OPINI: Urip Sak Madyo, Ojo Koyo Cebol Nggayuh Lintang

Ketua DPC BPAN LAI Sragen Eka Awi bersama KGPH Puger Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Foto: Istimewa

 

FOKUSLINTAS.com – Peribahasa cebol nggayuh lintang biasanya dilekatkan pada seseorang yang mempunyai keinginan terlalu tinggi akan sesuatu tetapi tanpa mempertimbangkan potensi atau kemampuan dirinya.

Cebol (orang yang memiliki tinggi badan rendah) nggayuh lintang (meraih bulan). Sehingga dengan kata lain dapat dikatakan mengharapkan sesuatu yang tidak pasti.

Ungkapan ini pada umumnya digunakan ketika mendengar keinginan seseorang yang dianggap terlalu tinggi oleh lawan bicaranya, sedangkan sang lawan bicara menganggap keinginan tersebut merupakan suatu hal yang sulit untuk diwujudkan.

Masalahnya banyak orang mengejar sesuatu tanpa menggunakan nalar yang dapat diartikan akal sehat. Drajat, semat dan kramat dikejar tanpa deduga, prayoga, watara dan reringa maupun dengan perancanaan yang mengikuti pola tata, titi, tatas, titis.

Sebagai catatan bahwa orang yang mempunyai cita-cita harus berani melangkah, karena tercapainya keinginan kita hanya bisa terwujud kalau dijalani dan tidak menyimpang dari tekad kita. Keinginan dan niat, waktu dan doa, semisal orang bepergian harus ditujukan kepada tempat yang akan kita datangi. Keinginan harus punya pengawal. Adapun pengawalnya adalah “nalar”, atau otak. Karena keinginan tanpa “nalar” ibarat keinginan anak kecil. Selain tanpa makna juga tanpa tujuan, hasilnya tidak tercapai

Disisi lain, Cebol nggayuh lintang dalam bahasa indonesia mempunyai arti Orang pendek / kerdil yang ingin meraih bintang. Kalau dalam peribahasa Jawa Cebol nggayuh lintang mempunyai arti ” duwe kekarepan seng duwur banget mulo ora biso klakon ” atau dalam bahasa indonesia ” mempunyai keinginan atau harapan terlalu tinggi”.

Contohnya, ketika seorang anak yang malas untuk belajar, dan dia ingin memperoleh juara di kelasnya. Keinginan tersebut tidaklah salah, namun bagi siswa yang malas belajar, memperoleh juara kelas menjadi sangat sulit karena keinginan tersebut membutuhkan usaha untuk mewujudkannya, yaitu dengan belajar.

Memang tidak ada sesuatu yang tidak mungkin untuk dapat dicapai. Namun untuk dapat meraih apa yang ingin dicapai, maka dibutuhkan usaha untuk dapat mewujudkannya. Keinginan tanpa adanya usaha yang dilakukan, maka akan sangat sulit bagi keinginan tersebut untuk terwujud.

Seperti halnya contoh diatas, peribahasa lain yang memiliki arti yang hampir sama yaitu “jamur ing mongso ketigo” atau “udan ing mongso ketigo”. Mongso ketigo dalam bahasa jawa diartikan sebagai musim kemarau. Sehingga kedua peribahasa tersebut mengungkapkan harapan yang mustahil atau sangat sulit untuk tercapai. Untuk diambil hikmahnya, banyak pitutur Jawa mengingatkan supaya manusia hidup nrimo ing pandum  “sak madyo” saja atau secukupnya saja.

 

( Eka Awi )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *