OPINI : Air Beriak Tanda Tak Dalam

Foto : dok (Tim/Fokuslintas.com)

 

FOKUSLINTAS.com – Jika ada sebuah sungai, coba kita lihat dan perhatikan aliran airnya. Ketika arus air melalui daerah yang dangkal, penuh bebatuan dan pasir, biasanya ada di dekat hulu sungai di dataran tinggi, pasti akan terdengar suara gemericik air yang cukup keras.

Arus air kelihatan lebih deras, bergelombang, menimbulkan suara bergemuruh karena riak-riak air yang menggerus dasar pasir yang dangkal dan menghantam bebatuan yang dilewatinya. Semakin dangkal dan curam kemiringannya maka suara riak-riak arus air akan semakin berisik.

Ketika aliran sungai sampai di daerah pedalaman, atau dataran yang cukup landai, arusnya akan semakin kelihatan pelan dan tidak menimbulkan suara berisik. Tidak kelihatan ada riak-riak dari arus air karena melewati daerah yang dalam.

Air mengalir begitu tenang, padahal mungkin arus di dalamnya cukup deras. Hal ini tejadi karena dasar sungai yang cukup dalam, tidak ada bebatuan yang dilewati aliran air. Air akan terus mengalir melewati daerah aliran sungai yang semakin rendah menuju muara yang ujungnya bertemu dengan lautan.

Sekelumit cerita di atas mengingatkan saya pada pelajaran sekolah waktu SD dan SMP, ada peribahasa yang mengatakan, “Air Beriak Tanda Tak Dalam, Air Tenang Menghanyutkan“. Arti dari peribahasa ini adalah Orang terlalu banyak bicara menandakan seseorang itu tidak banyak ilmunya. Orang yang terlalu banyak berbicara adalah orang yang tidak terlalu paham masalah pembicaraannya.

Sebaliknya, orang yang makin berilmu, memahami dan memiliki kompetensi yang tinggi, akan semakin tenang dan semakin bijak. Orang seperti ini tidak banyak bicara, tidak banyak gaya, tidak banyak tingkah, tetapi jika mengerjakan sesuatu hasilnya keren dan tuntas. Nah…kita termasuk yang mana nich..???

Mengapa orang yang rendah ilmunya atau dengan kata lain kurang cerdas lebih cenderung ‘Belagu’? Sehingga ketika mengerjakan sesuatu, bisa jadi hasilnya tidak akan maksimal, jauh dari optimal. Orang seperti ini biasanya memiliki ciri-ciri berikut ini:

banyak bicara
banyak tingkah
banyak memerintah
banyak mengeluh
banyak mengkritik
banyak meminta

Semua tingkah laku di atas dilakukan justru untuk menutupi kekurangannya dan kedangkalan ilmunya. Dalam dirinya masih banyak batu-batu yang menghambat dirinya untuk berkembang.

Sahabatku fokuslintas.com, janganlah dipelihara batu itu dalam diri kita. Segera pecahkan dengan sekuat tenaga, walaupun usahanya akan sangat berat. Jika diperlukan, mintalah bantuan seseorang yang bisa memotivasi kita untuk memecahkan batu mental block dalam diri kita.

Batu-batu inilah yang menyebabkan banyak riak-riak dalam tingkah lakunya. Batu ini ibaratnya seperti hambatan mental (mental block) yang bersemayam kuat dalam dirinya. Mental block ini dengan kekuatannya akan mensabotase kesuksesan seseorang, akan menghalangi orang untuk berubah, istilah orang Jawa “nggondheli“. Akhirnya orang ini tidak suka perubahan, tidak berkembang, dan sudah barang tentu kurang produktif dalam pekerjaan.

Jika nantinya kita berhasil memecahkan atau memperkecil batu itu, kita akan merasakan perubahan yang luar biasa dalam kehidupan kita. Dan langkah pertama yang harus kita lakukan adalah segera menyadari keberadaan Batu Mental Block dalam diri kita, untuk selanjutnya mencari cara dan usaha untuk memecahkannya. Selamat mencoba..!!

 

SALAM REDAKSI

MEDIA FOKUS LINTAS

Tim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *