25 Persen Pelajar di Jateng Tak Punya Akses untuk Belajar Daring

Saat para guru memandu pembelajaran secara online (ist)

 

FOKUSLINTAS.com – Sebuah survei yang diadakan Forum Anak Nasional menyebutkan, sekitar 25 persen murid sekolah di Jawa Tengah tidak memiliki atau kesulitan akses sistem belajar jarak jauh (online). Survei juga menyebut, kebutuhan pendampingan orangtua mutlak diperlukan selama murid belajar dari rumah.

“Survei ini kami lakukan terhadap 590 anak di 35 kabupaten dan kota,” tutur Ketua Forum Anak Nasional Jawa Tengah, Amelia Adiputri Diansari dalam acara Bincang Santai Bareng Media berlabel Curhat Anak Jawa Tengah di Masa Pandemi yang digelar secara zoom meeting, Selasa (21/7).

Dialog tersebut diselenggarakan bersama Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Provinsi Jateng, Unicef, Yayasan Setara, serta Jurnalis Sabahat Anak.

Amelia memaparkan, ada dua fakta penting dalam survei yang hasilnya nanti akan dipaparkan ke Gubernur Ganjar Pranowo di Peringatan Hari Anak tanggal 23 Juli.

Selain masalah akses, terungkap juga keluhan sejumlah anak tentang kebutuhan pendampingan dari orangtua selama mereka belajar dari rumah.

Selain Amelia yang berasal dari Sragen, diskusi juga menghadirkan Ricky Aditya, kemudian Muhammad Meizar Brahmantyo yang baru lulus dari MAN 2 Banyumas, lalu ada Foresta Arbar Ramadhan dari SMKN 1 Brebes, Nindy pelajar dari Rembang, dan beberapa lainnya.

Ricky memaparkan pentingnya dukungan dari kawan, guru dan keluarga. Bahkan dari lingkungan masyarakat. Misalnya, salah seorang kawan yang tinggal di daerah terpencil, diketahui ketinggalan informasi di grup WA karena dia terlihat lama tidak online.

“Akhirnya guru datang ke rumahnya, mencarikan solusi teman tersebut dibelikan kartu dan paket data yang tersedia di sekitar, menggunakan dana BOS. Di tempat lain, kelurahan membuatkan semacam tempat untuk belajar kelompok dengan fasilitas wifi,” tutur pelajar SMAN 2 Wonosobo itu.

Dari diskusi tersebut, juga muncul pertanyaan tentang kualitas hasil pendidikan jarak jauh. Misalnya, ketiadaan guru yang menyebabkan hilangnya pendidikan karakter, disiplin dan semacamnya.

“Untuk saat ini, memang kita berharap peran orangtua bisa menggantikan tugas guru yang seperti itu. Tentu ke depan ini akan menjadi evaluasi bersama dari semua stake holder bidang pendidikan,” pungkas Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Provinsi Jateng, Retno Sudewi.*[Tim-Srw]

 

Editor: Adm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *