Kebijakan di Tengah Pandemi, Walikota Solo: Serba Salah


Wali kota Solo, FX Hadi Rudyatmo (foto: tim)

 

FOKUSLINTAS.com – Menyusun kebijakan di tengah Pandemi Covid-19 bisa dibilang ibarat memakan buah simalakama. Sebagian warga mendesak Pemerintah Kota (Pemkot) Solo mengizinkan anak-anak berkegiatan di luar rumah di tengah pandemi. Sebagian lain menginginkan sebaliknya.

Mereka yang menginginkan anak-anak diizinkan berkegiatan di luar beralasan kerepotan mengurus anak yang jenuh karena terlalu lama di dalam rumah. Mereka menilai pembatasan tersebut tidak akan efektif selama orang tua masih beraktivitas seperti biasa.

“Orang tua keluar ke mana-mana, sampai rumah tetap saja bisa menulari anaknya. Apalagi kalau dipikir kan aneh, orangtua bisa belanja ke mall, boleh mengunjungi kebun binatang, tapi anaknya tetap di rumah,” kata salah satu orang tua, Rudyantoro.

Sebaliknya, mereka yang mendesak Pemkot mempertahankan larangan kegiatan luar rumah untuk anak-anak mengkhawatirkan keselamatan anaknya. Bagi mereka, upaya sekecil apapun sangat berarti.

“Kalau itu mengurangi kemungkinan anak saya tertular, ya akan saya lakukan. Daripada terjadi apa-apa,” kata orang tua lain, Asih Sumastrini.

Pemkot sendiri sempat membolehkan anak di atas lima tahun mengunjungi pusat perbelanjaan awal pekan ini karena desakan orang tua. Pendukung pelonggaran aktivitas menyambut gembira kebijakan tersebut. Sementara mereka yang pro pengetatan memprotes.

“Sudah bagus seperti kemarin-kemarin kok malah sekarang boleh ke mal,” kata Asih menyayangkan.

Walikota Solo, FX Hadi rudyatmo mengaku serba salah menghadapi warganya.

“Diizinkan salah, tidak diizinkan ya salah. Kalau begini kan apapun kebijakan yang saya buat pasti diprotes,” kata Rudy.

Kamis (25/6) lalu, satu anak usia 12 tahun terkonfirmasi positif Covid-19. Pemkot buru-buru merevisi batasan usia anak yang boleh beraktivitas di pusat belanja dan pasar tradisional dari 5 menjadi 15 tahun. Rencananya, kebijakan terbaru itu dikeluarkan Senin (29/6).

“Sejak awal sudah saya sampaikan bahwa prioritas utama saya adalah menyelamatkan generasi penerus bangsa. Anak-anak ini lho. Makanya kan sekolah belum saya buka,” kata Rudy.

Batasan usia 15 tahun diharapkan menjadi jalan tengah bagi dua kelompok masyarakat yang memiliki pandangan berseberangan itu.

“Jadi tidak kita larang sepenuhnya, tapi juga tidak semua anak boleh (ke pusat belanja). Itu pun tidak boleh nongkrong. Mau beli apa, kalau sudah dapat ya sudah, segera pulang,” kata Rudy. (Tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *