Restrukturisasi Utang di Solo, Pengusaha Transportasi Lakukan Aksi

Aksi demo pengusaha transportasi mengelilingi komplek Keraton Surakarta | Foto : Tim.

 

FOKUSLINTAS.com – Belasan pengusaha transportasi dan pariwisata di Kota Solo menggelar aksi di Alun-alun Selatan, Selasa (19/5) sore. Aksi ini dilakukan sebagai bentuk keprihatinan atas kondisi bisnis transportasi yang terpuruk akibat Covid-19. Sementara upaya mereka menemui Otoritas Jasa Keuangan (OJK) beberapa waktu lalu menemui jalan buntu.

“Sore ini kita keliling Keraton Surakarta dengan maksud kami prihatin dengan keadaan covid-19 ini. Dan kami pelaku transportasi sampai saat ini belum menemukan solusi dari OJK,” kata Ketua Paguyuban Transportasi dan Pariwisata Soloraya, Oky Orlando di sela aksi.

Pantauan awak media, mereka mengelilingi Alun-alun Utara sebelum mengelilingi Keraton Surakarta. Selama persiapan aksi, para pengusaha itu selalu menjaga jarak dan mengenakan masker. Bahkan saat menunggu rekan-rekannya berkumpul, mereka nongkrong berteduh di tepi jalan. Di satu tempat, tapi tidak berdekatan.

Sebelumnya, paguyuban itu dua kali mendatangi Kantor OJK Kota Solo untuk mencari solusi masalah kredit mobil mereka. Sayangnya, dari dua kali pertemuan itu, OJK tidak memberi solusi yang memuaskan.

“OJK tidak bisa memberi solusi. Kebijakan diserahkan ke finance masing-masing,” katanya.

Ada tiga hal yang menjadi tuntutan para pengusaha. Yaitu penangguhan pembayaran angsuran baik pokok maupun bunga selama enam bulan terhitung sejak Maret.

Kedua, pembebasan penalti berupa bunga maupun denda bagi selama enam bulan terhitung sejak Maret.

Ketiga, mereka meminta perusahaan pembiayaan tidak melakukan tekanan maupun penarikan unit mobil selama pandemi berlangsung.

Tak dapat berbuat banyak, OJK berjanji mengupayakan mediasi dengan perusahaan pembiayaan yang terkait. Namun pada pertemuan kedua, para pengusaha hanya berhadapan dengan ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indoneisa (APPI) Surakarta.

“Dari tiga poin itu hanya yang ketiga yang dikabulkan. Itu pun dengan syarat kita harus mengajukan restrukturisasi. Entah itu disetujui atau belum, yang penting mengajukan dulu,” kata Sekretaris Paguyuban, Winoto. Tim

 

 

(Joko)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *