Belajar di Rumah Cenderung Monoton, Dorong Siswa Lakukan Pemberontakan


Drs Soleh Amini Yahman MSi Cd, Psikolog UMS (dok.ist).

 

FOKUSLINTAS.com — Psikolog Univeritas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Drs Soleh Amini Yahman MSi Cd mengemukakan, kegiatan belajar di rumah yang cenderung monoton akan mendorong siswa untuk melakukan ‘pemberontakan” dengan cara berperilaku di luar yang diperbolehkan, seperti dolan-dolan ke gang sebelah atau sekadar sepedaan keliling kampung atau mungkin nongkrong di buk ujung gang.

“Hal ini tentu tidak boleh karena sedang dalam masa karantina dan masa social distancing. Tetapi sesungguhnya perilaku-perilaku “memberontak” seperti itu justru baik bagi pelakunya untuk menghindari kejenuhan sebagai sumber stres,” ujar Soleh Amini Yahman yang akrab dipanggil Sony saat menyampaikan komentarnya melalui telepon seluler, di Sukoharjo, Kamis (7/5).

Bolehlah kalau sekedar pit-pitan keliling kampung atau sekadar bermuhibah ke gang sebelah, asal tetap memperhatikan standar, minimal menjaga kesehatan agar tidak terjadi penularan Virus Corona.

“Tetapi tetap menggunakan masker, sering cuci tangan memakai sabun dan menjaga jarak fisik minimal 1 meter dengan orang lain,” ujar Sony yang juga anggota Dewan Pendidikan Kota Surakarta (DPKS).

Menurutnya, masyarakat jangan terlalu takut dan terlalu tegang dalam menghadapi situasi wabah Covid-19 ini. Meski demikian harus tetap waspada dan mengikuti anjuran dan arahan pemerintah guna mencegah penyeberan Virus Corona.

“Do manuto!” kata Sony menirukan ujaran Walikota Solo FX Hadi Rudyatmo yang semakin viral itu.

Bagaimana tanda tanda atau ciri stres jika melanda anak dan remaja sebagai akibat belajar di rumah saja ini? Anak dan remaja yang stres atau berada dalam situasi krisis biasanya menunjukkan tanda-tanda yang jelas. Maka dalam ini orang-orang dewasa yang berada di sekelilingnya sebaiknya bisa mengenali tanda-tanda tersebut agar bisa memberikan dukungan serta perlindungan yang tepat.

Pada anak usia 4 sampai 8 tahun, tanda-tanda yang muncul diantaranya kesulitan tidur (mimpi buruk, takut untuk tidur, takut untuk sendirian pada malam hari), menempel terus kepada orang dewasa, tidak mau berjauhan dengan orang tua atau guru, mengompol, tidak aktif, tidak bisa melakukan kegiatan sehari-hari, malas mengerjakan tugas-tugas sekolahnya, mengalami gangguan berbicara, takut gelap dan tidak mau ditinggal.

Jika terjadi hal yang demikian ini maka orang dewasa (orang tua atau kakak) hendaknya melakukan hal hal berikut ini: memberikan rasa aman, menyediakan dukungan, sarana istirahat, kenyamanan, makanan, kesempatan untuk bermain, atau menggambar, membantu agar mereka mau berbagi perasaan dengan berbagai cara seperti berbincang-bincang, mendengarkan.

“Dan jangan lupa untuk memberikan penjelasan mengenai konsep Virus Corona dan penyebarannya serta akibat yang timbul bila Corona menular kemana-mana,” ujarnya.

Intinya, kata Sony, ajaklah anak untuk memahami kondisi pandemik ini dengan menggunakan bahasa anak yang masih sangat sederhana, dan jangan menakut-nakuti anak dengan Corona.

“Misalnya kalau nggak belajar nanti diuntal Corona lho. Atau kalau nggak mau makan nanti adik dimakan Corona lho, dan sebagainya,” ujarnya.

 

(Tim-Her)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *