Perlu Anda Tahu, Berikut Ini Asal Usul Tentang “KUTANG” Yang di Pakai Para Wanita

Inilah Asal Usul “KUTANG” Yang di Pakai Para Wanita. (Ilustrasi)

FOKUSLINTAS.com – Seiring perkembangan zaman, bra tak hanya berfungsi sebagai penyangga payudara, namun juga memiliki beragam manfaat kesehatan.

Bertelanjang dada bagi perempuan Indonesia di masa lampau bukanlah hal tabu, pun tak ada tudingan porno ataupun pamer keseksian. Hal tersebut karena tradisi kala itu belum mengenal penutup dada seperti zaman sekarang.

Namun seiring perkembangan zaman, bra kini menjadi bagian penting dari pakaian wanita Indonesia. Pernahkah Anda bertanya-tanya tentang asal usul sejarah bra? Dan mengapa di Indonesia disebut dengan nama Beha atau kutang?

Dalam novel Pangeran Diponegoro: Menggagas Ratu Adil (2007), Remy Sylado menggambarkan bagaimana wanita Indonesia mengenal bra dengan kata kutang. Diceritakannya kala itu tahun 1808, bangsawan berdarah Spanyol-Perancis, bernama Don Lopez Comte de Paris, melihat perempuan Jawa yang ikut membangun jalan raya pos Anyer Panarukan hanya memakai pakaian yang menutup bagian bawah tubuh mereka saja. Dada mereka terlihat. Don Lopez lalu memberi sebuah kain pada perempuan pribumi yang tercantik diantara mereka dan menyuruhnya agar menutup bagian berharga di atas perut itu.

“Coutant! Coutant!” perintah Don Lopez. Dalam bahasa Perancis, coutant diartikan sebagai “berharga”.

Dan belakangan orang Indonesia mengucapkannya sebagai kutang. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kutang dimaknai sebagai pakaian dalam wanita untuk menutupi payudara atau baju tanpa lengan.

Menurut Cultural Encyclopedia of the Breast (2014), asal usul sejarah bra bermula dari Mary Phelps Jacob alias Caresse Crosby yang menciptakannya pada tahun 1910, ketika akan mengenakan gaun untuk pergi ke sebuah pesta. Dia merasa bermasalah dengan korset yang sudah berabad-abad di gunakan perempuan Eropa di berbagai belahan dunia. Dan pada tahun 1914, bra pun dipatenkan sebagai karyanya. Kendati demikian ia tak berperan penting dalam industri bra.

Tak hanya di Eropa, wanita pengguna bra juga makin meningkat populasinya di Hindia Belanda pada tahun 1920an. Setelah para perempuan Belanda menggunakannya, perempuan pribumi mengikutinya. Lidah orang Indonesia menyebutnya BH (baca: beha), yang merupakan singkatan dari Buste Houder (wadah penyangga payudara).

Namun sekarang ini kata bra sudah mulai menggeser kata “beha” atau “kutang’. Kata bra berasal dari bahasa Prancis, “brassiere” dan diterima dalam bahasa Indonesia melalui bahasa Inggris. Istilah brassiere ini
tercantum pada Oxford English Dictionary tahun 1912. Brassiere yang merupakan akar kata dari bra kali pertama digunakan oleh majalah Vogue pada 1907. Demikian seperti dilansir Wikipedia.

Jauh sebelum bra, pakaian dalam wanita disebut korset yang menutupi bagian perut dan dada. Adalah Herminie Cardolle, pengusaha pakaian yang pertama kali menciptakan korset pada tahun 1889. Beberapa literarur menyebutkan, jauh sebelum korset ada, penggunaan penutup dada sudah ada sejak 2500 tahun sebelum Masehi, di mana saat itu para wanita di pulau Kreta, Yunani telah menggunakan pakaian sejenis bra di luar pakaian mereka untuk mengangkat payudara mereka. Tahun 450 sebelum Masehi, perempuan Romawi menggunakan semacam kemben untuk mengatur ukuran payudara mereka.

Seiring perkembangan zaman, kini bra tak hanya berfungsi sebagai wadah penyangga payudara, namun juga memiliki manfaat kesehatan bagi wanita yang menggunakannya.* [ Khisan-Awi ]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *