Isu Tentang PKI Muncul, Sejarawan LIPI Cerita Soal Ribka Tjiptaning, Okky Asokawati, dan Reza Rahardian

Sejarawan LIPI Cerita Soal Ribka Tjiptaning, Okky Asokawati, dan Reza Rahardian. Foto/Source: (Ist-Gel)

 

FOKUSLINTAS.com – Stigmatisasi Partai Komunis Indonesia (PKI) masih menjadi alat politik yang digunakan sebagai senjata menuju pemilu 2024, dan sadisnya juga masih menjadikan keturunan mantan pihak yang dituduh rezim Orde Baru terlibat PKI, sebagai pihak yang diserang serta dipojokkan.

Menurut Profesor Riset bidang sejarah di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Asvi Warman Adam, rezim Orde Baru Soeharto lahir dari krisis nasional yang menempatkan PKI sebagai musuh bersama. Soeharto dijadikan bapak pembangunan sekaligus penyelamat bangsa dari komunisme. Isu inipun kembali hendak dijual dan diangkat menuju pemilu 2024, walau PKI dan aktivitasnya sudah punah.

Masalahnya, dalam mengangkat isu itu, stigma terhadap anak-anak dan keturunan keluarga terlibat PKI masih diteruskan.

“Itu bagi pandangan saya seharusnya diluruskan. Kalau seseorang jadi PKI, anaknya tak menanggung dosa dia. Itu sama dengan jika seorang ayah melanggar hukum, anaknya kan tak harus diadili. Kita tak menganut dosa turunan. Kalau ortunya PKI atau ormas kiri, anaknya tak otomatis menganut komunis. Apalagi ajaran itu tak bisa lagi dikembangkan di Indonesia,” beber Asvi Warman Adam.

Hal itu disampaikannya dalam diskusi virtual “Ngeri-ngeri Kebangkitan PKI” yang dipandu Bonnie Triyana di Jakarta, Selasa (7/7/2020).

Dia lalu memberikan contoh bagaimana tudingan tak berdasar itu merugikan DPR dan partai seperti PDI Perjuangan (PDIP) yang memiliki anggota bernama Ribka Tjiptaning. Karena menulis sebuah buku tentang pengalamannya sebagai anak dari orang tua yang dituduh PKI, sampai sekarang Ribka dianggap PKI, DPR dianggap mengakomodasi PKI, dan PDIP dituduh mempunyai 85 persen anggota bekas PKI.

Padahal, sebelum menjadi anggota DPR, untuk menjadi caleg saja, setiap orang termasuk Ribka harus ada screening dan surat bebas PKI dari Kepolisian. Sehingga seorang anggota PKI takkan mungkin lolos. Maka jika masih ada yang menuduh PKI, seharusnya dia dipaksa membuktikan atau dilaporkan ke pengadilan.

Dan kalau buku Ribka sendiri dibaca, lanjut Asvi, isinya adalah soal pengalaman hidupnya yang menderita setelah ayahnya, sebagai pengusaha yang berhubungan dengan banyak orang ditangkap rezim Orba karena alasan PKI pada 1965. Ribka bercerita lewat bukunya, soal bagaimana kesulitan hidup pasca ayahnya ditangkap, berjualan sayur dan lemper, demi menghidupi keluarga.

“Jadi isinya penderitaan anak yang kebetulan ayahnya dituduh PKI. Gus Dur dalam kata pengantar buku itu menulis dengan alasan kemanusiaan, bahwaada satu orang anak perempuan distigma PKI, sehingga mengalami berbagai hambatan di kehidupannya,” kata Asvi.

“Tak ada sama sekali di buku itu bahwa 85 persen PDIP itu PKI. Kalau Alfian Tanjung menyatakan itu, harusnya dia diadili. Ini perlu ditekankan, meskipun ortunya dituduh PKI, anaknya belum tentu. Jadi hemat saya, jangan ada lagi tuduhan PKI di DPR atau di partai tertentu,” tambahnya.

Asvi lalu membandingkan kisah Ribka dengan Okky Asokawati, mantan anggota DPR dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang kini pindah ke Partai Nasdem. Okky adalah anak dari AKBP Anwas Tanuamidjaja, orang kedua setelah Letkol Untung, dalam peristiwa G30S/PKI.

Okky pun mengalami penderitaan yang sama dengan Ribka karena ayahnya ditahan belasan tahun. Dengan topangan ibunya mengajar les piano, Okky berkarir sebagai peragawati, yang kerap dilakukannya sembari mengunjungi ayahnya di tahanan.

“Okky tak memilih ayahnya jadi komandan G30S. Tapi faktanya demikian. Okky sendiri bukan komunis dan bahkan solehah. Tak ada skandalnya sebagai bintang film, sebagai anggota DPR juga diteladani. Bukunya tak dipermasalahkan orang karena judulnya “Jangan Menoleh Ke Belakang”. Beda sama Ribka. Padahal ayahnya orang kedua di G30S. Tapi ini bukan salah Okky sehingga ayahnya ditangkap dan ditahan,” ulasnya.

Satu lagi adalah kisah Reza Rahardian, aktor terkenal saat ini yang memiliki nenek bernamaFransisca Casparina Fanggidaej.Neneknya itu merupakan anggota Parlemen Indonesia yang kebetulan di tahun 1965 sedang berada di Beijing.

Mengetahui situasi politik terkait PKI saat itu, Fransisca memilih bertahan dan tak kembali supaya anak serta keluarganya tak dikaitkan dengan PKI. Padahal, Fransisca sudah berjuang untuk kemerdekaan RI dan ikut terlibat di perjuangan 10 November1945 di Surabaya.

“Diadekat Soekarno, dan takut pulang. Selama 20 tahun di Tiongkok, lalu minta suaka ke Belanda. Dari sana dia mengabarkan ke keluarganya bahwa dia masih hidup. Bayangkan dia memendam rahasia 20 tahun. Bayangkan hidup anaknya di Indonesia. Dia khawatir kalau anaknya dia beritahupada 1965, anak-anaknya ditangkap,” kata Asvi, pria kelahiran Sumatera Barat itu.

Bagi Asvi, sama seperti anak keluarga terkait pemberontakan DI/TII, PRRI/Permesta, dan RMS, seharusnya anak-anak keluarga yang dikaitkan PKI tak menjadi korban. Sebab kesalahan orang tua tak seharusnya menjadi tanggung jawab anak dan cucu.

“Saya ingin katakan bahwa partai dan DPR itu bersih dari PKI. Jangan ada tuduhan lagi. Tak ada partai yang PKI sekarang ini. Kalau ada buktinya langsung laporkan ke bareskrim. Tak ada di parlemen kita itu PKI. Bahaya laten PKI adalah halusinasi menurut saya,” pungkas Asvi. (*)

 

Kont: Han

Editor: Adm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *