Anggota DPRD Sragen Minta Sumur Dalam atau Sibel di Lahan Pertanian Diawasi Ketat


Ilustrasi pompa air pertanian |tim

 

FOKUSLINTAS.com – Pembuatan sumur submersible atau biasa disebut sumur sibel perlu diawasi dan diatur secara ketat.

Dikhawatirkan jenis sumur pantek yang kedalamannya bisa mencapai lebih dari 100 meter itu bisa menimbulkan kerusakan lingkungan.

”Pertanian di Sragen sangat bagus, menjadi lumbung padi nomor dua di Jateng. Tapi masalah pompa submersible ini perlu dicermati. Kemarin kami mendampingi Dinas Pertanian Sragen mengajukan usulan ke Provinsi mengenai masalah ini,” kata Ketua Komisi II DPRD Sragen, Hariyanto, Selasa (7/7).

Sumur submersible, saat ini banyak menjadi pilihan petani untuk menyedot air tanah dan menggunakannya mengairi lahan sawah.

Kelebihannya dibandingkan dengan pompa pantek model lama, pompa submersible posisinya berada di dalam pipa di bawah permukaan air tanah, sehingga dengan kekuatan 2-7 tenaga kuda, bisa menyedot air tanah lebih dalam.

Namun, Haryanto menilai penggunaannya sering berlebihan. Dia menyebut, terkadang petani membuat dua sumur di satu bidang lahan. Alasannya, khawatir tidak bisa panen jika kekurangan air di musim kemarau.

“Kami ingin ini diawasi dengan lebih baik. Sayangnya, selama ini perizinan sumur seperti itu dari Provinsi, sehingga daerah tidak bisa tahu. Misalnya kalau ada sumur yang dalamnya lebih dari 100 meter, ini kan bisa merusak persediaan air tanah, berbahaya bagi lingkungan,” ujarnya. (Tim)

Editor: Awi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *