OPINI: Menjadilah Jati Diri Yang Baik dan Melawan Kebencian

Foto: dok (Handi. R/fokuslintas.com)

 

FOKUSLINTAS.com – Jangan tanya orang baik itu yang seperti apa, tapi tanya pada diri kita sendiri, seperti apa kriteria “Baik” menurutmu. Bisakah kita menjadi orang yang baik menurut pendapatmu sendiri?

Tak perlu orang lain berkata bahwa kita adalah orang baik. Lakukan saja apa yang menurut kita baik karena masing-masing orang punya pandangan yang berbeda tentang suatu hal, apalagi yang menyangkut dirinya sendiri.

Salah satu hal yang mungkin membuat kita merasa tidak baik adalah adanya kehadiran orang yang kita benci. Kebanyakan manusia itu pasti punya rasa benci terhadap seseorang. Bersikap baik dan tulus pada orang yang kita benci adalah sebuah tantangan yang nyata.

Kita akan melawan kebencian yang tersimpan dalam diri, tapi itulah jalan agar kita bisa merasakan indahnya hidup tanpa membenci orang lain. Benci pada seseorang, hanya menambah sampah pikiran dalam hidup.

Bersihkan sampah tersebut lalu tumpuklah dengan memori baru yang bisa diisi dengan hal baru yang lebih baik. Kalau sampah itu belum bisa dibersihkan, download saja aplikasi pembersihan yang tersedia di playstore…he…he….

Android perlu aplikasi untuk membersihkan sampah, tapi kita bukan android. Karena kita bukan android, berarti kita bisa memaafkan tanpa menggunakan aplikasi apapun, hehe..

Hal lain yang mungkin membuat kita merasa tidak baik adalah adanya kebencian pada hidup kita sendiri. Ketika hanya susah yang bisa dirasa, kita pun mulai bertanya “sampai kapan kesusahan ini berakhir..?”

Hidup kita memang sering terasa susah, tapi lebih susah lagi jika kita ada kekurangan fisik yang menghambat pergerakan, lebih susah lagi jika kita mempunyai sebuah penyakit yang mengerikan dan lebih susah lagi jika kita tidak hidup.

Susah? Ah, sudah biasa. Saking biasanya sampai-sampai kita sering salah membedakan mana kesusahan dan mana kebahagiaan yang melanda hidup kita.

Bahkan dompet kering pun bisa jadi bahan tertawaan kita yang sudah terbiasa merasakan susah. Ya, kesusahan ini adalah bagian dari hidup kita, yang punya hak untuk dinikmati selagi kita masih hidup.

Mulai sekarang, mari kita sama-sama belajar untuk menjadi orang yang baik menurut kriteria sendiri. Tak perlu berekspektasi terlalu tinggi, sesuaikan saja dengan kemampuan diri kita sendiri. Jika menurut kita orang yang baik itu adalah orang yang jujur, maka jadilah jujur.

Jika menurut kita orang yang baik adalah dengan menolong orang lain, maka tolonglah orang lain yang membutuhkan bantuan. Dan kebaikan lain yang menurut kita baik, lakukanlah.

Kita ingin menjadi baik, lalu bagaimana jika kita belum bisa menjadi baik seperti menurut kita sendiri? Ketika kita ingin memberi, tapi kita belum mampu memberi.

Ketika kita ingin menolong, tapi kita sendiri perlu ditolong. Ketika kita ingin membahagiakan orang lain tapi kita sendiri belum bahagia, lalu bagaimana? Karena hidup adalah belajar, kita telah melakukan hal yang terbaik.

Tidak ada alasan untuk tidak berbuat baik. Ketika kita berbuat baik kepada seseorang, jangan berpikir bagaimana orang tersebut akan membalas kita. Karena Tuhan yang akan membalas kebaikan tanpa kita memintanya. Perbuatan baik, yang kecil saja dibalas sama Tuhan apalagi yang gede, yang berguna bagi hidup orang lain walaupun tanpa kita sadari.

Begitu juga dengan perbuatan buruk, sekecil apapun keburukan yang kita lakukan, pasti Tuhan akan membalas keburukan kita itu. Maka dari itu, jadilah baik mulai dari sekarang dari jati diri sendiri.

 

( Handi. R )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *