OPINI: “Sinau Bareng” Makna Tentang Suro Diro Joyodiningrat Lebur Dening Pangastuti

Foto : dok (Mbah Memet/Fokuslintas.com)

 

 

FOKUSLINTAS.com – Suro Diro Joyodiningrat Lebur Dening Pangastuti artinya adalah segala sifat angkara murka hanya dapat dikalahkan dengan kebajikan atau kebaikan.

Makna kalimat tersebut menjadi berbeda ketika dipisah-pisah menjadi kata-kata tersendiri. Namun jika dirangkai, artinya adalah angkara murka akan musnah dengan kebaikan atau kebajikan.

Asal-usul kalimat itu berasal dari seorang pujangga keturunan Kasunanan Surakarta, Ronggo Warsito yang ditulis dalam sebuah tembang Kinanthi.

Beliau bukan orang sembarangan. Leluhur beliau sudah sejak lama mengabdi di Keraton Surakarta sebagai seorang pujangga yang mencatat sejarah kelam Nusantara agar menjadi pembelajaran bagi generasi penerus bangsa.

Seperti kita tahu, sejarah Jawa-Nusantara selalu diwarnai perang antarsaudara yang berdarah-darah demi tahta. Mirip seperti kisah Mahabharata antara Pandawa dan Kurawa.

Dalam konflik yang mempengaruhi nasib peradaban manusia, dipastikan ada sifat angkara murka, licik, picik, keras hati. Dalam sejarah pewayangan, sifat ini tercermin dari Prabu Duryudhana dan saudara-saudaranya.

Hal ini juga tercermin dalam politik. Ada dari mereka yang serakah hingga menghalalkan segala cara, termasuk menciptakan permusuhan dan kehancuran demi sebuah tujuan: harta, tahta dan kalau perlu wanita.

Dan sejarah itu sepertinya selalu saja terulang dalam setiap wangsa, zaman, atau peradaban dari suatu kerajaan. Dari pemahaman yang mendalam akan hal tersebut, Ronggo Warsito lantas menuliskan pepatah bijak.

Pepatah yang mengingatkan kepada generasi penerus bangsa dan anak cucu, bahwa betapa kuat apapun kita, betapa hebat apapun kita, jika berada di pihak kejahatan yang mengumbar angkara murka, maka suatu saat kelak pasti akan kalah dengan pihak yang membela kebenaran.

“Makna Suro Diro Joyoningrat Lebur Dening Pangastuti”

Jika diwedar atau diurai menjadi kata per kata, maka artinya sebagai berikut:

Suro artinya adalah keberanian. Setiap manusia pasti memiliki sifat ini. Jika dibiarkan, makan sifat ini dapat saja mengarah kepada ketidakbenaran.

Diro artinya adalah kekuatan. Setiap manusia punya potensi kekuatan luar biasa jika diberdayakan, baik lahir maupun batin.

Joyo artinya adalah kejayaan atau jaya. Jika seseorang mengalami kejayaan, bisa saja menjadi angkuh dan sombong hingga sewenang-wenang.

Ningrat artinya adalah darah biru atau bisa juga bermakna banyak harta. Menggambarkan seorang pejabat yang memiliki wewenang.

Lebur artinya adalah hancur atau musnah. Dapat pula diartikan sebagai menyerah, tunduk, sirna atau hilang.

Dening artinya adalah dengan. Bahasa ini diserap dari bahasa Jawa modern sebagai kata penghubung.

Pangastuti artinya adalah kebaikan, kebajikan, kebenaran atau kasih sayang. Dewasa ini jarang sekali orang yang berpijak pada pangastuti, sehingga slogan ini mengingatkan kembali untuk selalu berpedoman pada pangastuti, semakna dengan dharma atau kebaikan.

Nah, jika dirangkai menjadi kalimat, kata per kata itu memiliki makna yang dirangkai menjadi sebagai berikut:

“Kekuatan, kejayaan dan kewenangan dapat hancur dengan kebajikan”

Maksudnya, betapapun kita ditopang dengan kekuatan, kejayaan dan kewenangan (seorang ningrat), jika digunakan untuk kejahatan, maka akan musnah dengan kebaikan, kebenaran dan kasih sayang.

Slogan Suro Diro Joyoningrat Lebur Dening Pangastuti juga mengingatkan kita untuk mengingatkan kepada kita bahwa sekuat apapun manusia, kalau berada di jalur kejahatan, angkara murka, maka hancur juga dengan kebajikan.

(Memet)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *