OPINI: Yen Cedhak Mambu Tai, Yen Adoh Mambu Wangi

Jika ada orang yang merasa baik, biarlah aku merasa menjadi manusia yang sebaliknya, agar aku tak terlena dan bisa mawas diri atas keburukanku. (Ksa/dok) Pict: /IG

FOKUSLINTAS.com – Bagi orang Jawa mungkin sering mendengar pepatah ini. Yen cedhak mambu tai, yen adoh mambu wangi. Arti secara kasaran bermakna jika berdekatan akan berbau (maaf) tinja dan jika berjauhan akan berbau harum. Secara harfiah pepatah Jawa ini bermakna tentang suatu bentuk kearifan lokal dan digunakan untuk menggambarkan dinamika hubungan persaudaraan atau pertemanan sehari-hari.

Jika kita perhatikan di masyarakat dan bertemu dengan orang sepuh, simbah-simbah misalnya, sering cerita tentang putra atau putrinya yang berada di perantauan (atau neng paran, istilah Jawanya). Simbah pasti akan bangga dan memujinya setinggi langit. Kesuksesan baik dilihat dari karir, harta dan bahkan uang yang diberikan ketika hari raya pun tak luput dari pujian tinggi.

Hal seperti ini menimbulkan kecemburuan bagi anak yang tinggal berdekatan dengan simbah tersebut. Memang selama berkomunikasi dan bersosial dengan si anak yang tinggalnya berdekatan sering terjadi konflik meski bukan konflik yang sampai parah. Namun pertengkaran, perselisihan dan perdebatan dalam keseharian tak terelakkan. Sudah pasti itu.

Selain konflik dalam komunikasi, seolah anak yang dekat dengan orangtua sehari-hari, tak memberikan uang yang bisa dibanggakan oleh simbah. Padahal setiap hari si anak sudah memperhatikan, memasak dan memenuhi kebutuhan si nenek meski ala kadarnya. Seolah uang limaratus ribu yang diberikan oleh anak yang baru mudik lebih berharga dibandingkan dengan uang sepuluh ribu atau duapuluh ribu untuk kebutuhan makan simbah setiap hari. Belum lagi kalau simbah gerah atau meriang, pastilah lebih dari itu. Si anak akan lebih repot mengurusi simbah. Meski sebenarnya anak tak boleh perhitungan dengan orangtuanya, toh jasa orangtua tak terbalas dengan apapun di dunia ini.

Kenyataan sehari-hari di kampung hampir sama seperti itu. Dalam pandangan orang lain di sekitarnya pun seakan sebuah keluarga ada anak emas dan anak biasa. Si anak emas selalu dipuji sedangkan anak lain dianggap biasa, bahkan tak dianggap. Itu dalam pandangan orang lain.

Melihat kenyataan dampak dari anggapan orang sepuh seperti itu, maka kita sebagai orangtua yang masih muda dan tak mau dibandingkan dengan saudara lain mungkin bisa belajar untuk menganggap anak sebagai anugerah, tak perlu anak yang diemaskan dan anak biasa.

Anak adalah harta dan amanah yang harus terus dijaga sejak dalam kandungan sampai masa dewasa mereka. Menjaga dalam artian menjaga nama, perasaan dan hati anak. Jangan ada luka di hati anak agar di masa tua kita bisa menikmati hidup bahagia dan dirindukan oleh anak keturunan kita.

Sudah saatnya pepatah yen cedhak mambu tai, yen adoh mambu wangi kita kikis sedikit demi sedikit. Dekat atau jauh buah hati tetap sama baiknya, tak perlu dibandingkan satu sama lain. Anak memiliki keunikan sendiri-sendiri dan patut dibanggakan oleh orangtuanya.(*)

 

 

Oleh : Eko Nyemor

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *