Jejak Keraton Pajang, Ini Makam dan Silsilah Joko Tingkir di Plupuh Sragen

Makam Joko Tingkir di Dukuh Butuh Kecamatan Plupuh Sragen. Foto: (Awi)

 

FOKUSLINTAS.com – Tidak banyak yang mengetahui lokasi Makam Jaka Tingkir atau Sultan Hadiwijaya, raja pertama sekaligus pendiri Kerajaan Pajang. Tidak seperti makam raja-raja Solo dan Yogyakarta yang dikenal banyak orang dan selalu ramai dikunjungi peziarah, makam Jaka Tingkir jauh berada di pelosok perkampungan warga.

Meski sehari-hari sepi pengunjung, namun tempat pemakaman bersih dan sangat terawat. Lokasinya berada di Dukuh Butuh, Desa Gedongan, Kecamatan Plupuh, Sragen, Jawa Tengah. Jika menuju kesini sebaiknya menggunakan bantua Google Maps karena letaknya jauh dari kota dan banyak sekali perempatan jalan yang akan dilewati.

Aziz, juru kunci makam, menyarankan peziarah agar datang dari arah Masaran atau Gemolong, menurutnya jalan dari dua daerah tersebut dianggap lebih mudah ketimbang dari arah lainnya. Dan jangan sungkan untuk tanya penduduk, mereka dengan senang hati akan memberi petunjuk arah.

Komplek pemakaman Jaka Tingkir dinamakan Makam Butuh yang ditandai dengan bangunan masjid. Masjid Butuh ini dulunya adalah langgar atau mushala yang didirikan oleh Ki Ageng Butuh, cikal bakal keberadaan Dusun Butuh.

Makam Jaka Tingkir di Dusun Butuh Sragen, Jejak Terakhir Raja Pajang
Gerbang komplek pemakaman

Sekitan tahun 1930, Paku Buwono X melakukan pemugaran makam dengan membangun tembok di sekeliling makam dan meninggikan nisan karena waktu itu masih sering banjir tahunan yang menggenangi makam. Lokasi makam ini tidak jauh dari Sungai Bengawan Solo yang hampir setiap tahun airnya meluap.

Di dalam bangunan gedong terdapat 17 makam yang sebagian besar kerabat Jaka Tingkir. “Selain 17 makam itu, juru kunci juga diberi hak untuk dimakamkan di situ,” kata Aziz, yang meneruskan tugas ayahnya sejak tahun 2007.

Pria berusia 38 tahun yang juga alumnus Universitas Gadjah Mada Jurusan Elektro itu mengatakan seluruh komplek makam dikuasai oleh Keraton Surakarta. “Termasuk tugas juru kunci juga diangkat oleh pihak keraton,” tambah Aziz.

Makam Jaka Tingkir di Dusun Butuh Sragen, Jejak Terakhir Raja Pajang
Masjid Butuh

Sejarah Makam Butuh

Nama Butuh diambil dari Ki Ageng Butuh atau Ki Ageng Kebo Kenongo, ayahanda Raden Jaka Tingkir. Ki Ageng Kebo Kenongo mulanya adalah adipati Pengging, wilayah yang masuk kekuasaan Kesultanan Demak.

Di akhir kekuasaannya, Ki Ageng Kebo Kenongo meninggalkan Pengging untuk mencari ketenangan dan kedamaian batinnya. Bersama sang istri berangkatlah Ki Ageng ke arah timur dan sampailah di daerah yang masih hutan, hanya ada beberapa penduduk yang tinggal di daerah itu.

Lalu Ki Ageng Kebo Kenongo memutuskan untuk tinggal di situ dan memperkenalkan dirinya kepada penduduk dengan nama Butuh.

Namun, lama kelamaan orang-orang kampung akhirnya mengetahui bahwa Ki Ageng Butuh adalah ayahanda Raden Mas Jaka Tingkir. Sejak saat itu Ki Ageng selalu didatangi orang, baik dari sekitar kampung maupun dari luar daerah. Di sini, Ki Ageng butuh mengajarkan kepada masyarakat pendidikan tentang ketuhanan dan kemasyarakatan.

Makam Ki Ageng Kebo Kenongo, ayahanda Jaka Tingkir
Makam Butuh:
1. Ki Ageng Kebo Kenongo
2. Nyi Ageng Kebo Kenongo
3. Sultan Hadiwijaya atau Raden Jaka Tingkir atau Raden Mas Karebet
4. KP Benowo
5. KP Monco Negoro
6. K. Tmg. Wilomarto
7. K. Tmg. Wuragil
8. KP Tedjowulan
9. KRt. Kadilangu
10. KPH Sinawung
11. KR Adi Negoro
12. Garwo
13. RAy. Pagedongan
14. Ray. Kodok Ijo
15. KA Ngerang
16. Nyi Ageng Ngerang
17. KPH Mas Demang Brang Wetan

Singkat cerita, setelah menjadi Raja Pajang kurang lebih selama 40 tahun, Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir menanggalkan kekuasaannya dan ingin mendekatkan diri kepada Sang Maha Penguasa. Kemudian ia pergi ke dusun orangtuanya yang berada di tepi Sungai Bengawan Solo, yaitu Dusun Butuh.

Dan di Butuh ini Sultan Hadiwijaya menghabiskan sisa umurnya untuk mendapatkan ketenangan jiwa dengan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Ia meninggal dan dimakamkan satu komplek bersama kedua orangtuanya.

( Eko Awi )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *