OPINI: Orang Hidup Jangan Berjiwa Seperti Pepatah “Bagai Kacang Lupa Kulitnya”

Foto: Abah Syarif Hidayatulloh (dok/fokuslintas.com)

 

FOKUSLINTAS.com – Menjaga agar tetap hidup bermartabat, tidak harus berarti mengumpulkan harta sebanyak banyaknya ataupun mengoleksi sebaris titel A sampai maupun meraih Gelar atau Nama yang menggiurkan. Karena martabat seorang manusia sesungguhnya tidaklah ditentukan oleh semuanya itu.

Martabat adalah bagian yang tidak terpisahkan dari harkat diri kita sebagai manusia yang berbudi luhur. Salah satu sisi yang sering membuat orang terjerumus dan kehilangan martabat diri, adalah “LUPA DIRI“.

Seperti kata pribahasa” Bagai kacang lupa pada kulitnya” yang esensialnya adalah :” Jangan pernah melupakan budi orang yang sudah mengantarkan kita menjadi sukses”

Karena bilamana hal ini dilakukan, maka hati nurani kita akan mengutuki diri sepanjang hidup dan akibatnya sebanyak apapun harta yang berhasil dikumpulkan, entah karena alasan apa, akan punah.

Begitu juga ketenaran yang berada dalam genggaman tangan, akan menyurut, memudar dan akhirnya sirna.

Disinilah hukum tabur dan tuai menunjukkan, bahwa di dunia ini tak seorang pun akan luput dari hukum ini, “siapa yang menabur, maka ia akan menuai”.

Yang menabur benih tidak tahu membalas budi, maka alam akan melakukan pembalasan berlipat kali lipat.

Mengapa bisa terjadi demikian? Apakah masih berlaku kutukan seperti legenda Si Malin Kundang yang mendurhakai ibu kandungnya dikutuk menjadi batu?”

Logikanya sesungguhnya sangat sederhana. Apapun yang keluar, akan kembali berlipat ganda, baik positif maupun negatif. Yang dapat dianalogikan seperti ketika kita berada di sebuah lembah. Bila kita berteriak :” Kamu gilaaa “ Maka suara kita akan beresonansi dan dalam sedetik kemudian alam akan memantul ulangkan apa yang sudah kita teriakkan, yakni :” Kamu gila, kamu gila, kamu gila… gilaa.. !”

Sebaliknya, bila kita mengatakan sesuatu yang positif, misalnya :” Kamu sukses !”Maka sedetik kemudian, suara kita akan beresonansi dan alam akan mengembalikannya dalam bentuk gaungan :” kamu sukses…kamu sukses..sukses,,,sukses!”

“Hidup Tidak Luput Dari Hukum Resonansi”

Hukum resonansi itu nyata dan faktual. Apa saja yang kita lakukan, baik yang tampak oleh orang lain, maupun yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi tak akan pernah luput dari hukum resonansi.

Bila kita menolong orang dengan ikhlas, mungkin saja orang yang kita tolong, tak akan pernah memiliki kesempatan untuk menolong kita. Tapi pasti akan ada saatnya orang lain yang mungkin sama sekali tidak dikenal yang akan menolong kita dalam kondisi dan situasi yang membahayakan kehidupan kita.

“Sepotong Pengalaman Hidup”

Dalam perjalanan hidup, seringkali dalam kondisi bahaya dan kritis, kita ditolong oleh orang yang sama sekali tidak di kenal.

Umpamanya, ketika kita tenggelam di sungai dan dilaut dan ketika single accident, Kita terkapar tidak sadarkan diri di jalan raya.

Peristiwa peristiwa inilah yang kita jadikan pelajaran hidup, bahwa tidak ada perbuatan baik yang sia sia. Tidak percuma kita sering membantu orang yang sedang dalam membutuhkan pertolongan, walaupun orang yang kita tolong, bahkan tidak tahu, bahwa kita yang menolongnya. Ternyata ada waktunya, kita juga ditolong orang yang tidak kita kenal.

Intinya adalah sekecil apapun pertolongan orang kepada kita, apalagi bila ada orang yang telah berbaik hati membantu kita menemukan jalan untuk menuju kepada kesuksesan, jangan pernah kita menjadi seperti kacang lupa pada kulitnya.

Mungkin kita tidak dapat membalas kebaikan orang yang sama, tapi kita dapat mengaplikasikan rasa terima kasih kita, dengan menerapkan hidup saling tolong menolong kepada siapapun.

Menolong orang adalah menolong diri sendiri. Berbuat baik kepada orang lain adalah berbuat baik untuk diri kita sendiri. Karena apapun yang kita lakukan, akan beresonansi pada alam semesta dan akan kembali lagi kepada kita dengan berlipat ganda.

 

( Abah Syarif Hidayatulloh )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *