Dikeluhkan Warga, Pelayanan Kesehatan di Desa Gilirejo Baru Terhambat Banyak Masalah

FOKUSLINTAS.com – Berbagai masalah menghambat pelayanan kesehatan di pelosok Desa Gilirejo Baru Kecamatan Miri Kabupaten Sragen, Jawa Tengah.

Selain masih kurangnya tenaga medis tapi juga masalah keamanan menghambat pelayanan kesehatan di daerah ini.

Banyak warga masyarakat Desa Gilirejo Baru mengakui pelayanan kesehatan terutama di pinggiran kota dan wilayah terpencil tersebut belum berjalan optimal.

Masyarakat sering mengeluhkan Pustu di Desa lebih sering tutup karena tidak ada petugas medis. Kalaupun ada yang buka, itupun hanya sesekali saja dan bisa dihitung dalam seminggu lantaran petugas tidak betah di tempat.

Menurut beberapa tokoh Desa saat ditemui wartawan, Kamis (17/10/2019), mengungkapkan penyebab utama adalah terbatasnya jumlah petugas medis mulai dari dokter, perawat maupun bidan. Jumlah yang ada saat ini masih jauh dari kondisi ideal termasuk masalah keamanan. Lalu untuk di Desa Gilirejo Baru ini terkait Pustu oleh Bidan Desa yang harusnya banyak andil.

“Untuk Puskesmas Pembantu atau Pustu, seharusnya dibutuhkan minimal beberapa petugas medis termasuk keaktifan Bidan Desa. Namun kenyataannya sering tutup dan tidak ditempati padahal harusnya domisili,” ungkap Warsito salah satu warga Desa Gilirejo Baru.

Menurutnya, sekarang ada yang hanya dilayani petugas kala buka saja tapi tak bisa dipastikan jadwal harinya, bahkan ada yang cuma beberapa kali saja dalam seminggu.

Sesuai ketentuan, di setiap Puskesmas wajib memiliki tenaga medis. Namun syarat itupun belum bisa dipenuhi karena jumlahnya tetap masih sangat kurang.

“Sekarang harus ada Bidan Desa di Puskesmas yang lebih aktif, karena yang harus buat pengarahan resep atau pelayanan. Soalnya dokter masih kosong di Puskesmas ini, “ lanjutnya.

Namun demikian, lanjut Warsito, permasalahannya tidak hanya karena jumlah petugas yang minim atau petugas yang malas kerja.

Dia mengklaim petugas medis sejatinya mau tinggal menetap di kampung agar bisa setiap waktu melayani warga setempat. Namun banyak diantara mereka tidak betah karena merasa kurang memperoleh bagaimana warga tidak ada yang tahu.

Terkait kekurangan tenaga medis, perlu keaktifan petugas medis agar bisa menghadirkan pelayanan kesehatan yang memadai. Sejauh ini langkah yang diambil untuk menutupi kekurangan petugas adalah harusnya bisa dengan merekrut pegawai honorer.

“Maka ke depan harapan kita honor-honor yang ada harus diangkat jadi CPNS supaya menutupi kekurangan. Supaya mereka yang PNS tidak ada tidak tempat pelayanan, tidak ada masalah. Pelayanan akan jalan lancar, “ imbuhnya.

Sumber warga yang lain Maryanto (31) mengatakan bahwa Layanan kesehatan di Pustu Gilirejo Baru dulu pernah membuat pemerintah desa (pemdes) pusing lantaran jarang beroperasi. Akibatnya warga kesulitan mendapatkan layanan kesehatan di fasilitas milik pemerintah tersebut.

“Bisa juga karena kondisi jalan rusak, jauh atau bagaimana, bidannya tidak mau tinggal di situ. Dampaknya pelayanan kesehatan kurang maksimal. Bidan datang tidak tentu. Kadang sepekan penuh tidak datang. Dampak lain kondisi seperti ini warga kesulitan kalau mau berobat atau bersalin. Sering kali warga harus ke Kemusu, Boyolali, untuk mendapatkan layanan kesehatan. Kan desa kami berbatasan dengan Kedungrejo, Kemusu,” keluhnya.

Masih menurutnya, terkait layanan kesehatan oleh bidan di pustu mutlak diberikan. Sesuai aturan, setiap bidan diminta mblabak di pustu tersebut.

“Harapan kami mohon pihak DKK Sragen memperhatikan keluhan warga Desa kami dan segera di tindak lanjuti. Semoga juga bidan di pustu pelayanan agar bisa maksimal. Sesuai aturan mestinya bidang tinggal di situ.” tukas dia.(Tim)

Editor : Awi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *