Cocok Jadi Sarana Ritual, Punden Mbah Noyo Destinasi Sejarah Terbaru di Desa Banaran Sambungmacan

Punden Mbah Noyo, Destinasi Wisata Sejarah Terbaru di Banaran Sambungmacan, Cocok Jadi Sarana Edukasi. Foto : dok/Awi

 

FOKUSLINTAS.com – Di Punden Mbah Noyo, Desa Banaran, Kecamatan Sambungmacan, Kabupaten Sragen, ternyata ada salah satu tempat wisata religi yang tak pernah muncul di publik.

Pantauan fokuslintas.com dilokasi, Desa Banaran Sambungmacan memiliki destinasi wisata religi sejarah, bahkan banyak peziarah datang kesitu pada malam tertentu, khususnya saat malam 1 Suro dan Jumat legi.

Untuk ke akses lokasi Punden Mbah Noyo tidak terlalu sulit, karena pengunjung cukup berjalan memakai kendaraan sekitar 500 meter dari jalan raya untuk sampai ke punden yang juga sekaligus sumber bersejarah cikal bakal di wilayah Desa Banaran Sambungmacan ini.

Beberapa warga setempat ternyata masih mempercayai hal mistis di punden itu.

Menurut kepercayaan warga setempat, seseorang akan mendapat hal baik jika tirakatan di malam jumat legi di punden Mbah Noyo.

Tak hanya itu, warga juga percaya jika menepi maka dapat memperlancar rezeki, jodoh, dan lainnya.

Punden makam Mbah Noyo dan Mbah Sukarno, di Desa Banaran Sambungmacan Sragen. Foto: Awi

Sesepuh Desa Banaran sekaligus juru kunci makam, Mbah Sukarno (65) mengatakan, punden itu memiliki sejarah yang bisa dijadikan edukasi bahkan ngalap berkah.

“Saya tidak tahu banyak sejarahnya, cuma di punden ini banyak dipercaya sama warga sekitar bisa melancarkan hidup, juga berbagai hajat,” kata dia, saat dijumpai fokuslintas.com pekan lalu.

Menariknya, punden itu terletak di tengah Desa, sehingga tampak indah dan asri.

Meski beberapa sudut pekarangan sudah berlumut, namun bangunan punden yang terbuat dari cor beton masih dalam keadaan yang kokoh.

Sukarno menambahkan, musim bulan suro dan malam jumat legi tiap tengah malam banyak peziarah yang tirakat dengan berbagai kepentingan.

Meskipun punden itu berada disekitar penduduk, warga setempat tetap memelihara kebersihan dari punden itu.

“Rutin setiap waktu warga bergantian untuk membersihkan area punden. Meskipun sering dijadikan area untuk ritual, warga menjaga kebersihan di sana,” imbuhnya.

Sukarno mengaku, menyambut baik jika Punden Mbah Noyo dijadikan tempat wisata religi yang diuri-uri. Menurutnya, hal itu menjadi keuntungan warga setempat karena bisa mengangkat potensi wisata di Desa Banaran.

Dikisahkan cerita turun temurun, bahwa Mbah Noyo hidup dimasa tahun 1950 an dan banyak membantu orang pribumi melawan penjajah. Mbah Noyo dikenal memiliki banyak kesaktian, bisa menghalau penjajah dan mengusir dengan kesaktiannya.

“Dari cerita bapak saya, dulu Mbah Noyo jika mau masuk Banaran penjajah di sirep tidur. Mbah Noyo juga terkenal dengan ilmu menghilang bahkan kebal senjata tajam juga peluru. Murid-murid Mbah Noyo banyak di Desa Banaran, tapi sudah meninggal semua. Waktu itu saya masih kecil.” tandas dia.

Foto: dok/Awi

Sementara itu, Kepala Desa Banaran, Susilo WB mengatakan, punden Mbah Noyo itu merupakan salah satu aset desa. Untuk itu, ketika dijadikan tempat wisata bersejarah, harus butuh kajian terlebih dahulu.

“Memang rencana seperti itu, banyak sejarah yang bisa digali di punden itu. Terlepas dari kepercayaan warga, di sana juga dirawat oleh warga,” katanya.

Kades Susilo juga mengungkapkan saat ini juga sedang menggali beberapa sejarah di Desa Banaran pada khususnya. Pihaknya juga sangat suka perihal budaya dan sejarah, apalagi mayoritas diwilayahnya juga pribumi asli orang jawa. Hal itu tentunya banyak sambutan positif dari berbagai kalangan masyarakat.

“Kami siap nyengkuyung apapun prioritas yang memajukan Desa, apalagi terkait berbau sejarah uri-uri jejak budaya leluhur. Harapan kami, untuk selalu masukan dan sinergi baik dari pihak masyarakat dan berbagai elemen demi kemajuan Desa Banaran.” Pungkasnya. (Awi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *