Dibalik Ritual dan Tumbal Babi Ngepet, Konon Pesugihan Yang Bisa Membuat Kaya Mendadak

Hanya dengan menggosokan badannya ke tembok rumah, duit pun bisa beralih. Foto: Ist babi ngepet.

 

FOKUSLINTAS.com – Babi ngepet merupakan makhluk jadi-jadian yang diyakini keberadaannya oleh sebagian orang. Setidaknya hal itu tercermin pada sikap dari ratusan warga yang berada di Kelurahan Mojosongo, Jebres, dan sekitarnya.

Pasalnya, pada tanggal 30 April 2016 silam, warga berhasil menangkap seekor babi yang diyakini merupakan babi jadi-jadian alias babi ngepet. Namun, setelah ditelusuri, akhirnya diketahui jika babi tersebut merupakan salah satu babi yang terlepas dari kurungan ketika hendak dikirim ke Jakarta.

Agus Triyono selaku lurah setempat menceritakan kalau pada Minggu malam, seorang pria berama Sigit mengirim 60 ekor babi ke Jakarta dengan menggunakan sebuah truk.

Namun, karena adanya guncangan di perjalanan, seekor babi pun terlepas dari kurungan hingga akhirnya berkeliaran di rumah-rumah warga yang ada di Perumahan Sibela Mojosongo.

Meski telah terungkap fakta sebenarnya, namun apa yang diyakini oleh warga Mojosongo semakin memperkuat persepsi tentang lekatnya masyarakat terhadap kepercayaan akan kisah-kisah mistis.

Unik mitos semacam masih berkeliaran di dunia modern ini. Lantas seperti apa kisah babi ngepet ini dalam pandangan beberapa ahli? Dilansir berbagai sumber, berikut ini ulasan singkatnya.

Dalam bukunya yang berjudul “Dunia Hantu Orang Jawa”, Suwardi Endraswara menyebutkan kalau masyarakat Jawa memang akrab dengan berbagai jenis hantu, salah satunya adalah babi ngepet.

Suwardi Endraswara yang juga menjabat sebagai Guru Besar Pendidikan Bahasa Jawa Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) Universitas Negeri Yogyakarta ini menggolongkan babi ngepet sebagai hantu binatang yang berbahaya, sama seperti bulus putih, kutuk lamur, dan sejenisnya.

Lanjut menurutnya, pemeliharaan hantu berwujud binatang itu dimaksudkan untuk pesugihan. Sementara orang yang memeliharanya dipercaya akan menjadi kaya raya secara tiba-tiba.

Terbitan Asian Folklore Institute, babi ngepet digolongkan sebagai makhluk hasil pesugihan. Ritual ini sendiri berasal dari kepercayaan masyarakat akan adanya sosok siluman babi yang konon dapat mengabulkan permintaan akan harta.

Kepercayaan ini sendiri diyakini berasal dari Gunung Kawi yang terletak di Malang, Jawa Timur. Memang sudah rahasia umum jika Gunung Kawi sangat lekat dengan budaya klenik semisal pesugihan.

Nah, di gunung inilah para peziarah nantinya akan bertemu dengan siluman babi tersebut untuk mengadakan perjanjian sebelum akhirnya peziarah menjadi babi ngepet.

Sama dengan ritual pesugihan lainnya, pesugihan babi ngepet juga turut meminta tumbal. Biasanya orang yang dijadikan tumbal adalah anak kesayangan dari peziarah.

Setelah itu, mereka pun akan diminta untuk memakan kotoran dari siluman babi agar bisa mengubah dirinya menjadi babi ngepet. Ketika semua persyaratan sudah terpenuhi, kuncen akan memberikan sebuah kain hitam kepada peziarah.

Berbeda dengan ritual pesugihan lainnya, pesugihan babi ngepet wajib dilakukan oleh dua orang. Biasanya pasangan suami-istri yang sudah hilang iman dan akalnya yang melakukan ritual ini.

Nah, dalam pelaksanaan ritual pesugihan ini, sang suami biasanya akan menjadi babi, sedangkan sang istri akan menjaga sebuah api lilin yang diletakan di dalam baskom berair. Meski demikian, ada juga wanita yang nekat untuk menjadikan dirinya seekor babi.

Mereka yang menjadi babi diharuskan untuk berkeliling dari satu rumah penduduk ke rumah lainnya. Konon, hanya dengan menggesek-gesekan badannya ke tembok rumah korban, maka uang para korban akan beralih langsung ke tangan si pelaku pesugihan.

Sementara itu, keselamatan si babi terletak pada api lilin yang dijaga oleh orang satunya. Jika api lilin bergoyang-goyang, maka itu petanda kalau si babi tengah dalam kesulitan dan si penjaga lilin pun wajib untuk mematikan api tersebut agar si babi bisa langsung berubah wujud menjadi manusia kembali.

Itu dia kisah tentang babi ngepet sebagai makhluk jadi-jadian di Indonesia. Semoga dapat menambah wawasan kamu, ya!*

 

( Eko Nyemor )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *