OPINI: Kembali Pada Fitrah Diri

Oleh : Lukita Dinarsyah Tuwo

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Saudaraku,

Alhamdulillah tahun ini kita bertemu lagi dengan Hari Raya Idul Fitri.
Meski masih dalam kondisi wabah Covid-19, kekhidmatan dan keriangan hari raya tidak sirna. Kita semua, umat muslim, tetap menyambutnya dengan penuh suka cita. Kita menyebutnya sebagai Hari Kemenangan. Shoimin dan shoimat terlahir kembali sebagai orang-orang yang menang mengendalikan hawa nafsu setelah sebulan penuh berpuasa. Di bulan Ramadhan, kita melakukan jihad akbar mengendalikan hawa nafsu.

Pada Hari Raya Idul Fitri kali ini, meski sebagian besar kita tidak bisa mudik,
Jalinan silaturahim dengan orang tua dan sanak saudara tetap terjaga, melalui berbagai teknologi komunikasi yang tersedia.

Saudaraku,
Kebahagiaan di Hari Raya ini ialah kebahagiaan karena kita kembali pada fitrah diri.
Pada asal muasal tujuan penciptaan kita sebagai makhluk ciptaan-Nya.

Apakah tujuan penciptaan itu? Ialah untuk beribadah, mengabdi kepada Allah SWT, sebagaimana firman-Nya, “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku” (QS. al-Dzariyat: 56)

Ibadah ini adalah tujuan fitrah penciptaan manusia.
QS. al-A’raf: 172 menjelaskan, “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka, dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”.

Saudaraku,
Ayat ini menjelaskan bahwa dulu di masa ketika kita diciptakan (di alam Ruh), kita ditanya oleh Allah, “Apakah Dia Tuhan kita?” Jiwa-jiwa kita lalu menjawab, “Benar, Engkau Tuhan kami”. Ini kesaksian kita dalam kondisi fitri. Hidup kita selanjutnya ialah untuk membuktikan apakah kita ini saksi yang lurus, ataukah saksi palsu?

Di dalam jiwa yang murni (fitri) inilah, kita diminta oleh Allah untuk senantiasa menghadapkan diri pada agama-Nya yang merupakan fitrah manusia (QS. al-Rum: 30). Ini artinya, menjadi Muslim ialah menjadi seseorang yang hidup sesuai fitrahnya. Barangsiapa tidak hidup sesuai fitrah, ia hidup tidak sebagaimana asal tujuan penciptaan.

Lalu apakah yang dimaksud dengan “agama fitrah” itu? Yakni Islam, yang berarti tunduk kepada ketentuan dan kehendak Allah, agar kita selamat dan menemukan kedamaian.

Saudaraku,
Di hari yang fitri ini, kita diminta untuk mencapai kedamaian.
Caranya dengan saling memaafkan kesalahan diri dan sesama.
Kertas kembali putih, hubungan kita baik dengan Tuhan maupun dengan manusia, kembali seperti bayi.

Selamat merayakan Idul Fitri 1441 H. Selamat Bersuka Cita. Mohon maaf lahir batin.

Taqabbal Allah minna wa minkum, Taqabbal Ya Karim.

Wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

(Penulis: Mantan Kepala BP-Batam)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *