Menag Wacanakan Buka Masjid saat Kasus Covid-19 Bertambah 686, MUI: Menjaga Jiwa Umat Lebih Utama

Menag Wacanakan Buka Masjid saat Kasus Covid-19 Bertambah 686, MUI: Menjaga Jiwa Umat Lebih Utama. Foto : (ist)

 

FOKUSLINTAS.com – Menteri Agama, Fachrul Razi segera menerbitkan pedoman beribadah di era new normal. Rencana itu disampaikan usai rapat terbatas dengan Presiden Joko Widodo, Rabu (27/5/2020).

Majelis Ulama Indonesia (MUI) memilih lebih berhati-hati. Apalagi tingkat penularan virus corona masih tinggi. Terbukti dari data yang disampaikan pemerintah setiap hari. Belum ada tanda-tanda menurun.

Pada Rabu (27/5/2020), Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto mengumumkan total kasus positif Covid-19 menjadi 23.851.

Kembali terjadi penambahan 686 pasien positif Covid-19 di seluruh Indonesia. Data pasien meninggal juga bertambah 55 orang. Kini totalnya menjadi 1.473 orang.

Khusus di Sulawesi Selatan, kembali bertambah 29 pasien positif Covid-19. Hingga Rabu (27/5/2020), totalnya kini menjadi 1.381 kasus.

Atas kondisi tersebut, Majelis Ulama Indonesia (MUI) sementara melakukan evaluasi terhadap efektivitas aturan pemerintah di masa pandemi selama ini. Setelah itu MUI akan memberikan rekomendasi kepada pemerintah.

“Kita tidak mau terburu-buru,” kata Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) bidang fatwa, KH Sholahuddin Al Aiyub, di Jakarta, Rabu (27/5/2020).

Menurut dia, keselamatan jiwa masyarakat harus diutamakan daripada kepentingan-kepentingan yang lain, bahkan kepentingan masalah keagamaan sekalipun.

Ia juga mengingatkan, dalam hal masalah keagamaan itu ada alternatif lain yaitu alternatif rukhsoh.

“Sementara kalau untuk menjaga jiwa masyarakat atau umat Islam itu tidak ada alternatif lain. Maka dalam hal ini, MUI ingin mendahulukan itu (perlindungan jiwa masyarakat). Kesimpulan seperti apa, saat ini masih digodok,” katanya.

Menurut Sholahuddin, perlu pendekatan yang lebih mikro dan bukan secara nasional untuk memastikan apakah suatu daerah bisa melaksanakan aktivitas keagamaan di rumah ibadah pada era new normal nanti.

“Kondisi daerahnya seperti apa, tingkat penyebarannya seperti apa, karena ini variabel yang penting,” lanjut dia.

Dia mengaku heran dengan kurva kasus Covid-19 yang masih menunjukkan tingginya penularan. Padahal, tingkat kepatuhan dan pemahaman masyarakat terhadap protokol medis sudah cukup bagus.

Contohnya pada saat melaksanakan salat Idulfitri akhir pekan lalu.

“Kita mendapat laporan, aspek protokol kesehatan menjadi pertimbangan utama para jemaah untuk melakukan salat Id,” ujar dia.

Sholahuddin menjelaskan, banyak kalangan Muslim saat itu yang tidak menggelar salat Id dalam kapasitas yang besar. Mereka menggelar salat Id di lingkup yang kecil seperti di area perumahan dengan membagi per blok atau cluster.

Dalam kondisi demikian, Sholahuddin mengakui, memang seharusnya ada dampak terhadap kurva kasus Covid-19. Tetapi nyatanya, masih belum berdampak pada penurunan grafik penularan Covid-19. Bahkan masih tinggi.

Karena itu dia mengatakan, MUI ingin mengkajinya secara mendalam.

Menurut dia, variabel kepatuhan protokol medis sudah bagus tetapi kok penularan masih tinggi, ini sebenarnya karena apa. Informasi-informasi ini akan menjadi pertimbangan yang penting untuk merumuskan rekomendasi MUI kepada pemerintah.

 

 

 

Kont : Taal

Source : Gelora

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *