Dampak Kecanduan Game, Selain Perkembangan Mental Buruk Juga Tambah Goblok dan Pemalas

Ilustrasi edan karena kecanduan game (ist)

 

FOKUSLINTAS.com – Di era milenial ini, sejak kecil anak-anak, remaja hingga dewasa sudah mengenal berbagai jenis gawai dan teknologi modern. Akan tetapi, penggunaan gawai yang berlebihan, terutama untuk main game, selain bisa membuat anak kecanduan game juga pemalas dan perkembangan mental lemah hingga goblok.

Sudah banyak kasus anak kecanduan game dan sulit untuk melepaskan ketergantungan ini.

Tanda-tanda anak kecanduan game adalah ketika ia mulai mengabaikan hal-hal lain demi bermain game. Jika Anda sebagai orang tua bingung apakah anak terlalu lama bermain game, kenali tanda-tanda kecanduan berikut ini.

Perubahan mood

Anak menjadi rewel atau bahkan mengamuk ketika diminta menghentikan aktivitasnya bermain game dan kembali tenang saat diperbolehkan bermain lagi. Seiring berjalannya waktu, anak mungkin akan menjadikan game sebagai pelarian ketika ia menghadapi masalah sulit.

Terlalu sibuk membahas game

Meski anak sedang melakukan hal lain, ia tidak akan pernah bosan membicarakan atau bahkan mengaitkan aktivitasnya dengan game.

Malas membersihkan diri

Seperti halnya kecanduan narkotika, anak yang kecanduan game mulai mengabaikan dirinya sendiri. Ia jadi malas mandi karena tak mau meninggalkan game. Anak pun semakin tidak peduli dengan kebersihan diri dan penampilannya.

Mengorbankan kesehatan tubuh

Bermain game selama berjam-jam membuat mata menjadi kering, nyeri pada bagian tubuh tertentu (jari, punggung, dan leher), dan juga sakit kepala.

Tidak memperdulikan nilai akademis di sekolah dan kerjaan

Anak lebih mementingkan kesenangannya bermain game ketimbang kewajibannya untuk sekolah dan menyelesaikan tugas-tugas juga kerjaan.

Menarik diri

Anak menjadi malas menghabiskan waktu bersama keluarga dan teman. Ia lebih senang menyendiri untuk bermain game ketimbang bersosialisasi.

Faktor Psikologis

Anak kecanduan bermain game, tentunya berbeda dengan kecanduan zat kimia atau obat-obatan. Meski demikian, dari sisi psikologis, bermain game bisa meningkatkan hormon zat dopamin di otak yang membuat anak ketagihan.

Bagi anak, dunia fantasi yang ada di permainan atau game sangat mengasyikkan hingga mereka sulit membedakan antara realita dan virtual. Bahkan, anak kecanduan game akan lebih tertarik dunia virtual ketimbang dunia nyata.

Terlalu sering bermain game bagi anak terlihat sepele dan tidak sebahaya kecanduan overdosis obat. Namun, menurut para ahli, kecanduan bermain game juga bisa berdampak pada kehidupan anak.

Anak kecanduan bermain game dapat dilihat dari kebiasaan bermain selama 4-5 jam setiap hari. Tidak bersosialisasi, tidak mengerjakan PR, malas berkembang, malas kerja atau tidak pernah berolahraga di luar rumah. Tentunya, hal ini akan mengganggu kemampuan sosial anak.

Mengatasi anak kecanduan bermain game sebenarnya sama seperti perawatan kecanduan lainnya. Namun, ada satu hal yang menjadi perbedaan penting. Mereka telah menetapkan gawai seperti komputer, HP, tablet, dan semacamnya sebagai bagian penting dalam kehidupan sehari-hari.

Karena anak kecanduan bermain game tidak bisa jauh dari gawai atau komputer, Anda harus menetapkan aturan agar mereka bisa belajar bertanggung jawab.

Para ahli menyarankan untuk membatasi waktu bermain game anak hanya satu jam setiap hari.

Alihkan perhatian anak dengan jenis permainan lain yang menyenangkan di luar rumah, sesuai dengan bakat dan minat anak, misalnya seni, bekerja atau olahraga.

Kuncinya adalah menunjukkan kepada anak bahwa mereka sebenarnya hanya perlu menyadari bahwa dalam kehidupan nyata ada berbagai jenis kebahagiaan yang bisa didapatkan. Bahkan, kebahagiaan di dunia nyata jauh lebih menyenangkan dan seru dibandingkan kebahagiaan di dunia virtual.*

[ Eyang Prapto ]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *