Menyimpan Banyak Mitos Gaib, Beringin Kembar Keraton Yogyakarta di Keramatkan Hingga Sekarang

Mitos Gaib Beringin Kembar Keraton Yogyakarta, Bikin Merinding! Foto: dok

 

FOKUSLINTAS.com – Ficus benjamina atau dikenal dengan pohon beringin menempati kedudukan spesial di lingkungan kesultanan Yogyakarta. Salah satunya “Ringin Kurung”, sepasang pohon beringin kembar dikelilingi pagar persegi tembok putih, yang ditanam di tengah-tengah Alun-Alun Utara keraton.

Tiap bulan Sura, tidak hanya benda-benda pusaka di dalam keraton yang ikut “Jamasan” (dibersihkan kembali dengan ritual suci), tetapi kedua pohon beringin ini juga ikut dibersihkan dengan cara dipangkas agar batang dan dedaunan tertata lebih rapi.

Namun apakah kamu pernah berlibur di sekitar keraton dan mencoba tradisi “Masangin”?

Simak dulu beberapa fakta sejarah dan mitos di luar nalar yang beredar tentang pohon beringin kembar berikut ini.

1. Filosofi Kiai Dewadaru dan Kiai Janadaru

Seperti benda- benda pusaka tanah Jawa lainnya, beringin kembar ini juga punya nama, lho! Beringin di sisi barat dikenal sebagai Kiai Dewadaru, dan di sisi timur dikenal sebagai Kiai Janadaru. Kedua nama tersebut punya arti yang adiluhung.

Dewadaru adalah gabungan kata “Dewa” yang bermakna “Ketuhanan” dan “Daru” yang bermakna “Cahaya”. Kiai Dewadaru berada di sisi yang sama dengan lokasi Masjid Gedhe sebagai pusat keagamaan.

Bibit Kiai Dewadaru dikabarkan berasal dari Majapahit. Sebagai salah satu makhluk hidup, beringin tersebut sempat roboh menjelang wafatnya Sri Sultan Hamengkubuwono IX, dan sempat diganti pada tahun 1988.

Janadaru juga gabungan dari kata “Jana” yang bermakna “Kemanusiaan” dan “Daru”. Kiai Janadaru berada di sebelah timur lokasi Pasar Beringharjo yang difungsikan sebagai pusat ekonomi masyarakat. Kedua pohon beringin tersebut melambangkan keseimbangan antara nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan.

Kiai Janadaru dikabarkan berasal dari Padjadjaran, beringin ini pun pernah diganti pada tahun 1926 disebabkan sempat terbakar karena tersambar petir pada 1961.

2. Lambang Pengayoman Raja pada Rakyatnya

Saat Jamasan, ternyata pohon beringin  tidak dipotong sembarangan, lho. Batang dan dedaunan yang rimbun dipangkas sedemikian rupa agar lebih rindang dan membentuk payung. Hal tersebut melambangkan pengayoman dan perlindungan Sultan kepada rakyatnya.

3. Bisa Mengabulkan Permintaan

“Masangin” adalah kegiatan berjalan melewati beringin kembar dengan mata tertutup. Tradisi ini dikaitkan dengan mitos bahwa keinginan yang kamu simpan di hatimu, akan terkabul kalau kamu berhasil berjalan di antara kedua beringin tersebut.

Dalam upacara yang dilaksanakan Keraton Yogyakarta sendiri, tradisi Masangin dilakukan pasca topo bisu (bertapa tidak berbicara) tiap malam Satu Suro untuk mengharapkan berkah dan keselamatan bagi negeri.

4. “Masangin” sebagai syarat mempersunting Putri Sultan Hamengkubuwono

Perkawinan putri Sultan Hamengkubuwono I adalah legenda yang dikenal baik oleh masyarakat sekitar keraton. Saat itu, Putri Sultan dikabarkan telah dipinang oleh seorang pria, tetapi karena Sang Putri tidak mencintainya, dirinya pun meminta syarat.

Pria itu harus berjalan dengan mata tertutup dari pendopo utara, kemudian melewati dua beringin kembar, dan selesai di pendopo selatan. Namun, sesuai dengan harapan Sang Putri, pria tersebut tidak berhasil melaksanakannya.

Sultan menjadikan Masangin sebagai sayembara untuk bisa meminang putrinya. Akhirnya, ada pemuda dari Siliwangi yang berhasil memenangkan sayembara tesebut kemudian menikahi Sang Putri.

5. Meleburkan Kekuatan Jahat dan Sihir Hitam

Masyarakat tanah Jawa dikenal sangat menghormati pohon beringin ini. Bahkan, saat proses perpindahan Keraton Mataram dari Kartasura menuju Surakarta, pohon beringin adalah salah satu benda yang ikut dipindahkan.

Ukurannya yang besar, usianya yang panjang, daya tumbuhnya yang tangguh di segala musim, akar-akar yang besar kuat mencengkram tanah, daya tampung airnya yang banyak, dan dedaunan yang lebat telah memberikan keteduhan serta rasa aman.

Oleh karena itu, pohon beringin seringkali dijadikan ‘tameng’ yang kokoh menangkal kekuatan jahat dan sihir hitam. Orang-orang yang memilki niat jahat, atau ilmu sesat yang bisa mencelakai sesama, kekuatannya dikabarkan akan melebur jika berada di sekitar Kiai Dewadaru dan Kiai Janadaru.

Nah, udah pada tahu ‘kan sekarang tentang sejarah berdirinya pohon beringin kembar ini? Semoga informasi ini bisa menambah wawasan kamu ya! Saat kalian berkunjung ke Jogja, jangan lupa mampir ke sini, ya.*(Hani)

 

Editor: Adm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *