Kisah Cerita Khisan, Eks Pemandu Karaoke atau LC di Jateng yang Pernah Jadi Simpanan Pejabat

Ilustrasi wanita simpanan. (Foto: Istimewa)

 

FOKUSLINTAS.com – Kisah ini datang dari seorang wanita dari Boyolali, Jawa Tengah, yang menjadi tulang punggung bagi keluarga. Ia bekerja untuk ibu dan adik-adiknya yang masih memerlukan biaya sekolah. Dia rela menjadi istri simpanan seorang pejabat negara tanpa memperdulikan perasaannya sendiri. Bahkan ia harus membuang jauh-jauh cita-citanya melanjutkan kuliah.

Sebut saja namanya Khisan (bukan nama sebenarnya). Perempuan kelahiran Boyolali pada 1985 ini adalah anak sulung dari 3 bersaudara. Saat duduk di bangku SMA, dia pernah mengalami peristiwa memilukan.

“Waktu masih duduk di SMA sempat mengalami kejadian pahit. Diperkosa oleh seorang laki-laki. Kejadian itu akhirnya (membuat) saya terjun ke dunia malam,” ujar wanita pemilik rambut lurus panjang warna coklat, memulai perbincangan dengan wartawan, sambil minum segelas jus jambu, beberapa waktu lalu.

Berbekal ijazah SMA, Khisan bekerja sebagai LC atau pemandu lagu (PL) di sebuah tempat karaoke di Boyolali. Saat itu, usianya masih belasan tahun. Di sana, dia dibayar Rp 100 ribu per jam setiap kali menemani tamu. Biasanya, Khisan melayani tamu di dalam ruang karaoke selama 4 jam. “Jika ada saweran, beda bayarannya. Jika kita sreg dengan tamunya, juga beda cerita,” ucapnya.

Suatu hari, di tempat kerjanya sebagai LC atau PL, dia bertemu dengan seorang laki-laki tajir yang merupakan seorang pejabat di Jawa Tengah. Sebut saja namanya Sutris (bukan nama sebenarnya). Khisan menyebut saat itu penampilan Sutris keren dan rapi. Dari pertemuan itu, mereka akhirnya bertukar nomor handphone hingga berlanjut menjalin hubungan asmara. Dari sinilah, Khisan memulai ‘kariernya’ sebagai wanita simpanan.

Malam pertama menjadi wanita simpanan, dia merasakan waktu begitu lambat berputar. Saat itu, Khisan menghabiskan malamnya dengan Sutris di salah satu hotel. Meski dalam hatinya sebenarnya berontak, namun demi memuaskan pelanggan, ia berusaha memperlihatkan wajah sumringah. Ia sembunyikan keresahannya dengan menenggak minuman beralkohol.

“Saya diajak jalan kalau cowok tersebut ada agenda ke luar kota. Kami pun ketemu dan bermalam. Selama jadi simpanan, fasilitas kos-kosan dan kebutuhan bulanan saya ditanggung oleh cowok itu,” katanya.

Singkat cerita, mereka lalu menikah pada 2015. Selama menikah, Khisan sempat berhenti berprofesi sebagai pemandu lagu atau LC. Namun, pernikahan Khisan dan Sutris tak bertahan lama. Belum genap dua tahun hidup berumah tangga, mereka bercerai. Dan saat itulah, Khisan mulai kembali ke dunia malam.

Khisan kembali menjalani hari-hari sebagai wanita penghibur lelaki hidung belang. Pelanggannya mulai dari penegak hukum, hingga pejabat pemerintah daerah. Tidak sedikit pula juga bos atau pengusaha di wilayah Boyolali dan Sragen yang rutin ‘memakai‘ Khisan.

Seiring berjalan waktu, Khisan saat itu mulai menikmati hari-harinya sebagai PL/LC sekaligus wanita simpanan. Menurutnya, dengan pekerjaannya itu, dia bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Jujur saya sedikit-sedikit bisa menutupi kebutuhan saya. Saya melakukan ini karena saya pernah ketipu sampai Rp 400 juta dan saya harus menanggungnya sendiri. Tapi kadang saya sedih juga,” tuturnya dengan mimik wajah sedih.

Meski kebutuhannya tercukupi, Khisan mulai menemukan ketidaknyamanan. Sebagai perempuan, dia juga ingin merasakan menjadi jadi istri biasa. Bukan jadi wanita simpanan yang didatangi seenaknya. Terkadang, dia iri jika melihat pasangan lain pergi jalan-jalan tanpa ada beban takut ketahuan orang lain.

“Ketemunya enggak tentu. Paling kalau lagi ada ke luar kota saya diajak. Kalau berpergian juga selalu pilih-pilih tempat, karena takut ada yang memergoki. Saya enggak pernah diperlakukan seperti istri-istri lainnya,” keluh Khisan.

Dia mulai menyadari, ternyata hidup glamor yang dia idamkan sejak dulu, itu tak seindah apa yang dibayangkan selama ini. “Di balik hidup ini, orang enggak tahu kalau saya tersiksa batin. Padahal, ibu saya mungkin berpikir, kalau saya bahagia dan baik-baik aja,” ujarnya.

Malam berganti malam, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Setelah hampir 8 tahun bolak balik menjadi simpanan pejabat dan bos, Khisan akhirnya bertemu seseorang. Sebut saja namanya Ki Bletok (bukan nama sebenarnya). Ki Bletok yang merupakan seorang pengusaha tajir di Sragen pada 2019, menikahi Khisan.

Sejak menjadi istri Ki Bletok, Khisan mulai berikhtiar memperbaiki diri. Perjalanan hidupnya perlahan mulai dibenahi. Keinginan Khisan untuk menjadi istri sah seorang lelaki akhirnya tertunaikan. Dia kini tak lagi harus sembunyi-sembunyi saat bepergian ke luar rumah bersama suami. Namun, di tengah perjalanan, biduk rumah tangga Khisan dan Ki Bletok diterpa badai. Pasangan ini mulai kehilangan keharmonisan. Hingga akhirnya keduanya memilih untuk berpisah.

Khisan bingung. Dia sudah tidak lagi dinafkahi oleh suaminya dan harus kembali menjadi tulang punggung keluarga. Anak hasil pernikahan dengan Ki Bletok saat itu masih balita. Godaan menghampiri, dia akhirnya kembali terjun di dunia hitam. Kembali menjadi wanita penghibur lelaki di malam hari dengan menjadi LC.

“Saya harus menanggalkan busana serta harkat sebagai wanita dan seorang ibu demi uang. Tapi aku tak punya pilihan lain. Berbagai usaha sudah aku lakukan buat tidak terjerumus. Awalnya sakit, tapi aku mencoba ikhlas,” ucap dia.

Baru beberapa bulan kembali menyandang sebagai wanita penghibur, dia terkena razia Satpol PP. Khisan menganggap mungkin itu adalah teguran dari Allah kepadanya agar kembali ke jalan yang benar. “Setelah ditangkap, mau tidak mau, aku jalani masa karantina. Di situ aku belajar banyak hal, belajar menata hidup lagi, belajar punya impian lagi,” katanya.

Sekembalinya dari panti rehabilitasi, bukan hal yang mudah untuk bisa meninggalkan dunia malam yang sudah dia jalani. Banyak godaan buat kembali, banyak pandangan sinis yang bikin dia ingin kembali terjun. “Ternyata membersihkan nama baik itu enggak mudah dan jadi orang baik pun enggak gampang.”

Kini, Khisan masih berusaha untuk memperbaiki diri. Pelan-pelan dia mulai meninggalkan dunia hitam dan telah sekian lama menjeratnya. Hari-harinya kini diisi kegiatan yang positif seperti aktif di organisasi kepemudaan. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, dia mencoba peruntungan dengan berjualan busana dan aksesoris perempuan lewat online.

(Dwiyanto-Prapto)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *