Digugat Soal Dugaan Malpraktek, RS PKU Papahan Karanganyar Siap Hadapi

Rilis Pers: Pengurus Muhammadiyah Karanganyar diwakili Sekretaris Sarilan M Ali memberi keterangan soal gugatan keluarga pasien. (Sam)

 

FOKUSLINTAS.com – Digugat karena dituduh malpraktek, sehingga bocah umur 12 tahun warga Karanganyar meninggal dunia saat berobat ke RS PKU Papahan, Karanganyar. Sekretaris Muhammadiyah Karanganyar Sarilan M Ali mengatakan pihaknya siap menghadapi gugatan tersebut.

Persoalan memang sudah diambil alih persyarikatan yang membawahi RS PKU tersebut, sehingga Muhammadiyah Karanganyar sudah menginstruksikan LBH Muhammadiyah untuk menghadapi karena amar gugatan sudah masuk dan diterima berkasnya oleh Muhammadiyah.

‘’Kami sebagai pihak yang digugat siap saja, kami nanti akan beberkan kronologis penanganan pasien yang dirawat sejak sekitar pukul 15.00 tanggal 2 Juli dan dinyatakan meninggal karena mengalami henti jantung pada pukul sekitar 17.30,’’ kata Sarilan kepada wartawan, Rabu.

Menurut Tri Purnomo, ayah Rizki Adi Nugraha Purnama Putra, nama anaknya itu, kepada wartawan sebelumnya, anaknya diantar ke IGD rumah sakit karena mengeluh muntah-muntah dua hari dan nyeri di ulu hati.

Saat itu dia diterima perawat IGD dan diperiksa dan disarankan diopnam. Saat itu juga dia diinfus dan sekali tusuk sudah ketemu saluran venanya. Namun saat itu perawat menyuntikkan cairan tanpa konsultasi keluarga dan mempercepat laju infus. Setelah itu anaknya merasa sakit di ulu hatinya makin terasa namun oleh suster dikatakan hanya reaksi infus.

‘’Kemudian anak saya dibawa dengan kursi roda ke bangsal yang sudah dipersiapkan dan karena bangsal ada di lantai II kemudian anak saya menaiki tangga dan langsung masuk bangsal. Namun setelah beberapa menit masuk bangsal, anak saya kejang-kejang dan meninggal,’’ kata Tri.

Sarilan membantah keterangan tersebut. Dia menjelaskan kronologis kedatangan anak itu yang berbobot 70 kilogram meski baru 12 tahun. Saat diperiksa di IGD dan disarankan untuk opname, suster langsung merawat.

Perawat langsung menginfus. Namun karena perlu antibiotik maka suster mengganti infus dengan infus antibiotik. Sebab dari rekam medik yang dimiliki rumah sakit, bocah itu pernah dirawat dan diberi infus serupa sehingga tidak perlu konsultsi ke keluarganya.

Dari IGD pasien dibawa ke bangsal dan karena naik tangga maka pasien harus naik sendiri dan bisa. Sesampai di bangsal Arofah di lantai II, pasien sempat makan nasi dan puding sampai habis. Ini juga agak beda karena sebelumnya dia mengaku sulit makan.

Setelah makan, dia memanggil perawat karena akan ke belakang. Dan perawat mengganti tiang infus dengan tiang yang bisa bergerak. Setelah dari kamar mandi ada panggilan lagi dari keluarganya bahwa dari kamar mandi anak tidak bisa naik ke tempat tidur di bangsal, Kakinya menjuntai di bawah dan badannya di atas.

Oleh suster kakinya dibantu naik dan pasien justru mengalami anfal sehingga perawat melakukan pacu jantung satu siklus. Namun setelah dipaxcu jantung justru pasien mengalami henti jantung dan meninggal.

Artinya proses dari IGD clear, IGD ke bangsal clear, berangkat ke kamar mandi clear. Baru dari kamar mandi ke bangsal terjadi anfal itu. Artinya sesuai prosedur sudah sesuai standar. Namun sekali lagi prinsip rumah sakit membantu kesembuhan sedangkan urusan mati ada di tangan Yang Kuasa.

‘’Jika orang tua menggugat, rumah sakit siap menghadapi. Mediasi sudah dilakukan dengan orang tua dan justru orang tua menuhuh rumah sakit menyuntik mati. Itu tidak mungkin. Sehingga jika terus kami siap,’’ kata Sarilan. * Sam-Tim

 

Editor: Adm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *