Akhir Sebuah Cerita Mumet Akal Untuk Menghabisi Musuh Apalagi Melecehkan Kita, SANTET Saja…!!!

Mengulas Tentang Kinerja ‘SANTET’. Ilustrasi

 

FOKUSLINTAS.com – Pada tulisan kali ini sedikit mencoba mengurai bagaimana santet ini bekerja. Dengan kerendahan hati, jika disana-sini masih banyak kekurangan dalam mengupas tentang fenomena sosial yang disebut santet, teluh, tenung, suanggi atau sebutan lain yang pada intinya sama.

Ada beberapa tingkatan kuat tidaknya ilmu santet dilihat dari skala waktu dan jenis apa penyakit santet tersebut. Karena jika akal sehat dan logika sudah tak bisa diajak kompromi, terkadang bagi yang ingin lepas pasal pidana hanya santet tenung solusinya.

Berikut ini uraian sebab-sebab munculnya gejala penyakit santet pada diri seseorang yang disarikan dari beberapa pengalaman (pernah terkena) dan juga dari beberapa orang yang pernah terkena ilmu ini.

Pada tingkatan awal penyakit santet bisa terjadi akibat rasa benci yang memuncak sehingga mau tidak mau di pendendam akan mengeluarkan energi yang tanpa disadari melontarkan dari buah pikirannya menuju seseorang yang dibenci, sedangkan pada saat itu kondisi jiwa dari orang yang dibenci menjadi melemah.

Akibatnya hal ini memudahkan pengaruh kebencian tersebut masuk ke dalam sukma-sukma orang yang di benci. Pada akhirnya kemudian akan berakibat sakitnya raga orang yang dibenci. Semakin rasa benci tersebut semakin kuat pula pengaruh yang dideritai oleh si tertuju.

Dan seandainya si tertuju memiliki jiwa yang rendah juga akan mempercepat dari celaka sampai rasa sakit pada tubuhnya. Biasanya rasa sakit tersebut dapat berupa rasa ngilu, demam dan pusing. Bila di obati dengan berbagai jenis obat-obatan medis lain kadangkala malah akan memperburuk keadaan, karena pada prinsipnya obat medis telah ditolak, malah bisa mengumpulkan ditubuhnya zat-zat beracun yang berasal dari obat-obatan tersebut.

Rasa benci diantara dua orang yang saling membenci sama halnya dengan perang sukma (santet) yang akan membuat rasa sakit fisik atau jiwa pada yang kalah besar bencinya.

Seseorang dapat membuat orang lain sakit, bahagia, tunduk, menurut dengan cara sugesti terpola. Cara seperti ini biasanya dilakukan dengan jalan pemusatan konsentrasi segenap rasa kebencian, kasih sayang, atau nafsu pada seseorang yang hendak dituju.

Dengan cara seperti ini, lambat laun akan mempengaruhi segala aktifitas sukmanya orang yang dituju, hingga akhirnya terpola menjadi sesuatu hal yang diinginkan.

Ini bisa dipahami ketika anda mabuk cinta dengan seseorang, yang anda lakukan adalah banyak sekali merenungkan dan mengkhayalkan berbagai kegiatan yang hendak anda lakukan pada si pujaan hati tersebut, dan akibatnya apa? Anda dapat melihat bagaimana dia akan menaruh hati atau menuruti kehendak anda.

Daya sugesti yang terpola inipun ada bermacam-macam dan tujuannya pun menjadi lebih luas dan lebih kompleks permasalahannya.

Sugesti pada bagian ini bisa diarahkan pada hal-hal yang positif atau hal-hal negatif dan biasanya dilakukan oleh setiap orang walaupun tanpa latihan yang berbelit-belit, bahkan jika terus dilatih akan sangat berbahaya bagi orang lain. Karena apa yang dipikirkannya akan sangat berpengaruh terhadap pola pikir orang lain hingga menjadi kenyataan.

Jika sugesti ini kearah positif tentu tidak menjadi masalah. Sebaliknya, bila tertuju pada arah negatif tentu saja bisa mencelakakan diri sendiri atau orang lain.

Dampak dari latihan-latihan tahapan diatas seseorang biasanya mampu menciptakan sebuah media (miniatur) yang dapat disugestikan (ilusikan) berupa bayangan-bayangan seseorang yang hendak dituju, kemudian dibangkitkannya pola-pola pemikiran yang buruk.

Dengan adanya media tersebut yang telah terwujud menjadi amteri metafisik seorang penyantet bisa berbuat apapun terhadap si tertuju, misalnya boneka kecil tersebut (yang telah tersugesti : cipta) ditusuk dengan jarum. Maka akibatnya akan membuat sakit seseorang yang dituju oleh penyantet sesuai bagian yang telah diharapkan.

Akibat dari pengaruh-pengaruh ini biasanya si penderita hanya merasakan celaka atau bahkan sakit yang bukan main pada saat-saat tertentu, misalnya menjelang maghrib ataupun selepas maghrib, dimalam hari, atau tiap kali si penyantet menusukkan sesuatu ke arah miniatur tersebut. Dalam hal inipun yang memilki peranan dominan adalah kemampuan sugesti si penyantet terhadap korbannya.

Tetapi dengan cara-cara ini banyak hal-hal yang mesti diperhatikan dan menjadi catatan tersendiri dan sedikit rumit cara-cara melakukannya. Misalnya, harus dilibatkan unsur-unsur gaibiyah berupa perjanjian dengan jin.

Pada Ilmu Santet tingkat tinggi dapat dipakai jenis-jenis perewangan yang memang membidangi ilmu santet yang berasal dari energi benda pusaka, setan, jin yang kebanyakan mempunyai ciri-ciri khusus, yaitu si penderita merasa sakit dalam waktu-waktu tertentu atau setiap waktu karena adanya benda-benda yang menusuk tubuhnya.

Memang tak masuk akal bila benda-benda keras semacam jarum, kaca, paku, gunting, dan sebagainya masuk kedalam tubuh si penderita.

Dalam banyak kasus benda-benda ini bisa di foto rontgen tapi ada juga yang sinar-x tak dapat menangkap keberadaan benda keras tersebut. Anehnya, bila dirasakan (dipegang) benda itu ada.

Namun ada juga setelah beberapa kali rontgen dilakukan benda tersebut baru bisa terlihat akan tetapi ketika akan dioperasi benda tersebut berpindah-pindah dari tempatnya semula ke tempat yang lain sehingga menyulitkan dokter dalam melakukan operasi. Bahkan kadangkala operasi digagalkan karena tidak mampu mendeteksi posisi bendanya secara pasti.

Pada prinsipnya, pengiriman benda tersebut semula adalah materi riil. Namun materi nyata tersebut kemudian diubah menjadi materi maya yang di bawa makhluk gaib yang mampu menembus pori-pori manusia (lubang-lubang sejati manusia).

Oleh para makhluk gaib itu kemudian benda tersebut ditempatkannya didalam tubuh manusia yang dituju tersebut, sesuai dengan pola yang dikehendaki penyantet. Prinsip-prinsip santet ini juga digunakan untuk pemasangan susuk yang bertujuan untuk kewibawaan, kekebalan, kecantikan dan sebagainya.

Dari beberapa prinsip-prinsip santet tersebut dapat juga dibuat untuk sesuatu hal yang tampaknya baik seperti pemasangan susuk yang saya maksud diatas, akan tetapi biarpun melanggar hukum-hukum alam.

Energi tersebut berasal dari kekuatan eksternal yang terkondisi sedemikian rupa guna menuju tujuan-tujuan tertentu.

Pertanyaannya, apakah mungkin Tuhan membantu dan menyetujui tindakan-tindakan yang merugikan orang lain? Tentu ada suatu kekuatan yang konsekwensi lain yang mesti kita pikirkan bersama. Semoga tulisan ini bermanfaat dan menambah wawasan tentang fenomena yang bernama santet ini. (Awi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *