Dipercaya Masih Keramat, Sejarah Mbah Cikal Bakal di Desa Tenggak Sragen Dipercaya Kaitan Dengan Joko Tingkir

 

 

FOKUSLINTAS.com – Desa Tenggak Kelurahan Tenggak Kecamatan Sidoharjo Kabupaten Sragen merupakan wilayah Desa yang gemah ripah loh jinawi. Dimana warga masyarakatnya mayoritas hidup makmur dan berkecukupan dengan pertanian, bahkan lahan didaerah Desa Tenggak pun terlihat sangat subur .

Data yang dihimpun fokuslintas.com, Desa Tenggak tersebut dalam roda pemerintahan dipimpin Setyanto seorang tokoh muda sekaligus sebagai Kepala Desa. Segi perekonomian di daerah Desa Tenggak pun tampak stabil dan mapan serta jalan Pemerintahan Desa bisa menjadi bahan percontohan.

Selain dalam roda perekonomian yang kondusif mapan, diwilayah tersebut warga masyarakat masih banyak memegang tradisi jawa dan pengembangan budaya misal banyak tokoh lahir didaerah tersebut dengan pengembangan seni budaya karawitan.

Bahkan adanya sejarah leluhur yang ada di Desa masih terjaga dengan baik, terbukti jejaknya terpelihara sampai sekarang dan warga masyarakat menyebutnya dengan Mbah Kyai Cikal Bakal dikenal sesepuh dan kerabat Keraton di wilayah Desa Tenggak.

Kepala Desa Tenggak Setyanto. Foto: (Awi)

Kepala Desa Tenggak Setyanto saat ditemui fokuslintas.com, beberapa waktu lalu juga mengatakan, pada jaman dahulu Karawitan hanya tumbuh dan dikembangkan di dalam lingkungan keraton. Akan tetapi sekarang warga masyarakat bisa mengembangkan dan berkarya mandiri.

“Pengembangan seni karawitan dapat pula dilakukan melalui setiap daerah juga berkelompok. Disamping itu telah banyak pula kelompok-kelompok Karawitan daerah sini yang telah mampu mengembangkan karawitan dengan baik dan benar. Oleh karena itu sangatlah disayangkan kalau karawitan juga jejak warisan leluhur jawa ini tidak dilestarikan,” terangnya.

Menurutnya, seni karawitan dikenal sejak jaman Kalingga, pada jaman raja Syailendra. Sejak jaman Syailendra itulah dikenal alat musik tradisional (gamelan), yang sampai sekarang dikenal dengan gamelan Slendro. Warga masyarakat belajar sendiri sesuai dengan suara gamelan yang pernah didengarnya dari dalam Keraton.

“Pada jaman serba modern sekarang ini, banyak yang ingin mengambangkan Musik Gamelan (diatonis) dengan musik pentatonis. Namun perpaduan dua jenis musik tersebut masih bersifat kreatif saja, belum dapat dijadikan suatu musik baru, karena keduanya tidak dapat difungsikan mutlak secara bersama-sama.” Ungkapnya.

Disisi lain, ternyata wilayah Desa Tenggak juga menyimpan tradisi ritual menarik. Yaitu memegang sadranan, ruwahan dan merti deso masih dipegangnya. Pada dasarnya Desa Tenggak sebelahan dengan Desa Sribit, misal ada ritual unik setiap tanggal pertama bulan muharram atau Syura, masyarakat sekitar berbondong-bondong kelapangan tempat areal petilasan joko tingkir dan membuat pasar malam. Ditempat itulah dipercaya sebagai asal usul sejarah adanya Desa Tenggak.

Lokasi makam Kyai Cikal Bakal Desa Tenggak. Foto: (Awi)

Kemudian terkait uniknya ritual tersebut, semua dagangan yang dijual di lokasi pasar itu berbahan dasar bambu dan terkait dengan kebutuhan dapur serta pertanian. Sembari belanja, pengunjung yang hadir juga tak lupa memanjatkan doa kesebuah galeh (tenggak) yang konon diyakini sebagai tambatan perahu Joko Tingkir.

Ritual tersebut juga diiringi dengan gending-gending jawa yang mengalun sepanjang malam, seolah mengingatkan suasana zaman kerajaan tempo dulu. Sedangkan piranti yang dijual pun alat dalam bertani dan dapur. Ada cemeti, caping, nyiru, tenggok, beruk (penakar beras), sendak sayur, centong tapi semua dari kayu. komplitnya beras kuning, beras ketan, kacang hijau.

“Kata mbah-mbah dulu tradisi itu bisa membawa berkah tersendiri, panennya bisa baik, gampang pangan, di kalangan masyarakat sekitar berkembang mitos bahwa dengan memanjatkan doa di serta membeli barang di pasar itu akan membawa berkah serta rejeki berlimpah. Jika tiba masa windunan di mana malam Jum’at wage tiba tepat pada tanggal satu syura, pengunjung yang datang bisa mencapai puluhan ribu orang dengan presentase mayoritas justru dari luar kota. Petilasan Galeh (Tenggak) Jaka Tingkir memang salah satu ritual yang selama ini menjadi daya tarik kecamatan Sidoharjo.” Imbuhnya. (Awi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *