OPINI: Rekoso Mbok Jogeti Penak Sitik di Rasani, Terus Kudu Piyee..?

Foto: dok (Eka Awi/fokuslintas.com)

 

FOKUSLINTAS.com – Sebelumnya sapa khusus buat semua dan selamat datang khususnya kerabat fokuslintas.com, mari juga sambil menikmati kopi malam yang cerah dengan terangnya bulan ini. Pada judul di atas, bagi sebagian kita yang kebetulan wong Jowo tentu tidaklah asing lagi bukan.

Ungkapan seperti pada judul di atas, hampir serupa dengan ungkapan ‘Ojo podho nyacat wong liyo, Ngilo githo’e dewe’. yang berarti juga, “Anyel weruh muktine wong liyo, seneng ngomongne boroke wong liyo, bareng ono pituture kanggo wong nyacat mau mbanggel bengok-bengok”… ironis njeh…??

Ungkapan ini sejajar dengan nasihat ojo metani alaning liyan (jangan mencari-cari keburukan orang lain).

Obyek bahasa yang di sebutkan kalau di Indonesiakan adalah ‘Jangan senang mencela orang lain, berkacalah pada tengkuk sendiri atau diri sendiri, jangan pintarnya mencari buruknya orang lain tapi tak mau intropeksi diri”.

Istilah bagi orang jawa menyebut, Githok (Jawa) atau tengkuk ini seperti yang kita tahu adalah bagian leher paling belakang. Bagian satu ini termasuk sangat sulit terlihat, segede apapun cerminnya. Bagian satu ini mustahil untuk terlihat. Kecuali kalau kita ketukang cukur rambut atau kesalon yang kacanya ada didepan dan belakang itu.

Untuk pitutur seperti ini juga sama arti dengan pribahasa ‘Gajah bengkak di depan mata tak tampak, semut diseberang lautan tampak’.… catat niki nggih sobat fokuslintas.com. Jika melihat orang sukses, jadikan contoh juga teladan, jangan pintar omong dibelakang saja. Saat orang terpuruk, mari angkat bersama, jangan diketawakan apalagi jogeti.. murnikan hati untuk tidak menjadi manusia yang picik.

Kembali makna lain pada judul di atas secara harfiah adalah ‘ada pembicaraan membelakangi atau menggunjing’. Artinya juga bahasa kiasan atau pasemon (Jawa) untuk menggambarkan yang menyangkut suka mencari keburukan orang lain dan iri dengki melihat kesuksesan orang lain, (ngrasani eleking liyan, ngerti liyane seneng srei dengki). Waduh….mumet to iki…terus kudu piye jajal…..??

Dalam budaya manapun, perbuatan catur: nyatur, nyacat atau juga ngrasani (mempergunjingkan) orang lain adalah satu perbuatan tercela, karena dapat menimbulkan sakit hati pada orang lain yang dibicarakan.

Lalu pada umumnya pula, nyatur atau ngrasani(membicarakan) orang lain itu mengacu pada sudut kelemahannya atau sisi negatifnya, dan jarang membicarakan dari sudut kebaikannya karena tujuannya memang untuk menjatuhkan martabat ‘wong sing dirasani’ (orang yang dipergunjingkan).

Jamaknya seorang manusia yang lebih senang mencela orang lain, pada sisi lain justru enggan dan tidak mau mengerti tentang kesalahan sendiri. Tindakan itu sangat negatif karena dapat menimbulkan perselisihan, apalagi suka mengejek juga menertawakan orang lain ketika jatuh terpuruk itu adalah manusia yang berhati busuk.

Untuk yang pertama, tentunya hampir semua orang tidak suka dipergunjingkan keburukannya. Orang cenderung akan kecewa, sakit hati atau bahkan marah sewaktu orang lain ngrasani/menggunjing keburukan diri kita, keluarga kita, masyarakat kita yang secara norma hukum dan sosial tidak ada kaitannya dengan sang penggunjing.

Lantas membahas yang kedua, tindakan ngrasani sebagai tindakan tidak transparan. Sang penggunjing dapat melihat keburukan orang lain, tapi tidak berani mengatakan keburukan diri sendiri. Lebih jauh, seseorang cenderung tidak konsekwen, dapat atau mau melihat kesalahan orang lain sekecil apapun tetapi tidak mau melihat kesalahan diri sendiri walaupun kesalahan itu sangat besar.

Leluhur pendahulu Jawa telah memberikan wejangan atau nasihat agar seseorang tidak mempergunjingkan kesalahan orang lain. Ia lebih baik mengoreksi diri atau kesalahannya sendiri dengan harapan dapat memperbaiki perbuatannya, kesuksesan orang lain cermin memotivasi bukan kita untuk iri dengki. Akan tetapi, hal itu sudah pasti sulit dilakukan jika tidak didasarkan pada sikap lembah manah (rendah hati).

Banyak orang jawa ilang keperwirane, wejangan tersebut disampaikan dengan ungkapan “wong iku ora bisa ngilo githoke dhewe” (seseorang itu tidak dapat berkaca pada punggung sendiri). Maksudnya, seseorang itu tidak dapat melihat kesalahan diri sendiri, dan justru pandai melihat kesalahan orang lain dan tak mau ambil indah juga hikmahnya.

Sanepan lainnya yaitu ungkapan “Ono Catur Mungkur” menganjurkan kita untuk tidak membicarkan kelemahan orang lain. Jika ada orang lain yang mengajak dirinya untuk membicarakan kelemahan orang lain, jika ada orang yang sengaja menyeret kita untuk mempermasalahkan kelemahan orang lain, segeralah menghindar. Segeralah untuk mungkur (menghindar) dari pembicaraan tersebut.

Dalam arti lain cermin adalah kaca yang dapat menampakkan sesuatu yang ada di depannya. Apa yang terlihat di cermin sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Namun tidak mungkin orang bercermin pada punggung sendiri. Punggung jelas bukan cermin sehingga tidak mampu memperlihatkan kesalahan yang telah diperbuat pada waktu sebelumnya.

 

 

SALAM REDAKSI

 

EKA AWI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *