OPINI: Menilik Karakter Teman Yang Datang Kala Saat Butuhnya Saja

Foto: dok (Awi-Didik S/fokuslintas.com)

 

 

FOKUSLINTAS.com – Hai para pembaca fokuslintas.com sekalian…! Sudah sekitar beberapa hari Redaksi tidak menyapa anda semua lewat Opini.

Sedikit curcol dari Admin Redaksi nich, hidup terlalu datar memang sulit membangkitkan motivasi untuk menulis. Ide-ide juga sering berlarian tidak tentu arah.

Alhasil, aktivitas menulis menjadi pasif dan tidak produktif. Menurut pengalaman beberapa penulis sampai jurnalis, ide-ide menulis akan sering bermunculan jika kelima indra kita peka terhadap beribu, bahkan berjuta-juta stimulus yang ‘nyrempet’ keseharian kita.

Nah yang jadi masalah, bagaimana caranya memekakan indra????

Okey…kembali pada Laptop. Anda semua mempunyai teman bukan? Jika anda merasa memiliki banyak teman, tentunya anda juga pernah merasa kehilangan seorang teman.

Jika dipikir-pikir, teman itu layaknya pembeli, dan kita sebagai penjualnya. Pembeli akan datang ketika ia merasa memiliki perlu kepada penjual. Perlu untuk membeli sesuatu yang anda jual misalnya.

Coba kita kembalikan ingatan kita pada saat dimana kita kehilangan seorang teman yang kita sayangi. Kerap kita mengucapkan kalimat seperti ini, “Dia cuma mau datang (berteman) ketika ada butuhnya saja, jika tidak ada butuhnya ya pergi.”

Kalimat tersebut terdengar sedikit sadis dan terlalu menyalahkan sang teman yang sedang pergi membelakangi kita. Jika kita melihat dari sisi si sakit hati, maka yang akan kita lihat adalah suatu bentuk pemahaman jika selayaknya teman haruslah ada, baik saat ia membutuhkan sesuatu maupun tidak.

Nah, bagi pembaca yang kebetulan pernah mengalami hal ini, mari kita ulas suatu alasan kepergian teman yang terkesan kejam itu melalui logika yang sehat.

Berhubungan dengan kata Butuh, kita tahu dan sangat faham jika setiap orang, setiap makhluk-Nya mempunyai suatu kebutuhan terhadap dunia diluar dirinya.

Kata ‘butuh‘ biasanya kita jodohkan dengan kata ‘ingin‘. Misalnya, “Saya ingin membeli gula-gula,” akan berbeda maknanya dengan kata “Saya butuh membeli gula-gula.” Artinya, kebutuhan adalah sesuatu yang memang penting untuk dipenuhi, sedangkan keinginan sifatnya masih sekunder dan bisa di pending. Tapi siapa nyana jika ternyata memenuhi keinginan juga merupakan suatu bentuk memenuhi kebutuhan akan rasa ingin itu sendiri.

Sebenarnya ada yang luput dari bahasan ini, yakni kebutuhan bukan hanya berkisar pada kebutuhan materialistik saja, tapi juga psikologis manusia.

Setiap manusia membutuhkan seorang teman. Jika anda pernah belajar ilmu sosial, manusia merupakan makhluk sosial yang tak bisa lepas dari manusia, bahkan makhluk yang lainnya. Inti dari pembahasan di atas adalah bahwa kebutuhan memang benar-benar penting untuk dipenuhi.

Sekarang hubungannya dengan pertemanan. Anda pikir, untuk apa anda berteman dengan orang yang anda anggap cocok untuk anda jadikan sebagai teman? Anda pikir, untuk apa mereka mau dan bersedia berteman dengan anda?

Sekarang anda pikir lagi, mengapa salah satu dari mereka tiba-tiba menjauh dari anda? Mengapa tiba-tiba mereka menjadi musuh anda? Atau bahkan mengapa mereka bisa tiba-tiba tidak menjadi siapa-siapa dalam hidup anda? Jawabannya hanya ada satu, yaitu : “Mereka berteman dengan anda ketika mereka butuh, dan meninggalkan anda ketika tidak membutuhkan anda lagi.”

Masih ingat dengan bahasan tentang kebutuhan psikologis? Dalam pertemanan, tidak dapat disangkal jika kita membutuhkan manusia atau objek lain untuk kita jadikan sebagai teman. Kita butuh teman untuk berbagi, mendengarkan ucapan kita, mendukung kita, dan lain sebagainya.

Dan pertemanan dengan manusia akan berjalan hanya jika kedua belah pihak merasa masih membutuhkan kita. Pada saat mereka sudah tidak membutuhkan kita, baik sebagai teman bicara atau semacamnya, jelas mereka akan meninggalkan kita. Semua terasa bersifat alamiah bukan?

Sebenarnya dalam berteman, setidaknya dalam hal ini, kita hanya butuh untuk mempertahankan apa yang teman kita butuhkan pada diri kita tetap melekat pada kita. Kita sebagai orang yang enak diajak bicara misalnya, maka untuk menjaga agar teman kita tidak berlari adalah menjaga sifat enak diajak bicara tersebut tetap berada dan menjadi identitas kita.

Maka, selama kita memiliki sifat tersebut, teman akan tetap merasa butuh terhadap kita, dan tidak akan berlari menjauhi kita.

 

 

SALAM REDAKSI

( Awi-Didik S )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *