Sumber Mata Airnya Banyak di Manfaatkan Warga, Berikut Sejarah Sendang Pancoran Desa Bonagung Tanon Sragen

Foto: dok (fokuslintas.com/Awi)

 

FOKUSLINTAS.com – Sendang Pancoran terletak di Desa Bonagung Kelurahan Bonagung, Kecamatan Tanon Kabupaten Sragen. Beberapa tahun lalu sendang tersebut disulap menjadi kawasan edukasi dan pemanfaatan air minum untuk warga masyarakat Desa Bonagung.

Wahana religi mini ini dibangun di Sendang Pancoran, dan dipugar juga renovasi oleh Suwarno, Kepala Desa Bonagung Kecamatan Tanon Kabupaten Sragen.

Sejumlah warga di sekitar sendang kerap manfaatkan air untuk kebutuhan sehari-hari serta untuk pertanian. Pada sore dan malam hari beberapa warga juga seringkali menghabiskan waktu sambil menikmati suasana dan berbincang santai ditempat alami itu.

Masih banyak kesan mistis atau wingit di Sendang ini, kesan wingit terasa sekali di sekitar sendang, puluhan tahun silam. Pepohonan besar dan rumput liar tumbuh di sekitar sendang.

Foto: dok (Awi)

Pantauan tim fokuslintas.com yang langsung terjun di lapangan, saat bertemu Kepala Desa Bonagung mengungkapkan, kesan angker Sendang Pancoran sekitar ratusan tahun lalu. Kala itu, dia mengisahkan, warga akan berpikir dua kali untuk sekedar melintas dekat sendang.

“Sendang ini bermata air dengan sumber yang tiada habis, menurut cerita para sesepuh-sesepuh dulu memang sudah ada sejak jaman para wali. kala musim kekeringan tempat inilah yang dimanfaatkan warga sehari-hari untuk kebutuhannya,” ungkapnya kepada fokuslintas.com beberapa waktu lalu.

Kepala Desa Bonagung Tanon Sragen, Suwarno/Bontot. Foto: (Awi)

Kades Suwarno juga menambahkan, apalagi saat itu berkembang mitos miring tentang sendang yang airnya tak pernah mengering tersebut. Konon, dulu warga Desa Bonagung tidak berani hajatan sebelum nyadran ketempat Sendang Pancoran dulu, bahkan tradisi itu sampai sekarang.

“Warga sini kalau hajatan nyadran tempat sini mas, sudah tradisi sejak masa leluhur dulu. Pernah kejadian ada yang hajatan tidak nyadran langsung kesurupan ngoceh sendiri dan minta sesuatu untuk dibawakan kesendang pancoran ini.”ujarnya.

Foto: dok (Awi)

Kisah itu pun tak sengaja pun beredar luas di tengah masyarakat, dan menjadi keyakinan sampai sekarang.

Akhirnya kini keyakinan tersebut tidak hilang. Biarpun seluruh warga sudah mempunyai sumur di rumah masing-masing. Akan tetapi hanya dari Air Sendang Pancoran ini yang tak pernah habis.

Warga Desa Bonagung tersebut juga membuat bak tandon untuk menjadi stok dari sumber air (sumur) untuk kebutuhan keseharian.

Foto: dok (Awi)

Dilokasi Sendang Pancoran juga terdapat pohon berukuran raksasa penuh akar, ada jembatan penyangganyapun dari akar pohon itu, diameter pohon tersebut lebih dari satu meter.

Lantaran dalam kondisi Sendang yang teduh, warga tidak mengira pohon yang berusia tua dan dikenal wingit tersebut dibangun bersama oleh kerjasama dengan Kepala Desa Suwarno.

Kendati mempunyai sejarah wingit, Kades Suwarno mengatakan, saat ini Sendang Pancoran lebih bersahabat. Tidak pernah ada kejadian yang membuat warga dan anak-anak merasa takut saat beraktivitas di sekitar sendang.

Kades Suwarno mengakui dulunya keberadaan Sendang Pancoran sangat sentra bagi kehidupan masyarakat setempat. Bahkan selain menjadi sumber air, Sendang Pancoran menjadi bagian tradisi masyarakat.

“Salah satunya sebagai tempat penyelenggaraan prosesi adat sebelum pertemuan hajatan dan Dekahan Desa,”pungkas dia. ( Awi )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *