Pengundian Nomor Urut Paslon Pilbub Wonogiri Dikonsep ala Mantu, Ini Maknanya

Kedua Paslon menerima gunungan wayang dan biola dari KPU Wonogiri untuk dimainkan secara bersama-sama (dok.tim)

 

FOKUSLINTAS.com — Tahapan pengundian nomor urut pasangan calon (Paslon) Pilbup Wonogiri, Kamis (24/9) dinilai cukup menarik. Pasalnya, KPU Wonogiri sengaja mendesain suasananya dengan konsep kental akan budaya Jawa saat menggelar hajatan mantu atau pernikahan.

“Kami sedang punya gawe mantu (nikahan) untuk mengantarkan putra terbaik Wonogiri untuk menjadi pemimpin Wonogiri lima tahun ke depan,” kata Ketua KPU Wonogiri Toto Sihsetya Adi kepada wartawan.

Menurut dia, saat prosesi pengundian nomor urut juga dikemas sedemikian rupa sehingga budaya Jawa kental terasa. Dimana, nampak adanya kendi dan gunungan. Filosofi lain juga tercermin saat kedua Paslon memainkan alat musik biola.

Bahkan, nampak lima komisioner KPU mengenakan busana adat yakni baju lurik. Bedanya, komisioner yang laki-laki mengenakan blangkon dan yang perempuan memakai kebaya batik. Bahkan, sejak tahapan pendaftaran, konsep budaya itu sudah tercium. Hal itu terlihat adanya pemasangan pernak-pernik atau umbul-umbul yang terbuat dari janur kuning di pintu masuk Kantor KPU Wonogiri.

“Kendi dan gunungan merupakan simbol tradisi filosofi Jawa yang tinggi. Keduanya memberi arahan semangat peserta yang tengah berkontestasi di Pilkada. Sekeras apapun kontestasinya jangan melupakan budaya. Berpolitik secukupnya, persaudaraan selamanya,” bebernya.

Dikatakan, di tengah prosesi pengundian, ada sesi memecah kendi yang terdapat rangkaian bunga (ronce). Menurut Toto, makna Paslon memecah Kendi Ronce yakni memecah pamor Wonogiri supaya terkenal di seantero jagad yang ujungnya meningkatkan relasi perdagangan dan meningkatkan produktivitas masyarakat Wonogiri.

Sedangkan Gunungan dalam istilah pewayangan disebut “Kayon”, yang berasal dari kata “Kayun”. Gunungan mengandung filsafat tentang ajaran mengenai kebijaksanaan. Hal ini mengandung makna bahwa seluruh pasangan calon adalah tokoh-tokoh yang bijakasana.

Ditambahkan, Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Wonogiri Tahun 2020 adalah pertunjukkan kontestasi berisikan pelajaran yang tinggi nilainya. Lalu, adegan memainkan biola oleh kedua Paslon menyimbolkan bahwa politik adalah seni dan demokrasi merupakan simphoni.

Makna utama atau filosofi yang terkandung dalam konsep itu adalah ketika penyelenggara, masyarakat dan peserta Pemilu dapat menjalankan tugasnya masing-masing serta dapat memberikan kontestasi yang baik, maka ujung dari sebuah politik dan demokrasi adalah orkestra kehidupan yang dapat didengar, dirasa dan dilihat dengan nyaman.

“Kami berharap Wonogiri bisa membuat pertunjukan demokrasi yang menarik. Sehingga bisa menjadi contoh dalam prosesi demokrasi melalui Pilkada tahun ini,” tandasnya.* Tim-Khisan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *