Jejak Ki Kebo Kanigoro di Pertapan Kaligayam, Akrab Ramai Pengunjung di Bulan Syuro

Pertapan Kaligayam, Rejosari, Semin. KH/ Kandar
(Pertapan Kaligayam, Rejosari, Semin) Foto: Istimewa

FOKUSLINTAS.com — Di Kecamatan Semin tepatnya di Desa Rejosari terdapat salah satu tempat yang disakralkan oleh masyarakat sekitar, yaitu Pertapan Kaligayam, lokasinya berada di Padukuhan Kaligayam Lor, Desa Rejosari, Semin. Sebagian masyarakat menganggap di area tersebut sebagai tempat mustajab untuk berdoa kepada Tuhan, untuk menyendiri atau merenung (Tapa/Semedi).

Adanya kebiasaan demikian ini sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Jawa, tempat yang memiliki cerita/ sejarah atau legenda turun temurun selalu mendapat perlakuan khusus, seperti di Kaligayam, pohon jati tua dalam kondisi roboh dan berumur ratusan tahun ini dianggap bukanlah tempat yang sembaragan.

Konon, Diceritakan oleh Joko Sriyanto, salah satu Juru kunci, bahwa tempat tersebut merupakan penginggalan jejak laku spiritual suatu kepercayaan salah satu tokoh trah keturunan kerajaan Demak yakni Kebo Kanigoro. Ia bertapa di tempat itu.

Dikisahkan, Kebo Kanigoro merupakan anak dari Ki Ageng Pengging, saat saudaranya, Kebo Kenongo masuk Islam, dirinya tidak ikut, tetap pada keyakinannya, pergi meninggalkan kerajaan, melakukan perjalanan dan ritual bertapa.

Sebelumnya, Kebo Kanigoro bertapa di Ambarawa, lantas berpindah-pindah, pernah berada di Tirtamaya, lalu Kaligayam, dan di Banyu Biru. Setiap kali bertapa dirinya selalu berganti nama, dua nama yang diketahui Joko, saat di Kaligayam benama Ki Ageng Sidik Perwoto Sari, lantas saat di Banyu Biru bernama Sidik Perwoto saja.

Saat di Kaligayam metode tapa yang dilakukan yakni Tapa Jejer, (berdiri) bersandar di pohon jati, lantas kemudian menyebabkab pohon jati tersebut roboh. Saat bertapa ia ditemui oleh Putri Banten, disebutkan pula si putri ikut meninggal dilokasi yang sama.

Kondisinya sekarang, pohon tersebut dibiarkan begitu saja, dari dua pohon yang tumbang itu pada salah satu akarnya dibuatkan bangunan/ bangsal kecil dengan satu pintu, ditambah bangunan terbuka semacam serambi/ pendopo memanjang ukuran sedang.

Sebagian masyarakat sekitar dan orang-orang dari luar sering mendatangi tempat ini, menyendiri (Tapa), atau berdoa. Tujuan pembangunan itu, dikatakan Joko, sebagai pengingat suatu riwayat, sekaligus sebagai tempat berteduh saat orang-orang mengunjungi. Tak hanya masyarakat biasa, kalangan pejabat pemeritahanpun banyak yang datang terlebih saat 1 Suro.

Posisinya dilereng perbukitan dengan banyak pohon rindang disekitarnya membuat suasana terasa sejuk dan dingin, terdapat pula aliran air yang kecil berasal dari sela-sela bebatuan di bukit itu. Dari tempat ini tak ada masyarakat yang berani bertindak sembarangan, mengambil kayu atau batu dan sebagainya, pengakuan Joko, mereka akan menemui hal buruk.

“Percaya tidak percaya, ada warga yang mengambil, lalu menemui hal-hal aneh, sakit-sakitan, ada yang anaknya menangis terus, dan lainnya. Lantas setelah benda yang diambil dibuang/ dikembalikan, dirasakan semua kembali normal,” tutur Joko.

Sebagai bentuk peringatan, munculah tradisi turun temurun di wilayah ini, sebutannya Baritan Agung, yaitu sebuah ritual sebagai penyambutan tanggal 1 Suro. Mereka membuat ingkung dan tumpeng, lalu oleh parogo atau petugas khusus yang memakai busana jawa mengarak tumpeng dari tempat memasak menuju pendopo Pertapan Kaligayam.

Pelaksanaannya, perkembangan saat ini kegiatan tersebut dianggap sebagai sebuah tradisi budaya sebagai pegingat. “Muncul keinginan dari pihak kami, pengelola/juru kunci, hal ini mendapat perhatian Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, mendapat dukungan untuk di masukkan ke kalender event tradisi budaya atau wisata spiritual.” Tandasnya.

(Awi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *