Sudut Pandang Kehidupan, Kala Keberhasilan dan Kesuksesan Membuat Orang Lupa Diri

Foto: Ilustrasi

 

FOKUSLINTAS.com – Saat hidup dalam serba kekurangan, hubungan baik terus terjaga. Tidak hanya dengan tetangga, namun juga dengan teman-teman yang jauh. Tapi sewaktu keberutungan mulai menyapa, harta mulai dimiliki jabatan mulai disandang, bukannya mensyukuri keberhasilannya malah seringkali berbuat sebaliknya, lupa diri.

Hubungan balik mulai dilupakan, jangankan teman-teman yang jauh, tetangga dekat saja yang setiap hari bertemu mukapun seringkali diabaikan, tegur sapa sudah jarang dilakukan.

Merasa diri di atas roda kehidupan, berada dalam keberuntungan hidup, memiliki kapasitas sebagai penentu baik buruknya nasib seseorang, merasa kewenangan menjadi miliknya dan puncaknya kehebatan abadi menjadi miliknya. Bila situasi jiwa seperti ini menghinggapi seseorang dan terus merasuk jiwa maka bisa membuat orang lupa diri.

Menganggap orang lain tidak lagi penting, merasa tidak perlu lagi menghargai orang lain, bahkan tidak lagi merasa perlu menjawab sekedar permohonan ataupun pertanyaan yang diajukan. Karena merasa diri tidak lagi membutuhkan orang lain.

Bila kesombongan mulai merayapi diri. Merasa diri orang penting dan menganggap orang lain rendah. Merasa tidak perlu lagi menghargai orang lain, acuh tak acuh. Ketika berpapasan menjawab sapaan pun tidak.

Kisah Nyata Tetangga Sendiri

Saya tidak bermaksud untuk bersenang-senang di atas kejatuhan orang lain. Itu sangat saya hindari. Namun dengan cerita ini kita bisa belajar bahwa kesombongan dan keangkuhan itu adalah jalan menuju kejatuhan. Oleh sebab itu saya tidak mencantumkan nama dan alamat alamat yang sebenarnya dalam cerita ini.

Tetangga kami dulu sebut saja Pak Kampret, kehidupannya tidak banyak berbeda dengan kehidupan kami, serba kekurangan. Kerja tidak menetap, serabutan. Hidup seperti itu selama bertahun-tahun. Suatu saat berkat kerja kerasnya, dia mendapatkan kesempatan mengelola sebuah proyek.

Proyek yang ditanganinya membuahkan hasil. Dalam waktu singkat hidupnya berubah drastis. Dia sudah bisa membeli rumah dan pindah dari tempat kami. Mobilpun sudah dia miliki. Kami dan seluruh tetangga merasa ikut bergembira dan bersyukur tetangga kami ada juga yang hidupnya berubah. Namun sayang, semenjak keberuntungan hidup sedang berpihak kepadanya, sikapnya berubah total.

Setelah kepindahannya ke Sragen sesekali dia mampir ke Desa kami. Mungkin ada urusan bisnis. Ketika berkunjung ke rumah orang, dia hanya membunyikan klakson mobil dan tidak mau turun. Tuan rumah yang harus keluar dan menemuinya di kendaraan. Ia pun tidak pernah menyempatkan bertegur sapa atau berbincang sebentar ataupun bersalaman, padahal sudah lama tidak bertemu

Ternyata kesuksesannya hanya mampu bertahan beberapa tahun. Saya dapat kabar dari teman teman, bahwa perusahaan Pak Kampret mengalami kebangkrutan. Beberapa tahun kemudian, perusahaan yang Pak Kampret miliknya bangkrut dan seluruh assetnya di sita bank.

Suatu saat, ketika saya naik taksi dari apartement menuju Sragen, saya kaget, sopir yang saya tumpangi seperti Pak Kampret tetangga yang dulu kaya raya. Untuk memastikan saya tanya” Maaf, kalo tak salah ini pak Kampret ya?”

Ia menjawab dengan gagap: “ Benar, oh..ini Pak Botak ya?! Ini saya punya taksi beberapa unit cuma kebetulan sopirnya tak masuk, daripada nganggur taksinya, saya gantiin dulu.” Suaranya bergetar.

Setibanya di tempat tujuan, saya kasihkan selembar uang 100 ribu rupiah. Ketika Pak Kampret mau mencari kembaliannya, saya bilang simpan saja, cuma sedikit kok. Itulah pertemuan terakhir dengan Pak Kampret, semenjak itu kami tak pernah berjumpa lagi.

Semua orang sudah tahu dan sadar bahwa segala sesuatu di dunia ini tidak ada yang abadi. Suatu saat kaya di lain waktu bisa miskin. Sekarang sehat besoknya tiba-tiba sakit. Begitupun dengan jabatan, tidak juga abadi.

Namun seringkali jabatan yang disandangannya menjadikan orang lupa diri. Semua merasa terpenuhi, dan merasa tidak membutuhkan orang lain lagi. Padahal di atas langit ada langit. Jabatan yang tinggi di luar sana ada yang lebih tinggi lagi jabatannya. Merasa kaya, padahal di luar sana ada yang lebih kaya raya.

Jabatan yang membuat kita sombong, sesungguhnya sedang membohongi diri kita sendiri. Tengoklah ke atas. Ada banyak orang yang lebih berkelas. Sombong karena merasa kaya. Tengoklah ke atas, uang yang kita miliki mungkin bagi mereka adalah hanya recehan saja.

Sisihkanlah dalam kesibukan kita untuk bertegur sapa. Menanyakan kabar atau bagaimana lazimnya sebagai orang yang menyandang makhluk sosial. Luangkan beberapa menit untuk menjawab pesan orang, mungkin pesan itu sangat dibutuhkan jawabannya oleh mereka, walau mungkin bagi kita tidak penting.

Sehebat apapun karier kita, sepenting apapun kedudukan kita pada saat ini,atau sekaya apapun kita, syukurilah, tetapkan rendah hati. Karena bila kita rendah hati,maka ibarat orang berjalan dijalan datar,bila suatu waktu ,entah karena apa,kita tergelincir dan terjatuh,maka secara serta merta bisa bangkit berdiri dan berjalan lagi.

Sehebat apapun kedudukan kita, kehidupan wah kita yang terpenting adalah mensyukurinya. Tetaplah rendah hati. Jaga sikap kita. Suatu saat bilamana kita terpuruk maka kita bisa segera bangkit lagi, dukungan orang dan sikap kita sangat membantu untuk berdiri kembali. Rendah hati itu seumpama kita berjalan di jalan yang datar, bila terjatuh mudah kita bangkit lagi.

Beda bila mana kita memposisikan diri lebih tinggi dari yang lain, berlaku sombong dihadapan orang lain, ketika terpuruk sulit untuk bangkit kembali, seperti jatuh dari tepian jurang. Silaturahmi sudah terputus. Orang lain sudah terluka. Siapa yang akan menolong, membantu memapah kita?

Kalau ada jalan yang aman ,mengapa menempuh jalan yang berbahaya? Rendah hati tidak akan mengurangi wibawa kita. Rendah hati tidak akan mengurangi nilai harta yang dimiliki.

Rendah hati sama sekali tidak akan membuat rasa hormat orang akan berkurang pada diri kita. Malahan sebaliknya,dengan kerendahan hati,kita akan menjadi sahabat banyak orang. Sedangkan dengan kesombongan diri yang kita bangun sebagai ujud kebanggaan diri justru akan melukai hati banyak orang.

Kesombongan hanya akan mempersempit ruang gerak hidup kita, keangkuhan diri hanya mempertinggi tempat kita jatuh. Sekali kita terpeleset dan jatuh, maka akan sangat susah untuk bisa bangkit lagi.

Namun bila kita rendah hati adalah ibarat orang berjalan ditanah datar. Seandainya entah karena apa, terpeleset dan jatuh maka segera bisa bangun dan bangkit berdiri lagi.

Bagi orang yang sudah pernah mengalami hidup morat-marit, pasti sudah mendapatkan pelajaran hidup yang sangat berharga untuk tidak pernah menyombongkan diri larena memahami, bahwa apa yang dimiliki hari ini belum tentu esok hari masih menjadi milik kita. * [Dwi]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *