Akhirnya Dapat Titik Temu dan Tugu di Sragen Dipertahankan, Berikut 7 Point Kesepakatannya


Ratusan orang pengurus dari 10 perguruan pencak silat di Kabupaten Sragen menggelar musyawarah bersama pimpinan daerah di Gedung Paripurna DPRD Sragen, Senin (6/7/2020). Foto/Source: (Ist-Slc-Bgs)

 

FOKUSLINTAS.com – Akhirnya konflik perguruan silat di Sragen dapat mereda berdasarkan kesepakatan yang dicapai. Kemudian juga berdasarkan kesepakatan yang diperoleh berdasarkan diskusi yang digelar, Senin (6/7/2020) di gedung DPRD Sragen dimana ratusan tugu perguruan silat di wilayah  Sragen bisa dipertahankan juga melalui sebuah persyaratan.

Data yang dihimpun, bahwa diskusi itu difasilitasi Forum Komunikasi Pimpinan Daerah ( Forkompimda) Sragen. Adapun pesertanya yakni perwakilan pengurus ranting hingga cabang 10 perguruan silat di wilayah Kabupaten Sragen.

Sementara itu, terkait agenda dialog langsung dipimpin Kapolres Sragen, AKBP Raphael Sandhy Cahya Priambodo, dan digelar guna membahas nasib ratusan tugu perguruan silat. Pada dasarnya, pada awalnya ratusan tugu di Sragen bakal dihancurkan demi menjaga suasana tetap kondusif.

Kemudian melalui kesepakatan, pada akhirnya oleh Bupati Sragen memberikan kebijakan dan memutuskan mempertahankan tugu/patung perguruan pencak silat yang ada, namun dengan syarat warga perguruan silat dilarang menambah tugu/patung baru di tempat umum lagi.

“Saya ingatkan, terkait tugu atau patung perguruan pencak silat yang masuk di data kami ada sebanyak 193 buah. Saya mengambil kebijakan patung atau tugu tersebut tetap dibiarkan. Patung atau tugu tersebut dipelihara jangan sampai rusak,” terangnya.

Bupati Sragen juga mengimbau agar jika terjadi konflik antar perguruan silat untuk diselesaikan lewat forum diskusi. Pihaknya juga menegaskan Pemkab Sragen tidak akan mengizinkan dan melarang pembangunan tugu perguruan silat di lahan milik negara.

“Dalam hal ini, saya himbau untuk patung atau tugu yang sudah roboh pun dibiarkan tetap roboh tidak boleh dibangun lagi,” tegasnya.

Sementara itu, dalam diskusi tersebut juga telah menghasilkan tujuh poin kesepakatan yang ditandatangani semua peserta atau pengurus.

Adapun perwakilan 10 perguruan silat itu adalah PSHT Parluh 16, PSHT Parluh 17, Garuda Sakti, IKSPI Kera Sakti, Tapak Suci, Perisai Diri, Cempaka Putih, Persinas Asad, Pagar Nusa, dan Kumbang Malam.

Terkait isi kesepakatan itu juga ikut ditanda tangani oleh Bupati Sragen, Dandim 0725 Sragen, Kapolres Sragen, Kajari Sragen, Ketua PN Sragen, Ketua DPRD Sragen, Dayon Raider 408/SBH, dan Dansub Denpom Sragen.

Berikut isi kesepakatan hasil diskusi antara Forkompimda dengan perwakilan 10 perguruan silat:

Pada hari ini, Senin, 6 Juli 2020, yang bertanda tangan di bawah ini para pengurus perguruan pencak silat dan atas nama seluruh anggota/warga perguruan pencak silat yang tergabung dalam IPSI Kabupaten Sragen menyatakan sebagai berikut:

1. Berperan aktif menjaga kondusifitas wilayah Kabupaten Sragen dalam bidang keamanan, ketertiban dan ketentraman serta menjadi panutan yang baik di tengah masyarakat, sebagaimana tertuang dalam AD/ART tiap-tiap Perguruan Pencak Silat;

2. Pimpinan/Ketua Cabang beserta Para Pengurus siap bertanggung jawab dan bersedia dituntut sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku bilamana ada anggota/warga Perguruan Pencak Silat yang melanggar kamtibmas dan atas nama Perguruan Pencak Silat masing-masing baik secara pidana maupun perdata;

3. Patung/tugu/prasasti/simbol/atau sebutan lain dari Perguruan Pencak Silat yang dibangun diatas tanah negara/pemerintah dan berada di fasilitas umum (berada disempadan jalan, memanfaatkan asset/kekayaan pemerintah daerah) wajib mengikuti aturan yang berlaku dan mendapatkan ijin dari pemerintah;

4. Tidak akan mendirikan/menambah bangunan baru berupa patung/tugu/prasasti/simbol/atau sebutan lain dari Perguruan Pencak Silat di atas tanah negara/pemerintah, baik yang berada di tepi jalan umum dan area publik lainnya sesuai ketentuan dan peraturan yang berlaku;

5. Apabila terjadi gesekan dan pengrusakan patung/tugu/prasasti/simbol atau sebutan lain dari Perguruan Pencak Silat di Kabupaten Sragen siap dan bersedia memperbaiki secara bersama-sama oleh seluruh perguruan pencak silat yang ada di wilayah tersebut dan tidak akan memprovokasi, menurunkan dan mengerahkan massa atau upaya saling membalas dan saling merusak;

6. Bilamana terjadi gangguan kamtibmas yang dilakukan oleh oknum anggota/warga Perguruan Pencak Silat wajib membantu menyerahkan pelaku kepada aparat penegak hukum dan apabila instruksi dari pengurus, organisasi tersebut dapat dibekukan di Wilayah Kabupaten Sragen;

7. Sepakat membentuk forum komunikasi antar perguruan pencak silat di Kabupaten Sragen selambat-lambatnya 1 (satu) bulan setelah kesepakatan ini di tanda tangani.

Demikian kesepakatan ini dibuat dengan tanggung jawab dan akan dipedomani serta dilaksanakan sebagaimana mestinya. (Tim)

 

Editor: Awi

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *