OPINI: Butuh Pengakuan

Foto: Eyang Prapto dok/fokuslintas

 

FOKUSLINTAS.com – Dulu saat kita masih kecil atau anak anak bila kita mendapatkan sesuatu yang membanggakan, biasanya selalu ingin pamer kepada ayah atau ibu. Itu sesuatu yang wajar.

Tetapi kalau hal seperti itu terbawa sampai dewasa hingga tua, sebagai contoh, lihat ini rumahku, ini mobil mewahku, ini karierku dan sebagainya.

Menurut etika hal ini agak berlebihan. Nah, ketika manusia bergerak dari kehidupan tradisional kekehidupan modern, hubungan kekerabatan yang akrab, berubah menjadi jauh dan bernilai mahal. Jadi penekanan di karakter ( karena hubungan dekat ) berubah menjadi pesona.

Orang selalu berlomba menampilkan successfull image mereka dan kehidupan menjadi sebuah pertandingan. Siapa yang paling hebat.. siapa yang lebih rupawan… rumah siapa lebih besar… karier siapa yang lebih hebat dan lain-lain.

Akan tetapi kehidupan yang seperti itu adalah fikiran yang stres dan tekanan batin, karena kalau kalah kita akan kecewa, kalau menang kita akan menjadi sombong.

Coba mari kita rasakan betapa tentramnya hidup tanpa harus membuktikan bahwa kita *Jadi Orang Yang Paling* dan sesungguhnya hidup bukan untuk membuat orang lain kagum kepada kita, melainkan hanya apa yang Tuhan telah investasikan dalam diri kita.

Mestinya kita syukuri dan kita nikmati tanpa syarat apapun(ikhlas), satu satunya yang perlu pembuktian adalah: pembuktian bahwa kita telah menjadi dan melakukan yang terbaik untuk keluarga dan banyak orang………

Rahayu Rahayu Rahayu 🙏🙏🙏

 

Oleh : Eyang Prapto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *