Keajaiban Sembuh Dari Lumpuh, Dijaga Ular Gaib dan Suara Angklung

Sembuhkan Lumpuh, Dijaga Ular Gaib dan Suara Angklung

LERENG BUKIT: Wayan Kamasan menunjukkan tumbuhnya pohon kayu jelema di lereng tebing Bukit Mucang, belum lama ini. 

 

FOKUSLINTAS.com – Kayu jelema yang ada di Bukit Mucung diyakini dapat menyembuhkan penyakit medis dan nonmedis. Salah satunya adalah penyakit lumpuh. Namun untuk mencari kayu tersebut cukup sulit. Selain letaknya di pinggir jurang, kayu tersebut dijaga makhluk gaib, salah satunya berupa ular.

Masalah klenik tentu tak akan habis dikupas. Misalnya, mengulik soal keberadaan tempat-tempat bertuah bagi mereka yang ingin sembuh dari penyakit nonmedis. Di atas Bukit Mucung, Banjar Tengading, Desa Antiga, Kecamatan Manggis, Karangasem misalnya. Di sana terdapat satu pohon berkhasiat khusus, yakni menyembuhkan penyakit medis maupun nonmedis. Warga menamainya kayu jelema (manusia).

Sembuhkan Lumpuh, Dijaga Ular Gaib dan Suara Angklung

KAYU JELEMA : Pohon kayu yang diyakini dapat menjadi sarana obat untuk menyembuhkan penyakit lumpuh.

Mengapa demikian? Penamaan kayu jelema adalah penggambaran sederhana dari batang pohon yang kerap mengeluarkan getah merah seperti darah. Nah, itu sebabnya pohon tersebut dinamai kayu jelema. Tak ada yang tahu kapan tumbuhnya dan kapan kali pertama ditemukan. Yang jelas, pohon tersebut dikeramatkan warga karena tumbuh di areal angker. Mereka yang datang, kebanyakan nunas tamba (meminta obat) atas petunjuk jero dasaran (balian) atau penekun spiritual.

Mereka tidak boleh sembarangan ketika meminta bagian pohon itu. Seseorang mesti menggunakan banten/sarana upacara dan selama proses pencariannya, wajib melibatkan pemangku. Lantas seperti apa?

Wayan Kamasan, salah seorang warga yang tinggal di kaki Bukit Mucung bisa dibilang kuncennya alias juru kunci. Pria 60 tahun itu paling sering dimintai tolong oleh beberapa orang atau keluarga yang hendak nunas tamba ke atas Bukit Mucung. Namun, permintaan tersebut juga didasari atas petunjuk jro dasaran.

“Dulu, awal-awal saat bapak saya masih ada (hidup), saya kaget. Kenapa ada orang yang datang ke sini minta diantar ke atas bukit. Setelah ditanya, ternyata di sana ada obat yang dipercaya menyembuhkan penyakit,” tutur pria asli Banjar Tengading, Desa Antiga tersebut.

Kamasan menjelaskan, pamedek yang datang memang diarahkan oleh balian setelah nunas baos (minta petunjuk). Hal itu dia ketahui langsung dari penuturan pamedek. Mereka awalnya berkonsultasi sekaligus meminta obat. Setelah mendapat wangsit, keluarga tersebut diwajibkan mencari salah satu bagian pohon kayu jelema di wilayah timur (Karangasem).

Kamasan tidak tahu perihal masyarakat yang dengan mudah mengetahui ada kayu jelema di atas Bukit Mucung. Yang jelas, Kamasan tidak mau menolak jika ada pamedek yang minta diantar. Tapi pria yang sehari-hari beternak tersebut, juga tidak mau kecolongan.

Setiap ada yang minta diantar, Kamasan tak segan menanyakan maksud kedatangannya. Apakah untuk mencari obat, atau mencari pasugihan dan lain sebagainya. Jika permintaan pamedek di luar tujuan positif, Kamasan dengan tegas menolak mengantar karena takut.

Tidak jarang, pria paruh baya itu menyarankan pamedek untuk naik bukit tanpa perlu diantar siapapun. Sebab, Kamasan tidak mau ambil risiko. Tempat sangat angker, dan ada beragam rancangan (sosok penjaga gaib) yang kerap menampakkan diri. Mulai dari ular besar, kera putih, suara gong, suara angklung, hingga sosok bertubuh besar. Kata Wayan Kamasan, percaya atau tidak, sudah banyak kejadian aneh terjadi.

Wayan Kamasan menuturkan, pamedek biasanya meminta untuk mencari salah satu bagian pohon kayu jelema. Misalnya akar, batang, daun, babakan atau kulit kayu, bahkan semua bagiannya (kayu jelema sekawit). Itu tergantung dari petunjuk yang didapat. Mereka cukup membawa sarana banten pajati dan canang sari. Terkadang ada juga yang membawa banten lengkap. Namun sayang, Kamasan tidak bisa menyebut banten apa jenisnya.

Biasanya, babakan kayu dipakai untuk lulur atau boreh. Boreh itu diyakini menjadi obat lumpuh. Pamedek mengaku kepada Wayan Kamasan, bahwa jika lulur babakan kayu jelema  dioleskan ke bagian yang diperlukan, niscaya akan sembuh dari penyakit. “Seingat saya, yang datang rata-rata ngakunya sakit lumpuh. Setelah itu datang ke sini lagi sudah mendingan,” imbuh pria bertubuh kurus itu.

Tidak hanya lumpuh, bagian kayu jelema diyakini menyembuhkan penyakit nonmedis. Seingat Wayan Kamasan, sudah puluhan orang sembuh setelah memohon tamba ke tempat ini. Di antaranya ada yang mengaku sudah beberapa kali berobat ke tempat lain, tetapi tidak sembuh-sembuh juga. Kemudian orang tersebut mendapat petunjuk agar mencari obat dari pohon kayu jelema.

Kamasan tidak berhak mencari semua bagian pohonnya. Dia hanya bertugas mengantar. Pamedek disarankan mengajak pemangku. “Di sini belum ada pemangkunya. Kalau mau nangkil, mengajak pemangku juga bisa. Tempat ini juga angker, gak boleh sembarangan mengambil kayunya,” ujar Kamasan meyakinkan.

Penelusuran awak media diantar langsung Wayan Kamasan menuju puncak bukit menunjukkan bahwa bukit tersebut  tidak setiap hari dijamah orang. Sebab jalan setapak sudah rimbun dipenuhi semak. Kamasan juga mengaku jarang naik bukit.

Jarak tempuh dari rumahnya menuju puncak hampir 500 meter dengan waktu pendakian sekitar 30-40 menit. Beberapa palinggih padmasari sebagai stana rancangan, terlihat berdiri kokoh di sepanjang jalan setapak menuju puncak. Jalannya berbatu tajam dan terjal.

Tiba di puncak, pamedek akan melihat hamparan hutan dan jajaran bukit mempesona. Bukit Mucung berada di antara gugusan bukit tersebut. Di sana juga dapat dilihat beberapa batu dibalut kain, dekat pohon kayu jelema. Letaknya persis di depan pohon.

Lokasi pohon itu terbilang sulit dijangkau. Tumbuh di lereng jurang dengan tingkat kemiringan hampir 60 derajat, sehingga pamedek wajib memperhatikan keselamatan. Menariknya, pohon itu hanya ada satu. Tidak punya tunas maupun buahnya. Pohon langka itu sudah dibalut kain bercorak hitam putih kotak-kotak alias poleng. Tujuannya, agar tidak ada orang yang sembarang membabat atau memotong pohon tersebut.

Beberapa meter dari pohon, juga dibangun dua palinggih padmasari. Di sini akan digelar upacara apabila bertepatan dengan hari suci. Seperti Purnama, Tilem, Kajeng Kliwon, dan hari suci besar lainnya. Tiap malam menjelang rerahinan, suara aneh-aneh kerap terdengar dari puncak. Misalnya, suara gong dan angklung. Suaranya tidak begitu keras, namun jelas sumbernya.

Kamasan sempat melihat ada beberapa orang naik bukit malam-malam. Namun tak lama kemudian, mereka memutuskan balik karena tak menemukan jalan. “Katanya gelap. Padahal sudah jalan setapak. Ada tanda, tetapi tidak berhasil naik. Ada juga pemangku dari Seraya melihat Bukit Mucung ramai, terang, seperti ada pesta,” tukasnya.

 

(Bgs-Bgs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *