OPINI: Mencari Sosok Pemimpin Yang Amanah

Foto : dok (DPC BPAN LAI Sragen dan DPC BPAN LAI Magelang)

 

FOKUSLINTAS.com – Saudaraku.. memilih pemimpin amanah ibarat mencari “jarum dalam jerami”., sulit…??

Namun tidak mustahil, masih banyak pribadi berkualitas yang amanah untuk menjadi pemimpin, pasti memiliki kepentingan kekuasaan. Dalam agama pula kekuasaan bukanlah hal yang dilarang.

Kekuasaan dan politik dianjurkan selama tujuannya untuk memakmurkan dan melindungi masyarakat, sesuai visi-misi kekhalifahan. Karena itu, kekuasaan harus didapatkan dengan tetap berpegang pada etika.

Sebagai umat beragama, ajaran telah memberikan panduan etika dalam kehidupan manusia, termasuk etika dalam politik. Namun, yang terjadi, tidak sedikit pemimpin yang menghalalkan segala cara dalam memperoleh dan mempertahankan kekuasaan.

Etika politik adalah sesuatu yang sangat penting dan bagian dari ibadah. Politik harus dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip ibadah. Politik juga berkenaan dengan prinsip dalam pengelolaan masyarakat.

Karena itu prinsip-prinsip hubungan antar manusia seperti saling menghargai hak orang lain dan tidak memaksakan kehendak, kepada rakyat ataupun aparat penyelenggara pemerintahan, harus berlaku dalam dunia politik.

Etika politik merupakan pengejawantahan dari nilai-nilai kebenaran, kejujuran, keadilan dan tanggung jawab atas realitas kehidupan.

Salah satu etika paling mendasar ialah menegakkan rasa adil, biarpun istilah adil itu tidaklah sama. Ajaran mengisyaratkan bentuk dan sistem pemerintahan seperti apapun yang dijalankan yang penting adalah keadilan dan kebenaran harus betul-betul ditegakkan di dalamnya.

Saudaraku, ditengah maraknya hajatan pemilihan pemimpin, biaya demokrasi di Indonesia menjadi sangat mahal.

Terkait etika politik, karena maraknya politik uang atau “serangan fajar” untuk memenangkan suara rakyat, praktik korupsi seakan dimaklumi sebagai konsekuensi yang tidak terhindari. Para wakil rakyat, para pemimpin dari pusat hingga daerah, “konon harus mengembalikan modal” dengan cara yang tidak baik.

Alhasil, banyak pemimpin kita yang terjerat tali hukum lembaga anti-rasuah. Ini memang dilema dan tantangan kita. Meskipun kita harus yakin semua ini bisa dibenahi.

Kita harus yakin bahwa cara-cara kotor dalam berpolitik, bisa dihindari. Itulah sebabnya sebagai negara demokrasi kita selalu mencanangkan pemilihan pemimpin yang bersifat jurdil (jujur dan adil), serta luber (langsung, umum, bebas dan rahasia)

Negara kita sangat mengecam praktik korupsi, atas pemberi suap, penerima suap, dan perantaranya, yakni orang yang menghubungkan keduanya. Kecaman terhadap korupsi ini sangat tepat, karena tidak hanya mencerminkan tindakan yang tidak amanah. Tetapi juga menciderai rasa keadilan di masyarakat.

Tujuan menjadi pemimpin tentulah melayani rakyat. “Memimpin adalah menderita”. Itulah mengapa Khalifah Umar bin Khattab selalu memastikan rakyatnya sudah makan, sebelum beliau makan. “Kalau ada kelaparan, biar aku yang lapar duluan. Kalau ada makanan, biar aku yang terakhir kenyang”, begitu keteguhan beliau.

Praktik korupsi yang terjadi di negeri ini, telah menciptakan ketidakpercayaan publik. Hal ini tentu menggerogoti kemurnian demokrasi kita, karena hajatan politik, baik pusat maupun daerah, sering hanya diisi oleh “tradisi” politik uang. Rakyat memilih pemimpin karena politik uang yang tidak seberapa. Pemimpin menarik suara rakyat, lebih melalui uang atau juga tekanan kepada rakyat dengan ancaman bantuan atau kerjasama dihentikan, atau di”non-job”kan dari posisinya saat ini. Bukan dilihat dari kualitas program dan ketulusan untuk mengabdi yang ditawarkan oleh calon pemimpin.

Menuju Pilkada serentak Tahun 2020, mari kita canangkan bersama dan mengedukasi masyarakat untuk mencari pemimpin yang amanah. Mari menjaga agar pemimpin kita tetap amanah. Tugas kita sebagai rakyat ialah memilih dengan cerdas, agar praktik pemerintahan kita beretika dan tidak koruptif, karena ini akan menentukan kinerja pembangunan dan sejahtera masyarakat, minimal untuk ke depan (2021 – 2024).

 

SALAM REDAKSI

 

( EKA AWI )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *