Era Jaman Now, Nasib Alat Musik Gamelan Mulai Terkikis

Alat musik tradisional berusia 60-an tahun asal Kecamatan Polanharjo, Djoko Maduwiyoto. Foto : (dok)

 

FOKUSLINTAS.com, BUDAYA — Gamelan, terdengar tak asing namun kian jarang ditemui di tengah-tengah lingkungan masyarakat. Ungkapan itu yang terucap oleh seorang seniman alat musik tradisional berusia 60-an tahun asal Kecamatan Polanharjo, Djoko Maduwiyoto.

Di era tahun 1970-an, gamelan menjadi salah satu alat musik yang digemari banyak orang. Pada zaman itu, masyarakat rela berjalan kaki belasan kilometer hanya untuk menyaksikan dan menikmati secara langsung lantunan tembang tradisional yang diiringi musik gamelan.

Alunan musik gamelan yang bersuara lembut nan mengalir mencerminkan kehidupan masyarakat kala itu, hidup yang serba seadanya, namun tetap dijalani dengan rasa dan hati yang selaras. Mereka menyebutnya dengan kalimat sak madyo atau secukupnya.

“Ditengah-tengah kehidupan waktu itu hanya iringan musik gamelan yang sangat pas. Alunan tembangnya menunjukkan keselarasan hidup, pas-pasan tapi tidak gersulo (mengeluh),” ujarnya, beberapa waktu lalu.

Pada waktu itu, musik gamelan hampir terdengar setiap malam di berbagai lingkungan pedesaan. Bahkan alunannya menjadi bagian pengiring yang tak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Saban ada hajatan, musik gamelan disertai sinden seakan menjadi hal yang wajib.

“Setiap ada pernikahan, wayang dan pertunjukan lainnya pasti ada alat musik gamelan. Memang itu hiburan tersendiri bagi semua masyarakat waktu, baik orang tua, remaja hingga anak-anak,” imbuhnya.

Namun demikian, seiring berkembangnya zaman keberadaan gamelan mulai sayup sayup terdengar. Memasuki era tahun 2000, beragam jenis kesenian tradisional sudah mulai berkurang. Posisinya sudah bukan lagi menjadi primadona lantaran banyak alat musik modern mulai masuk.

Melansir sorot, kemajuan teknologi yang saat ini sedang gencar-gencarnya membuat kalangan anak muda sulit untuk menemukan pertunjukan gamelan. Hal itu bukan disebabkan alat musiknya yang hilang, melainkan tak adanya regenerasi para penabuh gamelan.

“Memang sampai saat ini masih ada, tapi bisa kita lihat pemainnya atau penabuhnya sudah sepuh-sepuh (tua) hampir diatas usia 50 tahun. Lalu nanti 10 tahun lagi nasibnya bagaimana? Ini yang perlu kita perhatikan, regenerasinya,” sambung dia.

Berangkat dari rasa keprihatinan itu, ia sedikit demi sedikit mulai merangkul anak muda untuk diajak berlatih menabuh gamelan. Mereka bebas memilih jenis alat musik yang digemari mulai dari kendang, bonang, demung, saron, gong, kempul, dan banyak lagi.

Meski demikian, menurutnya hal itu hanya bagian kecil dari upaya untuk kembali melestarikan alat musik gamelan. Dirinya memandang, salah satu cara yang dianggap jitu adalah mengenalkan alat musik tradisional sejak dini melalui kegiatan ekstra kulikuler di sekolah.

“Di awal tahun 2000 dulu banyak SD yang ada pelajaran praktek menabuh gamelan. Dulu sekolah tidak punya alat musik seperti itu, tapi mereka bekerjasama dengan sanggar seni. Setiap seminggu sekali anak-anak diajak ke sanggar,” kata dia.

Dirinya berharap, alat musik gamelan bisa terus dilestarikan seiring pesatnya kemajuan teknologi saat ini. Disisi lain, ia juga meminta agar anak-anak generasi millenial saat ini tidak memiliki rasa gengsi terhadap kesenian tradisional, sebab hal itu adalah bagian dari sejarah. ( Subanto)

Editor : Awi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *