Mahfud Md: Bangsa Dituding Kehilangan Karakter, Buktinya Ada Korupsi-Hoax


Mahfud Md: Bangsa Dituding Kehilangan Karakter, Buktinya Ada Korupsi-Hoax. Source: (dtk/ist)

 

FOKUSLINTAS.com – Menko Polhukam Mahfud Md mengatakan ada tudingan bangsa Indonesia sudah kehilangan karakternya. Karakter bangsa Indonesia, kata Mahfud, adalah yang bersumber dari Pancasila.

Hal ini diungkapkannya dalam Konferensi Forum Rektor Indonesia 2020 bertema ‘Optimalisasi Gerakan Merdeka Belajar untuk Menghadapi Revolusi Industri 4.0 Demi Terwujudnya SDM Unggul dan Indonesia Maju’ yang disiarkan secara virtual melalui YouTube IPB TV pada Sabtu (4/7/2020). Awalnya dia menjelaskan pengertian tentang jati diri.

“Ada yang bilang kita ini sekarang sudah kehilangan jati diri dan karakter yang bersumber dari budaya adi luhur yang bersumber dari Pancasila. Benarkah budaya dan karakter kita memang baik? Ini satu pertanyaan karena saat ini kita sebagai bangsa dituding kehilangan karakter,” kata Mahfud dalam paparannya.

Mahfud melanjutkan, hilangnya jati diri Pancasila bersumber dari adanya praktik-praktik di masyarakat yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Misalnya seperti tindakan korupsi, adanya hoax, hingga praktek demokrasi transaksional.

“Ya buktinya ya ada budaya korupsi kata Pak Hatta (Wapres ke-1 Mohammad Hatta, red) dulu. Kemudian kita suka saling tuding suka membuat hoax, suka melakukan demokrasi yang transaksional di mana demokrasi itu diperjualbelikan dijadikan alat kesepakatan dalam proses politik yang dilegalkan untuk mengesahkan sebuah perbuatan-perbuatan koruptif yang itu banyak buktinya,” sambungnya.

Mahfud juga mengatakan beberapa pihak saat ini juga mulai meminta Indonesia untuk mencontoh negara lain. Salah satunya negara Jepang yang dianggap berhasil membuat konsep pencegahan korupsi.

“Malah kita itu sekarang mulai diajak oleh tokoh-tokoh kita ‘ayo dong bercermin pada karakter dan jati diri bangsa Jepang. Tuh hebat tuh katanya mereka membuat konsep pencegahan korupsi dengan budaya malu yang tinggi,” ucap Mahfud.

Lebih lanjut, Mahfud mengimbau agar pendidikan saat ini tidak hanya mencerdaskan manusia secara kognitif, namun harus juga mencerdaskan kehidupan bangsa. Menurutnya, tidak hanya keahlian saja namun karakter juga harus dibentuk.

“Pendidikan kita itu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa bukan untuk mencerdaskan otak tapi mencerdaskan kehidupan itu ada di dalam Pembukaan UUD kita. Oleh sebab itu kita tidak bisa hanya mendorong dia hanya punya skill ini itu. Tapi kehidupan yang dicerdaskan karena kalau hanya lihat skill dan sebagainya itu otak. Sementara kita harus membina watak untuk karakter itu,” ujar Mahfud.

Mahfud kemudian meminta juga agar universitas tidak hanya mencetak sarjana namun harus menghasilkan sarjana yang berhati mulia. Menurutnya hal ini pun sudah tertuang di Undang-Undang Dasar 1945.

“Dulu Pak Prof Sardjito pernah katakan universitas jangan hanya hadirkan sarjana dong, tapi juga hadirkan sarjana yang sujana, yang baik hati yang budiman, bukan hanya pintar terampil, tapi hatinya mulia. Dalam pasal 31 UUD kita dikatakan pendidikan kita dimaksudkan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi itu otak. Berdasarkan iman dan taqwa itu akhlak. Tidak bisa dipisahkan,” tutur Mahfud.(*)

Editor: Adm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *