OPINI: Orang Cerdas Identik Memilih Suka Menyendiri dan Memiliki Sedikit Teman

Orang cerdas suka menyendiri. Foto dok (fokuslintas.com )

 

FOKUSLINTAS com – Pernahkah Anda melihat di adegan film ketika orang yang memiliki kepintaran tinggi digambarkan penyendiri dan tidak memiliki banyak teman? Sebenarnya, di dunia nyata pun faktanya memang benar seperti itu.

Kebanyakan orang cerdas ternyata lebih suka menyendiri ketimbang berada di keramaian. Mengapa tingkat kecerdasan berhubungan dengan sifat penyendiri? Jawabannya yaitu terkait pentingnya kecerdasan emosional.

Gambaran orang cerdas yang terlihat lebih suka menyendiri di film-film ternyata terjadi bukan tanpa alasan. Pernyataan tersebut ternyata perlu kita buktikan melalui diberbagai penelitian juga.

Di dalam beberapa pengalaman dan pengetahuan yang kami dapat, disini mencoba menjelaskan mengapa orang cerdas memiliki kepuasan hidup yang lebih rendah saat harus bersosialisasi lebih sering dengan temannya.

Sejenak berbicara kelas intelek juga agak kemaki yach,… dimana memecahkan sebuah istilah soal teori psikologi evolusioner. Psikologi evolusioner merupakan cabang baru dalam psikologi yang mempelajari hubungan faktor genetik dengan perilaku manusia.

Dengan teori tersebut terlihat bahwa anggota kelompok yang pintar lebih efektif menyelesaikan masalah tanpa perlu bantuan dari teman-temannya yang harus banyak menghabiskan energi dengan gerudukan orang, tentunya hanya cukup segelintir orang saja dari tokoh “Batman” kalau diambil humor kartunnya….he..he….

Dari penelitian tersebut juga terbentuk gambaran bahwa orang yang kepintarannya biasa saja lebih senang bergaul dengan orang lain karena membantu mereka memecahkan masalah.

Sedangkan orang yang lebih cerdas suka menyendiri karena merasa lebih mampu menyelesaikan tantangan yang diberikan. Bagaimana kondisi ini bisa terjadi…?

Kesimpulan dari penelitian ini didapat setelah menganalisis survei dong…? Survei bertujuan untuk mengukur kepuasan hidup, kecerdasan, kesehatan mereka. Dan ternyata survey pun membuktikan bagaimana istilah kecerdasan emosional tersebut.

Salah satu temuan yang cukup penting dalam pembelajaran hidup ini adalah kebanyakan orang yang tingkat kecerdasannya di atas rata-rata cenderung tidak bahagia di keramaian.

Akan tetapi, ketika mereka dikelilingi oleh teman atau orang yang disayangi tingkat kebahagiannya meningkat.

Maka dari itu, mungkin bagi kebanyakan orang bersosialisasi dengan orang lain dapat meningkatkan rasa bahagia. Namun, hal tersebut tidak berlaku bagi beberapa orang cerdas yang lebih suka menyendiri.

Ada hal baru lagi, yaitu bagaimana memaknai hubungan teori savanna dan orang cerdas suka menyendiri, dimana sosok jiwa seseorang bagaimana juga memahami tentang arti mencintai diri sendiri.

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, penelitian yang dilakukan untuk melihat alasan orang cerdas lebih suka menyendiri menggunakan teori psikologi evolusioner, hal tersebut ternyata berkaitan erat dengan teori savanna.

Teori savanna merupakan prinsip dalam dunia psikologi, mengusungkan bahwa tingkat kepuasan hidup seseorang tidak hanya berdasarkan apa yang terjadi pada masa kini. Akan tetapi, kepuasan juga dapat didasarkan oleh reaksi nenek moyang yang mungkin terjadi saat ini.

Maksudnya, kebanyakan orang yang tinggal di pemukiman padat penduduk cenderung kurang bahagia dibandingkan ketika berada di pedesaan.

Hal ini merujuk pada kebiasaan leluhur yang jumlah penduduknya jauh lebih sedikit ketimbang saat ini, sehingga tidak menutup kemungkinan berada di keramaian justru tidak menyenangkan.

Kepadatan penduduk memiliki pengaruh terhadap kepuasan hidup. Hal ini dikarenakan keramaian mempunyai efek dua kali lebih besar pada orang dengan tingkat kecerdasan yang lebih rendah dibandingkan mereka yang pintar.

Satu hal lagi, kembali pada laptop yach…. bahwa orang cerdas pasti akan menyeleksi matang dan memilah tentang manfaat sampai memilih sahabat.

Maka itu, kebanyakan orang cerdas kurang puas terhadap kehidupan mereka ketika sering bersosialisasi di tengah keramaian. Mereka lebih senang melakukan hal-hal yang produktif ketimbang bercengkrama dengan teman-temannya sendiri di kedai kopi.

Selain itu, beberapa pengalaman akan membuat kita percaya bahwa kecerdasan seseorang akan berevolusi seiring dengan berkembangkan sifat psikologis mereka ketika menyelesaikan masalah.

Sebagai contoh, orang yang hidup pada zaman dahulu merasa harus bersosialisasi sebagai salah satu cara untuk bertahan hidup.

Sementara itu, dikehidupan sekarang, orang yang cerdas cenderung bisa menyelesaikan tantangan tanpa membutuhkan bantuan dari orang lain. Akibatnya, mereka mungkin kurang menghargai persahabatan karena merasa bisa sendiri.

Walaupun hasil temuan menunjukkan kebanyakan orang cerdas lebih senang menyendiri dibandingkan bersama orang lain, ada beberapa di antara mereka justru menyukai kebalikannya.

Temuan dari penelitian tidak serta merta menunjukkan semua orang cerdas suka menyendiri dan tidak senang bersosialisasi.

Apabila Anda menikmati berada di tengah keramaian, tidak berarti tingkat kecerdasan Anda di bawah rata-rata. Hal sebaliknya pun berlaku demikian. Semua penyendiri bukan berarti pintar.

Maka itu, ada beberapa orang cerdas yang mungkin lebih senang menyendiri, tetapi dapat beradaptasi dengan keramaian dan merasa nyaman di segala situasi.

 

( Eko Awi )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *