Alam Ternyata Juga Ikut Memberi Tanda, Jika Tsunami Pulau Jawa Bakal Datang

Ilustrasi gelombang tsunami/Pixabay

 

FOKUSLINTAS.com – Tidak sedikit masyarakat yang panik mengenai beredarnya kabar potensi tsunami di Pulau Jawa, kabar tersebut beredar berdasarkan hasil riset para pakar Institut Teknologi Bandung (ITB).

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika BMKG menegaskan, riset yang dilakukan ITB seperti ini belum tentu terjadi.

Masyarakat juga tidak perlu terlalu panik dikarenakan berita akan terjadi tsunami setinggi 20 meter tersebut merupakan sekenario terburuk, tsunami setinggi 20 meter akan terjadi jika segmen yang selama ini terkunci di selatan Jawa Barat dan selatan Jawa Timur terlepas secara persamaan.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) serta beberapa tokoh juga telah menghimbau agar masyarakat lebih tenang, namun tetap waspada dengan membekali diri mengenai cara mitigasi atau evakuasi dan hal-hal yang harus dilakukan jika bencana tsunami benar terjadi.

Saat ini tengah dilakukan upaya mitigasi bencana, beberapa tim peneliti sedang melakukan penelitian lanjutan, seperti yang dilaksanakan tim peneliti Universitas Gajah Mada (UGM) kini mengembangkan sistem guna pendeteksi dini gempa.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BNPD) Lumajang, Jawa Timur juga membagikan informasi mengenai tanda-tanda alam untuk diwaspadai sebagai alarm bencana tsunami.

Tanda yang pertama, bisa dilihat dari prilaku burung-burung laut yang terbang ke daratan, kejadian itu adalah salah satu pertanda bahaya terjadinya tsunami. Dikarenakan insting hewani burung sangat peka.

Tanda kedua adalah, surutnya mata air di sumur rumah warga yang berada disepanjang bibir pantai secara mendadak dan diiringi surutnya air laut secara tiba-tiba.

“Burung-burung laut terbang ke darat dan air sumur masyarakat terutama masyarakat di sekitar pantai, harus ada siskamling saat ini,” ucap Kepala Bidang Kesiapsiagaan Bencana dan Logistik, Wawan HS, Selasa (29/9/2020).

Wawan sangat berharap, masyarakat bisa melaksanakan siskamling terutama masyarakat yang tinggal di Desa Tangguh Bencana (Desana), yaitu daerah dikawasan pantai yang sudah disiapkan alat Early Warning System (EWS) atau sirine yang telah ditempatkan di masing-masing titik terdampak tsunami, sirine tersebut ditempatkan ditempat umum seperti Masjid dan Balai Desa.

“Selain itu di masing-masing titik juga sudah disiapkan Warning Receiver System (WRS) untuk memonitor gempa yang terjadi diseluruh Indonesia selama 24 jam penuh oleh personil,” pungkasnya. * (Link)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *