Dunia Hitam, Debt Collector, dan Premanisme

Ilustrasi.
Penulis: Aiman Witjaksono

 

FOKUSLINTAS.com – SAYA melihat langsung bagaimana aktivitas debt collector, bagaimana mereka bekerja di lapangan, potensi gesekan dengan kelompok lain yang dibayar untuk menjaga. Saya melihat kelamnya dunia hitam mereka.

Kasus John Kei seolah membuka mata. Premanisme masih ada dan kadang merajalela. Senjata api mereka kuasai. Tujuh tembakan mereka muntahkan. Pedang panjang mereka hunus.

Sampai saat ini polisi masih terus mencari keberadaan senjata api yang digunakan. Tak kurang sang “God father of Jakarta”, begitu warga dunia maya menyebutnya, ditahan bersama puluhan anggota kelompoknya.

Pasal yang dikenakan tidak main-main. Selain pasal pengeroyokan, ada pula pasal pembunuhan berencana, yaitu Pasal 340 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). Pasal ini merupakan pasal yang penghilangan nyawa yang paling pamungkas. Ancaman hukuman maksimal adalah mati!

Pasal tersebut berbunyi, “Barang siapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain, diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama 20 tahun.”

John Kei, terancam pasal ini.

Melalui pengacaranya yang saya wawancara pada program Sapa Indonesia Malam, John Kei menyangkal terlibat perencanaan pembunuhan yang belakangan mengakibatkan kerabat Nus Kei, Yustus Corwing Rahakbauw alias Erwin, tewas secara brutal: dilukai dengan senjata tajam sebelum dilindas dengan mobil minibus yang dikendarai kawanan ini.

Kasus pribadi John Kei dengan pamannya yang kebetulan seusia, Nus Kei, berujung pada pembunuhan.

Satu orang tewas, 3 orang terluka, termasuk Satpam dan pengendara ojek online yang terkena tembakan senjata api di dekat rumah Nus Kei di kawasan Cipondoh, Tangerang, Banten, masih berproses.

Bagaimana agar peristiwa tak berulang? Bagaimana mencegah mereka merajalela membuat onar? Kasusnya memang pribadi, tapi trauma bagi warga adalah abadi.

Ada banyak kelompok serupa di kota besar, mayoritas di Jabodetabek. Mereka berada di dunia hitam yang sama, tapi tak semua dari mereka berujung kelam. Ada yang berbenah, menata hidup lebih tenteram, sadar hukum, dan sopan meski seram.

Satu darah
Saya mengunjungi mereka di sebuah tempat di Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Marsyel Ririhena nama pimpinan mereka. Satu Darah nama organisasinya.

Ada banyak unit usahanya. Ada jasa satuan pengamanan (satpam) resmi dengan seragam safari; ada klub olahraga bela diri profesional yang masuk dalam program TV terkenal; juga ada jasa penagihan utang (debt collector).

Saat datang ke markas perkumpulan mereka, saya menjumpai sejumlah pemuda berbadan tegap, berperawakan besar. Mayoritas dari mereka berasal dari timur Indonesia. Ada juga yang berasal dari Madura, Jawa Timur.

Meski bertampang sangar dengan badan penuh tato, satu hal yang saya perhatikan, mereka terlihat santun kepada warga yang lalu lalang. Tak jarang mereka menegur terlebih dahulu warga asli di daerah Jakarta Selatan itu.

Saya datang menemui Marsyel, melihat aktivitas di dalam, tentu dengan protokol kesehatan Covid-19 yang sama sama kami jaga. Saya bertanya soal kegiatan mereka. Saya diajak berkeliling ke tempat yang disebutnya sebagai Klub Strong Fit.

Program AIMAN di KompasTV yang tayang Senin, pukul 20.00, dengan detail menggambarkan suasana di sana.

Saya juga menemui sejumlah orang yang bertugas sebagai petugas keamanan resmi hingga jasa penagihan utang atau debt collector.

Marsyel mengungkapkan, semua aktivitas di perkumpulannya bisa dipertanggungjawabkan secara hukum.

“Kami punya tim pengacara sendiri yang membantu memberikan nasihat hukum kepada kami dalam langkah-langkah kami,” ungkap Marsyel.

Ia menunjukkan kepada saya, semua penagih utang di tempat itu punya sertifikat dari OJK (Otoritas Jasa Keuangan).

Ikut menagih utang
Saya meminta Marsyel untuk membolehkan ikut dalam proses penagihan utang. Saya ingin melihat prosesnya. Marsyel Setuju. Kebetulan, hari itu ada jadwal penagihan utang di sebuah daerah di Tebet, Jakarta Selatan.

Saya ikut bersama 4 orang kelompok ini. Eksklusif di program AIMAN.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit, kami sampai di sebuah rumah mewah. Saya tanyakan, apa masalahnya?

Salah seorang dari mereka menjawab, pemilik rumah memiliki utang sebesar Rp 4 miliar kepada salah satu Koperasi. Sudah satu tahun jatuh tempo dan belum dibayar sama sekali.

Nah, ada yang menarik di rumah besar itu. Pemilik rumah menggunakan jasa pengamanan informal alias tak resmi untuk menjaga rumah. Para penjaga rumah adalah pemuda-pemuda dari timur Indonesia.

Sebelum mendatangi rumah itu, kami meminta izin terlebih dahulu kepada RT setempat. Kemudian, kami bergegas ke rumah tersebut.

Bisa Anda bayangkan, dua kelompok pemuda dari timur Indonesia bertemu dalam kepentingan yang berseberangan. Bisa ditebak: ketegangan pun terjadi di depan rumah.

Kelompok penjaga rumah terlihat lebih banyak. Mereka nongkrong di halaman rumah dan berteriak meminta kami pulang.

Salah satu dari anggota kelompok Marsyel berhasil masuk dan melobi agar keributan tak sampai terjadi.

Meski demikian beberapa dari mereka berjaga ketat di halaman rumah. Kami tak diizinkan sama sekali masuk dan mengambil gambar. Suasana yang luar biasa, belum pernah saya temui sebelumnya!

Lebih tertata
Terlepas dari ketegangan yang terjadi dan potensi bahaya yang mengancam jiwa maupun hukum, hidup mereka lebih tertata. Bahkan, tak sedikit yang jauh lebih sejahtera.

Padahal, sebelumnya banyak dari mereka yang keluar masuk penjara, entah karena kasus penganiayaan atau pembunuhan.

Pertanyaannya, seberapa kuat mereka bertahan?

Satu kunci, manusia adalah makhluk Tuhan yang tak bisa hidup sendiri. Setiap kita layak saling memberi kepedulian bagi satu dengan yang lain, apa pun bentuknya.

Meski sulit dibayangkan dunia akan sepenuhnya aman, tapi setidaknya sejarah dan peradaban mencatatnya, atas nama Tuhan.(Han)

 

Editor: Adm

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *