Kiprah Tokoh Pejuang Melawan VOC, Sunan Kuning Penguasa Terakhir Era Kasunanan Kartosuro

Makam atau petilasan Sunan Kuning di bagian barat Kota Semarang, di atas bukit Kalibanteng Kulon, Semarang Barat, Semarang. (Foto: dok/fokuslintas.com)

 

FOKUSLINTAS.com – Sunan Kuning punya banyak nama di antaranya Sri Susuhunan Amangkurat V. Ia adalah penguasa terakhir di Kasunanan Kartasura sebelum akhirnya direbut kembali oleh Pakubuwana II atas bantuan VOC (Bahasa Belanda: Verenigde Oostindische Compagnie), tetapi tak lama Amangkurat V pun tersingkir. Kemudian Pakubuwana II mendirikan Kasunanan Surakarta.

Amangkurat V sebagai pemimpin persekutuan Tionghoa-Jawa melawan VOC dalam peristiwa Geger Pacinan dijuluki Sunan Kuning yang berasal dari kata cun ling (bangsawan tertinggi). Karena lidah orang Tionghoa susah mengejanya, Sunan Kuning menjadi Soen An Ing.

Tentang VOC. Hindia Belanda pada abad ke-17 dan 18 tidak dikuasai secara langsung oleh pemerintah Belanda namun oleh perusahaan dagang bernama Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC). VOC telah diberikan hak monopoli terhadap perdagangan dan aktivitas kolonial di wilayah tersebut oleh Parlemen Belanda pada 1602. Markasnya berada di Batavia, kini bernama Jakarta.

VOC bertujuan mempertahankan monopoli terhadap perdagangan rempah-rempah di Nusantara. Hal ini dilakukan melalui penggunaan dan ancaman kekerasan terhadap penduduk di kepulauan-kepulauan penghasil rempah-rempah, dan terhadap orang-orang non-Belanda yang mencoba berdagang dengan para penduduk tersebut.

Contohnya, ketika penduduk Kepulauan Banda terus menjual biji pala kepada pedagang Inggris, pasukan Belanda membunuh atau mendeportasi hampir seluruh populasi dan kemudian mempopulasikan pulau-pulau tersebut dengan pembantu-pembantu atau budak-budak yang bekerja di perkebunan pala.

VOC menjadi terlibat dalam politik internal Jawa pada masa itu, dan bertempur dalam beberapa peperangan yang melibatkan pemimpin Mataram dan Banten.

Amangkurat V atau Sunan Kuning merupakan salah satu tokoh yang berperan penting dalam peristiwa Geger Pacinan bersama Mangkunegara I (Pangeran Sambernyawa). Dalam Geger Pacinan, Persekutuan Tionghoa-Jawa melawan VOC, Sunan Kuning bersama Kapitan Sepanjang (Khe Panjang) dan Mangkunegara I (Pangeran Sambernyawa) mengobarkan perlawanan sengit terhadap VOC di wilayah kekuasaan Mataram. Perlawanan ini disebut sebagai pemberontakan terbesar yang dihadapi VOC selama berkuasa di Nusantara.

Para pemberontak Tionghoa-Jawa menobatkan Raden Mas Garendi sebagai Sunan Kartasura bergelar Sunan Amangkurat V Senopati Ing Ngalogo Ngabdulrohman Sayidin Panotagomo pada 6 April 1742 di Kabupaten Pati. Ketika itu, cucu Amangkurat III yang dibuang VOC ini baru berumur 16 tahun, sumber lain menyebut 12 tahun. Dia pun dianggap sebagai ‘Rajanya orang Jawa dan Tionghoa’.

Pengangkatan Sunan Kuning sebagai simbol perlawanan rakyat Kartasura yang dikhianati Pakubuwana II, yang bersekutu dengan VOC. Padahal, sebelumnya dia mendukung perlawanan Tionghoa-Jawa terhadap VOC. Dia meminta pengampunan VOC, karena orang-orang Tionghoa kalah perang, banyak pembesar Jawa tidak tertarik pada kebijakannya, dan bagian timur kerajaannya jatuh ke tangan Cakraningrat IV, raja Madura yang bersekutu dengan VOC.

Balatentara Sunan Kuning memasuki Kartasura pada Juni 1742 setelah sebelumnya bertempur dari Salatiga hingga Boyolali. Kapitan Sepanjang atau Khe Panjang yang bertugas di garis belakang sebagai pengawal Sunan Kuning, bertindak sebagai komandan tentara pendudukan.

Pakubuwana II melarikan diri dari Kartasura, dievakuasi Kapten Van Hohendorf (VOC) ke arah timur Kartasura, menyeberangi Bengawan Solo ke Magetan. Peristiwa itu oleh orang Jawa ditandai dengan Candrosengkolo atau penanda waktu yang berbunyi ‘Pandito Enem Angoyog Jagad’ artinya Raja yang telah kehilangan keratonnya.

Sunan Kuning bertahta di Kasunanan Kartasura, terhitung 1 Juli 1742. Dia mengangkat komandan perlawanan, seperti Mangunoneng sebagai patih dan Raden Suryokusumo atau Pangeran Prangwedana sebagai panglima perang.

Segera setelah itu, Sunan Kuning merencanakan menggempur pasukan VOC di Semarang. 1200 prajurit gabungan Tionghoa-Jawa dipimpin Raden Mas Said atau Mangkunegara I dan Singseh atau Tan Sin Ko menuju Welahan.

Di Welahan mereka bertempur melawan pasukan VOC dipimpin Kapten Gerrit Mom. VOC yang menyerang dari berbagai sudut berhasil memukul mundur pasukan gabungan Tionghoa-Jawa. Setelahnya berbagai kekalahan dialami pasukan gabungan Tionghoa-Jawa. Beberapa pimpinan terbunuh seperti Tan We Kie di Pulau Mandalika, lepas pantai Jepara dan Singseh tertangkap di Lasem dan dieksekusi mati di sana.

Pada November 1742, keadaan semakin tidak berpihak kepada Sunan Kuning. Kartasura diserang dari tiga penjuru: Cakraningrat IV dari arah Bengawan Solo, Pakubuwana II dari Ngawi, pasukan VOC dari Ungaran dan Salatiga. Sunan Kuning meninggalkan Kartasura dan mengungsi ke arah selatan bersama pasukan Tionghoa. Walaupun Kartasura telah jatuh, perlawanan terus berlangsung di berbagai tempat di wilayah Jawa.

Akhir dari perjalanan Sunan Kuning terjadi pada September 1743 saat tedesak di sekitar Surabaya bagian selatan. Terpisah dari kawalan Kapitan Sepanjang (pengawal Sunan Kuning), Sunan Kuning menyerahkan diri ke loji VOC di Surabaya di bawah pimpinan Reinier De Klerk, disusul banyak pemberontak lain. Setelah beberapa hari ditawan di Surabaya, ia bersama beberapa pengikutnya dibawa ke Semarang lalu ke Batavia, hingga akhirnya diasingkan ke Sri Lanka.

Sumber riwayat Semarang menyebutkan makam atau petilasan Sunan Kuning berada di bagian barat Kota Semarang, di atas bukit Kalibanteng Kulon, Semarang Barat, Semarang.

Sekitar makam Sunan Kuning itu, sejak paruh kedua dasawarsa 1960-an dijadikan lokalisasi pelacuran, nama Lokalisasi Sunan Kuning pun lebih populer dibanding nama resmi kawasan Resosialisasi Argorejo dan ini terus dikecam banyak kalangan yang mengira sebutan Sunan niscaya berhubungan dengan Walisongo dan penguasa Kasunanan.

Kecaman demi kecaman akhirnya berhenti seiring keputusan Pemerintah Kota Semarang yang menyatakan Sunan Kuning terlarang bagi aktivitas prostitusi. Sunan Kuning akan dikembangkan sebagai kawasan wisata sejarah dan religi.* (Awi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *