OPINI: Hidup Itu Logika, Biarkanlah Pria Merokok Dengan Jantan

Foto: dok (Pujo H/fokuslintas.com)

 

 

FOKUSLINTAS.com – Masalah merokok memang perkara rumit. Jika sudah terbiasa,  atau bahasa gaulnya sudah mencapai level addicted, istri atau pun pacar bisa mendadak menjadi nomor dua. Dipergunjingkan sana-sini tak mempan lagi, bahkan dinasehati dokter sekalipun, para perokok pasti cepat-cepat ingin keluar dari ruangan si dokter. Apalagi kalau cuma gambar-gambar seram yang dimunculkan didepan kemasan rokok,  dilirik juga tidak.

Rokoknya dibuka, isinya diambil sebatang, diletakan diantara dua bibir sembari matanya entah meleng kemana. Lalu bungkusnya ditutup lagi, dimasukin ke saku atau ditaruh di meja lagi. Asap mengepul ke udara, gambar seramnya malah entah dianggap apa, ngambang bersama bungkus rokok diatas meja atau di dalam saku, sebelum ujung-ujungnya parkir di tong sampah tanpa kata-kata selamat tinggal.

Mengapa bisa? Karena perkara merokok atau berhenti merokok bukan perkara menakut-nakuti, bukan perkara diancam penyakit ini dan itu, ditakuti dengan implikasi-implikasi saku ini dan itu, tapi perkara hati.

Tak ubahnya dengan urusan cinta. Kalau sudah sreg mau dibilang apa. Hidung pesek dikata mancung juga, mata belo dikata indah juga. Rambut bau bawang putih tersengat sinar matahari dikata bau bunga melati juga.  Ya, memang begitulah hati bekerja, mau dibilang apa.

Dipaksa main logika, nanti dibilang tak punya hati,  dibilang tak hormat perasaan laki-laki. Dipaksa memahami dari sisi kesehatan yang sejatinya bisa menimbulkan penyakit, minimal batuk dan turunannya, jawabannya sederhana saja. Monyet juga batuk tapi tak merokok. Apalagi jika dipaksa membaca iklan counter campaign  rokok di layar kaca seperti “rokok membunuhmu”.

Dipastikan jawabannya pun tak kalah atraktif lagi, Mirna saja mati karena sianida, bukan karena rokok.

Nah apalagi kalau perokok sudah bawa-bawa Tuhan pakai dalil-dalil teologis nan super monoteistis. Mau mati atau mau hidup lima puluh tahun lagi seperti lirik lagi Yuni Shara dan Raffy, itu terserah Tuhan. Toh kalau sekarang Tuhan mau dia mati, ya tertabrak semut pun pasti mati. Demikianlah jawabannya…m

Dari justifiksi-justifikasi tersebut, mahfumlah sudah kita bahwa merokok bagi perokok adalah ibarat spidol bagi seorang guru atau jarum suntik bagi seorang dokter. Bagaimana tidak, bayangkan saja ada kawan yang sering berceloteh bahwa dia tak bisa kerja konsentrasi jika belum merokok. Seorang kawan lainya juga pernah bilang, jika tidak merokok, maka dia diperkirakan akan gagal menembak pacarnya ketika itu. Aneh memang, posisi dan kapasitas rokok suka berganti-ganti sesuai kebutuhan perokok. Manfaatnya seolah berguna untuk semua sisi kehidupannya.

Bahkan saat ditelikung dari sisi ekonomipun, perokok masih saja bisa mengelak. “Heh, kamu udah tau gajimu cuma segitu, dipakai pula buat beli rokok sebungkus dua bungkus sehari, kamu sekolah nggak sih, kamu belajar matematik nggak sih, sampai-sampai nggak menghitung kapasitas dan kemampuan pembiayaan hidupmu sendiri.

Jawabnya masih saja santai dengan wajah tanpa dosa, perokok bilang, “kamu tahu kalau ada ayat dalam kitab saya yang menyatakan bahwa binatang melata saja sudah ada jatah rejekinya, apalagi kita. Kamu tahu nggak sih kalau rejeki itu tak akan pernah tertukar, uang yang saya belikan rokok tidak akan berasal dari uang yang menjadi rejekimu yang memang sudah ditakdirkan untukmu, mohon pahami itu, kecuali kamu berikan rejeki itu pada saya, maka itu akan menjadi rejeki saya yang datang melalui sakumu”.

Lalu jika diajarkan tentang hidup berhemat, biar uang rokok bisa ditabung dan kalo perlu diinvestasikan, baik untuk diri sendiri, keluarga, ataupun buat anak dimasa depan, sembari memberi hitung-hitungan harian, bulanan, tahunan, dan abadan (kalo umurnya nyampe), perokok masih tetap saja berkilah bahwa “ah kaya mah ga akan dibawa mati, soal warisan tak terlalu penting lah itu. Jika saya wariskan harta ke anak saya, nanti mereka jadi anak mama dan papa yang malas berusaha. Jika saya wariskan misalnya sebuah usaha sederhana, nanti ditangan mereka dibuat besar dan berkembang, akhirnya anak saya jadi kapitalis dan sejenisnya, ya mending ga usah. biarkan mereka berusaha dan menentukan jalannya sendiri”. Ah perokok…

Urusannya akan jauh semakin dalam kalau dikaitkan dengan cukai rokok, pemasukan negara dari cukai, lapangan pekerjaan yang bisa disediakan insutri rokok, atau televisi-televisi yang kebanjiran uang iklan dari rokok, maka akan panjang saja ceramah perokok itu, bisa habis sebungkus rokok untuk mendengarnya, mungkin lebih.

Dan setelah capek memberi pengarahan, seorang kawan yang peduli dengan kesehatan kawan lainnya mencoba masuk ke urusan yang agak berbeda. Seorang kawan  dinasehati agar jangan merokok di saat buang hajat di toilet, masa untuk urusan beberapa menit saja ditoilet dia tak bisa dinasehati. Namun jawabnya lagi-lagi khas politisi senayan, plus wajah dingin mafia italia dan yakuza.

“Daripada saya mencium bau hajat saya sendiri kemudian menghirupnya, lebih baik saya menghirup asap rokok”, demikian jawabannya sembari membanting pintu toilet.

Dan terakhir, sebagian pasangan juga memakai dalih kesehatan bayi atau anak untuk membendung nafsu perokok laki-laki alias suaminya. Namun akhirnya yang ada sang istri capek sendiri, selain capek menasehati, dia juga capek mengurus anak terlalu lama, karena sang suami menghargai permintaan istri agar tidak merokok dekat anak kecil, lantas sang suami pergi ke teras rumah atau ke palataran tetangga, bahkan ke warkop terdekat untuk merokok. Akhirnya waktunya bersama anaknya alias waktu mengurus anak atas nama membantu istri jadi semakin berkurang. Memang serba salah alias salahnya sudah terlalu banyak, jadi setiap nasehat jadi terbawa salah semua.

Jadi pendek kata, berdasarkan kronologis justifikasi-justifikasi diatas, masalah rokok nampaknya secara sekilas benar- benar sama dengan masalah hati, padahal secara logika candu-candu malah menempel di otak. Tapi ya mau gimana, diajak berlogika mereka malah berlogika dengan cerita yang lain.

Mungkin pada satu titik tertentu, sang istri harus memberikan dua pilihan, pilih rokok dengan konsekuensi permintaan ditalak tiga atau pilih istri dan anak dengan catatan perjanjian di depan notaris untuk tidak akan merokok lagi.

Ini bisa saja dilakukan, jika memang diperlukan, tapi jika rasanya belum terlalu butuh-butuh amat, ya jangan dulu lah dilakukan, apalagi kalau sang istri belum siap ditinggal suami, karena takutnya sang suami malah memilih rokok dan memberikan talak tiga. Kan bahaya, Artinya, jika suami masih bisa menjadi jantan alias tidak jadi banci, homo, atau lambai tak karuan, dan bisa menjalankan tugasnya sebagai seorang laki-laki, ya biarkanlah dia merokok dengan jantan. Ketimbang berhenti merokok tembakau dan cengkeh lalu mencari rokok yang level kecanduannya sudah diatas rata-rata penyakit lainya, ya ga ada salahnya juga dibiarkan dia merokok sejantan yang dia bisa.

 

( Pujo H )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *