Ketua Umum LAI: Tidak Ada Tawar Menawar Untuk Pertahanan dan Keamanan, Negara Harus Tegas

Ketua Umum Lembaga Aliansi Indonesia (LAI) H. Djoni Lubis. Foto: Istimewa

 

FOKUSLINTAS.com – Terkait penangkapan Sugi Nur hari ini, Sabtu (24/10/2020), dan beberapa anggota KAMI beberapa waktu lalu, Ketua Umum Lembaga Aliansi Indonesia (LAI) H. Djoni Lubis menyampaikan apresiasi.

“Memang harus begitu. Tidak boleh ada tawar menawar kalau sudah menyangkut urusan pertahanan dan keamanan, Negara harus tegas, tidak boleh lembek apalagi kalah dengan tindakan siapapun yang membahayakan pertahanan dan keamanan Negara,” ujar H. Djoni Lubis dilansir dari aliansiindonesia.id jaringan fokuslintas.com.

Pertahanan dan keamanan itu, menurut Ketua Umum LAI, sangat terkait erat.

“Jika keamanan terus dirongrong melalui HOAX, hasutan, ujaran kebencian yang kemudian memicu kegaduhan secara massif, hal itu bukan hanya ancaman terhadap keamanan, tapi juga pertahanan Negara,” imbuhnya.

Jika kriminal biasa dampaknya sangat terbatas, namun hasutan dan ujaran kebencian dampaknya sangat luas, sudah mengancam keamanan Negara.

“Jika keamanan terancam, pertahanan Negara juga menjadi lebih rapuh karena sumber daya untuk pertahanan mau tidak mau harus dikerahkan atau dialihkan untuk mengatasi masalah ancaman keamanan,” paparnya.

Terkait aktifitas KAMI, H. Djoni Lubis menegaskan pada dasarnya untuk berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat adalah hak setiap warga Negara yang dijamin oleh konstitusi. Namun dalam setiap hak juga melekat kewajiban.

“Kewajibannya apa? Tunduk patuh pada peraturan perundang-undangan yang berlaku, serta ikut menjaga bangsa dan Negara Republik Indonesia,” tegasnya.

Dia menambahkan, jika memang tulus mau berbuat untuk kebaikan bangsa dan Negara, sangat banyak jalan dan cara yang bisa dilakukan, bukan dengan cara membuat kegaduhan dan menimbulkan instabilitas keamanan.

“Soal tulus atau tidak, masing-masing yang bersangkutan dengan Tuhan yang tahu. Namun bisa dilihat dari indikasinya. Jika lebih didorong oleh rasa sakit hati atau ketidakpuasan pribadi, tulusnya dari mana?” lanjut H. Djoni Lubis.

Begitupun dengan pernyataan seorang oknum mantan Panglima TNI di sebuah stasiun televisi swasta, H. Djoni Lubis sangat menyayangkan.

“Meski konteksnya untuk menjawab pertanyaan, dan seolah-olah membela pejabat-pejabat TNI yang masih aktif, pernyataan tentang kucing dan kucing kurap itu sangat tidak pantas,” kata dia.

Menurutnya pengabdian seorang prajurit TNI terhadap bangsa dan Negara itu seumur hidup.

“Saat menjadi purnawirawan itu hanya purna berdinas, secara formal. Namun Sapta Marga dan Sumpah Prajurit wajib dipegang teguh seumur hidup, pengabdian terhadap bangsa dan Negara tidak pernah purna,” tegas Ketua Umum LAI.

Terhadap oknum yang bersangkutan, H. Djoni Lubis menyarankan agar sebaiknya menempuh jalan lain yang lebih terhormat dan lebih bisa menjaga marwah serta martabat TNI pada umumnya.* Awi 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *