidak membuat kita kehilangan informasi, justru kini kita dilimpahi dengan begitu banyak variasi dan sumber berita. Tinggal menjentikkan jari, ulasan ataupun cuplikan sudah bisa dinikmati sambil minum kopi.

Dari berbagai channel juga akun media sosial, hingga aplikasi yang memperbaharui informasi setiap detik, telah menggantikan peran media cetak. Tingkah lucu “Mbah Sangkil” pun kini sudah membantu menghibur pembaca dengan akun media ribuan pengikut setia.

Demokratisasi via digital membuat banyak orang punya kapasitas untuk jadi sumber informasi sekaligus memiliki medianya sendiri yang idealis dan gampang diakses. Produksi informasi itu tidak perlu lagi melewati deru mesin cetak, dan terkadang lebih otentik karena tak dikurasi oleh wartawan dan editor.

Inilah faktanya.. Industri informasi dihidupi oleh orang-orang kreatif, bukan para pemilik modal. Inovasi muncul dari banyak tempat, bukan hanya di Departemen penelitian dan pengembangan perusahaan besar saja. Perubahan itu menyingkirkan orang-orang yang tidak menyiapkan diri.

Jurnalis harus relevan di setiap platform dan setiap generasi. Kuncinya, bukan menguasai teknologinya saja, tetapi kemampuan untuk terus belajar hal baru.

(Kemampuan belajar hal baru, catat itu)

Sia-sia kita memiliki jabatan, status, gelar sampai perusahaan dengan masin-mesin mahal, tapi ternyata tidak lagi relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini. Beradaptasilah dan miliki sikap ingin tahu (curiosity) yang kuat.

Sikap terbuka dan mau belajar hal baru itu semacam wadah, yang ketika dibuka maka banyak hal bisa masuk. Karena itu, selain rasa ingin tahu, buatlah telinga kita lebih peka.

Kematian tabloid atau cetak tak perlu ditangisi, mungkin justru perlu dirayakan bahwa kita akan sampai pada tahap penghematan kertas dan proses yang lebih efisien dalam memanfaatkan energi. Banyak inovasi yang menggantikannya, bahkan jauh lebih baik dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Inovasi seharusnya bukan barang mewah di tengah kemudahan dan kelimpahan sumber daya yang kita miliki saat ini. Sayangnya, indeks daya inovatif Indonesia masih di peringkat 85 dari 126 negara yang tertera di Global Innovation Index 2018 tahun lalu. Apakah kita kurang pintar?

Rasanya tidak juga. Menurut hemat saya, di panggung yang sama dengan media besar lainnya, masyarakat Indonesia itu pintar-pintar, rata-rata bisa tiga bahasa, dan paling optimistis.

Namun, sebelumnya memang banyak di antara yang pintar itu tak pernah dapat panggung dengan semestinya. Kekurangan lainnya adalah malas membaca.

Di era digital, panggung itu terbuka lebar. Jika kita perhatikan, banyak orang kreatif memanfaatkan berbagai media untuk berkarya dan mendapatkan panggung impiannya, tidak perlu melewati audisi birokrasi berbelit. Bahkan, anak-anak muda tak perlu berlama-lama meniti karier hanya untuk bisa didengar atau jadi petinggi di perusahaan bernilai triliunan.

Salam Redaksi

Awi & Gusti Puger

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *