OPINI: Ditusuk Dari Belakang dan Pengkhianatan Mengajariku Tentang Arti Perjuangan

Foto: dok (Y. Ananda/fokuslintas.com)

 

FOKUSLINTAS.com – Lagi-lagi tentang perjuangan yang diabaikan, ketulusan yang tak lagi ada nilai harganya, konsekwen yang dipandang sebelah mata, sehingga timbullah makna pengkhianatan menggoyahkan komitmen yang sudah terjalin lama.

Sejenak jalankan alur inspirasi ditemeni kopi dan rokok dulu ya guys.. okey sekarang dimulai, diawali soal menikam dari belakang atau menusuk dari belakang dan bermuka dua adalah sebuah idiom yang digunakan untuk menggambarkan pengkhianatan seorang patner, rekan, teman, sahabat dan saudara sampai orang khusus.

Ciri-ciri seorang pengkhianat seperti itu biasanya saat didepan kita dia terlihat seperti baik-baik saja, bersikap sopan, hormat, menghargai, membela dan menyayangi kita. Tetapi di belakang ternyata mencaci-maki, mengolok-olok, menfitnah bahkan menjatuhkan kita dari belakang sampai juga tega menikung kita…kampret celeng juga ya guys…??

Sakit hati dan kecewa itu pasti, namun bagaimanapun sakitnya setidaknya perjuangan yang diabaikan mengajarkan kita untuk tak lagi salah dalam memperjuangkan, memilah teman, lalu sedikit belajar untuk tetap mensyukuri kekecewaan yang melanda, karena dibalik itu pasti ada pelajaran berharga tentunya….tentunya menyisakan pisuhan yang indah…he…he…

Dalam menjalani hidup ternyata kejadian seperti ini sering terjadi dikehidupan, baik yang dilakukan perorangan maupun kelompok. Sebab dari renyuh hati yang kita rasakan pasti akan kita dapatkan kebaikan tidak terduga dari-Nya, yang nantinya akan membuat kita tidak henti-hentinya bersyukur dibalik ulah para kampret penikam dan pengkhianat kita.

Semboyan diatas adalah motivasi dalam opini membakar semangat, biarpun kadang tidak semudah yang kita bayangkan menyikapi keadaan dan terkadang kita masih sangat tidak terima atau marah menerima kenyataannya.

Padahal bila dipikir secara lunak, untuk apa marah…cuma sekelas celeng juga, kan buang energi?? Tersadar sudah, karena apapun yang memang tidak dapat ridho pasti akan diberi jalan untuk pergi dari kita, meski kita sendiri sudah berharap baik. Akhirnya, yang bisa dilakukan tak perlu ada yang disesali, karena bagaimanapun buruknya dari kejadian itu akan dapat pembelajaran banyak hal.

Kemudian, sampai-sampai saking banyaknya macam pengkhianatan, istilah menusuk dari belakang atau teman bermuka dua bisa di bagi kedalam banyak tipe berdasarkan tindakan pengkhianatan yang dilakukannya.

Dalam bahasa keren, ada istilah kata pengkhianatan One to One yang bermakna menggambarkan praktik ‘menikam dari belakang’ atau seorang bermuka dua yang dilakukan seseorang kepada seseorang yang lain.

Misalnya menjelekan sahabatnya sendiri, memfitnah teman/sahabatnya sendiri, merebut hak teman/sahabatnya sendiri, memacari pacar teman/sahabatnya sendiri, menjatuhkan reputasi teman/sahabatnya sendiri dan sebagainya.

Istilah lainnya yaitu disebut pengkhianatan One to Many, dimana menggambarkan praktik ‘menusuk dari belakang’ yang dilakukan seseorang kepada sekelompok orang, lembaga, organisasi atau perkumpulan.

Contohnya seorang karyawan yang menjelekan intansi/lembaga tempat dia bekerja pada orang lain, seorang karyawan yang menjelek-jelekan teman-teman kerjanya pada orang lain atau intansi lain, seorang anggota organisasi yang menyebarkan informasi rahasia kepada pihak lain, seorang anggota organisasi yang mencaci-maki organisasinya dengan pihak lain, dan sebagainya.

Lantas berikutnya pengkhianatan Many to One adalah menggambarkan praktik ‘menikam dari belakang’ yang dilakukan oleh sekelompok orang, bisa lembaga, organisasi atau perkumpulan terhadap seseorang.

Misalnya sekumpulan orang-orang licik, picik dan iri yang ada di sebuah lembaga, intansi, perusahaan yang punya niat sama ingin menyingkirkan pemimpinnya dari lembaga tersebut. Atau sebuah partai politik yang anggota-anggotanya ingin menyingkirkan ketuanya dengan menghalalkan berbagai cara bahkan sampai melanggar hukum pun dilakukanya asal tujuannya tercapai untuk mengambil alih kepemimpinan.

Akhir kata, jiwa temuwo akhirnya keluar mengatakan, bahwa menjadi sosok yang legowo, menerima sesuatu dengan hati yang lapang dan untuk tak menyesali segala sesuatu berbau pengkhianatan memanglah berat. Terkadang pula juga bertempur melawan rasa bersabar, ikhlas, dan bentuk kamuflase memaafkan alias (memberi maaf biarpun lamis).

Kini berbesitlah hati kembali untuk kesekian kali, kemudian motivasi pun perlahan hadir, lalu disaat terus terpaku pada kejadian tidak menyenangkan yang menyayat hati disitulah terlukiskan pula berbagai gambaran juga imajinasi ini berkata: Ada apa, Kenapa, Siapa dia, Salah apa, Oke tunggu babak berikutnya?…..

Sejenak ketegaran hati bangkit dibuai sisa selimut kekecewaan, segelas kopi dan sebatang rokok dengan asap membumbung tinggi akhirnya menuai inspirasi dan sugesti baru. Sang gaib pun membisik halus… (Hey, leee….leng celeng…. hey, celeng meleko matamu….rapopo podo ngapusi aku…rapopo podo nikung ning mburiku..rapopo podo nyepelekne sopo aku…rapopo piceg ora nyawang aku…rapopo nusuk soko mburiku….tak tunggu wates lan apesmu)…..

Setelah luapan jiwa pejuang muncrat, pada sesi sulutan rokok kedua mulailah meluluhkan batin, budi pekerti dan akal sehat. Biarpun sisa-sisa kecaman tadi masih tersimpan dikotak khusus dalam dada, akhirnya terkias sudah saat sadar untuk sejenak meredam dan mulai berkata…. Tenanglah.. perjuangan, kesabaran, dan ketulusan yang pernah kita persembahkan kepada orang yang saat ini telah pergi tak akan pernah sia-sia di mata Tuhan, Dia akan membalas semuanya dengan sangat sempurna. Dia akan mengembalikan setiap kebaikan yang kita lakukan kepada kita dengan kebaikan yang lebih, yang nantinya akan membuat kita sadar bahwa kekecewaan yang hadir sebenarnya jalan untuk kita mendapatkan kebaikan-Nya.

Finish sudah isi memory kepala soal puitis di angan dalam menjawab semua uneg-uneg itu. Perlu diketahui, untuk menjangkau seseorang yang memang benar-benar mampu menjaga komitmen, seseorang yang benar-benar mampu menghargai ketulusan kita memang sulit serta perlu ekstra koalisi, hingga akhirnya kita lupa bahwa akhirnya ternyata merasakan kecewa yang sangat dalam.

 

 

( Y. ANANDA )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *