Stigma Buruk Soal Wanita Yang Suka Keluar Rumah, Begini Penjabarannya

Foto: ist/net

 

FOKUSLINTAS.com – Kontruksi sebagaian besar masyarakat Indonesia masih terjebak dalam definisi malam dan siang. Malam masyarakat memandangnya sebagai tindakan amoral, sedangkan siang adalah moralis.

Dalam kaitannya, perempuan selalu menjadi obyek yang diluar batas. Keluar rumah siang atau malam bagi mereka adalah sesuatu yang tidak wajar, perempuan sembarangan, melanggar norma adat, agama dan sebagainya. dan hanya itu bisa dilakukan oleh para lelaki.

Pelajaran seperti ini kian lengket dalam satu kepercayaan konservatif. Alhasil, ruang stigma negatif menjadi superior untuk mengatur segala kebebasan perempuan. Dilain sisi, laki-laki terus aman dari stigma, sementara laki-laki banyak yang tergolong pelaku stigma itu.

Faktanya yakni aktivitas siang sampai malam sangat banyak dalam hal pelayanan publik. Sejujurnya pelurusan atas stigma seperti yang di atas harus berakal dan tidak menggunakan eksistensi konstruk amoral dan moralis. Karena dalam kehidupan ruang publik, moral dan moralis adalah urusan privat yang tidak boleh diintervensi oleh siapapun.

“Pelarangan dan stigma buruk adalah gejala otoritas sosial dengan pemaknaan moral yang berlebihan.”

Sering didapati, kejadian serupa diberbagai tempat. Awalnya di pikir ini merupakan bentuk perlindungan yang dilakukan untuk membatasi ruang ekspresi dan kebebasan perempuan. Pikiran ini yang pertama kali. Namun setelah berulang-ulang, muncul tanda tanya, ko regulasi sosial terhadap kebebasan perempuan makin sempit? dan kadang tak ada sama sekali.

Memahami soal seperti ini mungkin agak tabu, kadangkala gugup untuk memberikan edukasi sepantasnya. Sebab kemungkinan besar, akan menerima dampak keterasingan sosial yang amat dahsyat.

Pelarangan dan stigma buruk adalah gejala otoritas sosial dengan pemaknaan moral yang berlebihan. Bagi itu ambigu, tetapi faktanya ambiguitas sering menjadi doktrinasi bangunan moral.

Menyesatkan bila menempatkan perempuan keluar rumah atas satu derajat sosial. Kesosialan menjadi agung karena sering dianggap inilah eksitensi derajat manusia.

Anehnya lagi, tak jarang kita menemui laki-laki yang dilarang keluar rumah, itupun bisa mereka bantah dengan dalil fisik yang kuat., bisa menjaga diri. Sementara perempuan dengan banyak pertimbangan, bisa iya bila ada pengawalan.

Perlu dipahami bahwa, keluar rumah bagi perempuan bukan saja sebagai sesuatu yang buruk. Banyak tuntutan kerja siang malam sesuai aturan tempat ia bekerja, atau berjualan demi mengenyangkan mereka yang suka keluyuran perihal keburukan perlu distandarisasi dan diukur, bukan asal menjustifikasi.

Barangkali ini adalah bagian rumit yang kita hadapi untuk bagaimana kemudian memandang sesuatu tidak berdasarkan stigma negatif atau buruk. Belajar untuk mencari tahu proses apa yang dikerjakan dan kenapa dikerjakan, dan itu bukan satu hal yang sulit.

Daripada duduk dalam bayangan stigma tak karuan. Ini sama seperti, sholat tapi tidak khusyuk. [Sari]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *