Ancaman Besar di RI: Kota-kota Ini Berpeluang Terkena Tsunami

Foto: Kerusakan Jembatan Kuning Palu setelah gempa bumi dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah, Indonesia, 1 Oktober 2018. (REUTERS)

 

FOKUSLINTAS.com – Potensi gempa bumi besar megathrust yang kemudian berlanjut jadi tsunami hingga 20 meter menjadi perhatian banyak pihak untuk memaksimalkan persiapan dan mitigasi.

Dalam Kajian Nasional Bahaya Tsunami untuk Indonesia disebutkan sebanyak 10 Ibukota provinsi memiliki probabilitas terbesar dalam terkena Tsunami. Urutan dari probabilitas terbesar adalah Denpasar, Jayapura, Bengkulu, Ternate, Manado, Banda Aceh, Manokwari, Padang, Ambon dan Mataram.

Denpasar memiliki peluang mengalami tsunami besar atau di atas 3 meter sebanyak 1,4%. Tsunami ini berpeluang terulang lagi di Denpasar dengan rata-rata 71 tahun.

Berikutnya Jayapura memiliki peluang terkena Tsunami besar sebanyak 1,27%. Tsunami besar berpeluang terulang di Jayapura setiap 79 tahun.

Sementara itu, Kota/Kabupaten yang berpeluang besar terkena Tsunami dengan tinggi di atas 3 meter adalah Lampung Barat. Probabilitas kejadian tsunami di kabupaten ini mencapai 7,3%. Berikutnya adalah Kepulauan Mentawai di Sumatera Barat dengan probabilitas 6,9%

Sebagai informasi, Kajian Nasional Bahaya Tsunami untuk Indonesia merupakan penelitian bersama dari sejumlah peneliti dari berbagai lembaga, yakni Nick Horspool, Ignatius Ryan Pranantyo, Jonathan Griffin, Hamzah Latief, Danny Natawidjaja, Widjo Kongko, Athanasius Cipta, Bustamam, Suci Dewi Anugrah, dan Hong Kie Thio.

Sebelumnya Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi & Tsunami BMKG Daryono mengatakan, meskipun kajian ini ilmiah dan permodelan dapat menentukan potensi magnitudo maksimum gempa megathrust, namun pada kenyataannya sampai saat ini belum ada teknologi yang mampu memprediksi secara tepat dan akurat kapan dan dimana gempa akan terjadi.

Daryono menegaskan, dalam situasi ketidakpastian ini, maka yang perlu dilakukan adalah upaya mitigasi dengan menyiapkan langkah-langkah konkret untuk meminimalkan risiko kerugian sosial ekonomi dan korban jiwa.(*)

 

[Awi]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *