Tentang Bermacam Tuah Akar Mimang Sesuai Kidung “Rumekso Ing Wengi”

Bermacam Tuah Akar Mimang. Foto/Ist

 

FOKUSLINTAS.com – Di tanah pertiwi Nusantara khususnya pulau Jawa, ada suatu keyakinan bahwa, jika berjalan dan kakinya tersandung atau melangkahi akar mimang, maka orang tersebut akan bingung tidak menemukan arah.

Jika melangkahinya di hutan/gunung, maka dia hanya akan berputar-putar di sekitar saja hingga tersesat bahkan tidak dapat pulang.

Selain itu, melansir dari berbagai sumber Akar mimang juga dapat disimpan dalam rumah, hal ini ber efek jika ada orang yang mau berniat jahat, mau mencuri atau merampok rumah tersebut, secara otomatis energi akar mimang akan membuat orang itu menjadi linglung. Menurut Orang yang pernah menjadi korban akar mimang, dia merasa berjalan sudah sangat jauh, akan tetapi pada nyatanya dia hanya berputar-putar di area rumah pemilik akar mimang.

Menurut si korban, dia kembali tersadar setelah pemilik rumah menepuk pundaknya.

Itulah sedikit cuplikan sebuah keyakinan orang Jawa terhadap akar mimang yang sangat kuat berkembang dimasyarakat.

Akar mimang / rimang sendiri sebenarnya merupakan akar / kayu yang terbentuk menggumpal, menggulung, melingkar secara alamiah. Namun, definisi global dari akar/kayu mimang ialah sebuah kayu/akar yang sulit dikenali pangkal dan ujungnya.

Keyakinan itu sudah mengakar dari zaman nenek moyang dahulu sampai sekarang. Bahkan, di zaman yang modern ini pun juga masih banyak kejadian-kejadian yang di sangkut pautkan dengan akar mimang.

Bukan sekedar mitos, tetapi kekuatan akar mimang, sudah kerap terbukti di kalangan masyarakat. Zaman dahulu masyarakat jawa menggunakan akar mimang sebagai sarana untuk melindungi rumah, kebun, toko, peternakan, tambak ikan dan sebagainya dari berbagai macam niat jahat orang, seperti pencurian, perampokan, dan penjarahan.

Sementara, tuah keberadaan dari sebuah energi mistis pada kayu memang tertuang dalam sebuah kidung “Rumeksa ing Wengi”, ciptaan Kanjeng Sunan Kalijaga yang menyinggung adanya “tuah” dalam sebuah kayu dengan kalimat “kayu aeng lemah sangar“. Artinya, kayu keramat tanah angker. Dengan demikian, pemanfaatan kayu-kayu bertuah itu sudah dilakukan orang-orang terdahulu sebagai sarana beraktivitas di bidang supranatural.

Adanya tuah pada jenis-jenis kayu tertentu itu termasuk pula akar mimang yang menyiratkan pertanyaan. Apakah pada kayu-kayu aeng tersebut terdapat radiasi yang sifatnya ilmiah? Hal Ini tentu perlu diselidiki. Namun jika kita analisis dari konsep spiritual bahwa, prasangka (keyakinan) dari 40 orang lebih, itu sama dengan prasangka satu waliyullah.

Dengan demikian, unen-unen orang Jawa terhadap orang bingung yang di identikkan seperti orang tersandung akar mimang itu justru menjadi energi yang berterbaran di alam semesata ini sehingga kemudian keyakinan adanya kekuatan pada akar mimang ini terakumulasi menjadi sebuah sabda yang ampuh karena, dalam prasangka itu terkandung unsur doa (ana inda dhanni abdibi). Tuhan mengikuti apa yang menjadi persangkaan hamba-Nya. Wallahu a’lam.

Perlu diketahui bahwa, untuk mendapatkan akar mimang sebenarnya gampang-gampang susah. Sebab, hingga saat ini, tidak ada sebuah patokan tempat atau lokasi khusus yang pasti terdapat akar mimang. Biasanya akar jenis kayu mimang ini dapat kita jumpai di tebing-tebing sungai maupun gunung.

Sedang manfaat menggunakan akar mimang ini sangat banyak sekali. Selain digunakan untuk keselamatan dan pagar gaib, Energi Akar mimang ini juga bisa membantu menyelesaikan masalah Anda di bidang sosial, ekonomi bahkan Asmara. Energi magis yang terkandung dalam akar mimang tersebut di percaya mampu memberikan kehidupan yang lebih baik bagi pemiliknya.

Adapun jenis kayu dan tuah yang kerap dipercaya memancarkan energi metafisik dari mimang diantaranya ;

*kayu waru; sebagai sarana penglarisan jika ditaruh dekat dagangan.
*kayu nangka; sebagai pemikat lawan jenis ketika dibuat pegangan / asesoris diri.
*kemuning; menangkal /membingungkan seseorang yang hendak berbuat jahat dls.

Itulah sekilas kepercayaan tinggalan lampau yang hingga sekarang masih kerap kita jumpai. Namun terlepas dari itu semua, hendaknyalah kita lebih mendahulukan logika ketuhanan sebelum mengarungi bahtera sarana maupun media.* [ Awi ]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *