Keangkeran Alas Krendhowahono, Salah Satu Hutan Bersejarah di Sragen Jawa Tengah yang Menyimpan Banyak Misteri

Punden Betari Durgo atau Dewi Kaluyuwati di Alas Krendowahono. Foto: (Awi)

 

FOKUSLINTAS.com – Tempat yang tak asing lagi bagi para spiritual khususnya kalangan orang jawa. Keberadaan hutan yang satu ini dapat dibilang menjadi salah satu hutan yang paling angker di Pulau Jawa.

Untuk mencapai lokasi Alas Krendhowahono tidaklah teramat sulit, tempat itu berada di utara Kota Solo dengan jarak kurang lebih sekitar 20 kilo meter dari pusat kota. Lebih lengkapnya keberadaannya di Dusun Krendowahono, Desa Krendowahono, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Data yang dihimpun fokuslintas.com, Alas Krendhowahono dipercaya sebagai salah satu pelindung gaib Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat (Kraton Solo) dari sisi bagian utara, dan diyakini sebagai sebuah kerajaan gaib yang dihuni oleh mahluk halus layaknya berwujud manusia akan tetapi membisu.

Tim media sekaligus DPC BPAN LAI Sragen meninjau lokasi alas krendowahono dan menguak artikel sejarah. Foto: Awi

Menurut cerita bahwa penguasa Alas Krendhowahono merupakan seorang wanita cantik yang telah berwujud jin yang bernama Bathari Kalayuwati (Batara Durga).

Juru kunci di Alas Krendhowahono Mbah Darsono (75) juga mengatakan, tempat itu diyakini sebagai kerajaan mahluk halus, dan terdapat satu penguasa disebut Betari Durgo yang dipercaya dari pihak Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat untuk menjaga wilayah sisi bagian utara Keraton.

“Tiap tahun tepatnya bulan suro tradisi ritual rutin diselenggarakan oleh Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat mas, yaitu upacara sesaji Mahesa Lawung dan masih diselenggarakan hingga sekarang,” paparnya saat ditemui fokuslintas.com dilokasi.

Menurut Mbah Darsono, sesaji yang dipersembahkan selain kepala kerbau, juga terdapat ingkung ayam, kelapa muda, nasi putih, 7 jenis bunga, dan aneka serangga. Kemudian khusus untuk kepala kerbau dalam ritual Mahesa Lawung tersebut dilakukan dengan cara dilarung maupun ditanam diarea lokasi Alas Krendhowahono.

“Dalam ritual adat Mahesa Lawung yang mempersembahkan sesaji berupa kepala kerbau harus masih perjaka, yang artinya belum pernah diperbudakkan maupun dikawinkan dengan betina.” Tambahnya.

Dari sisi lain, bahwa di alas Krendhowahono ini diyakini menjadi salah satu tempat pusatnya pusaka, dimana ribuan jenis pusaka keberadaanya berada di alas ini. Tentunya hal tersebut kembali lagi kepada keyakinan sendiri antara percaya dan tidak percaya, dengan cara tertentu salah satunya dengan melakukan tirakat di Alas Krendhowahono maka jika pulungnya juga bakal tercapai dari tujuannya.

Dalam cerita sejarah keberadaan Alas Krendhowahono tersebut juga merupakan salah satu tempat untuk mengatur strategi antara pertemuan Raja Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat Pakubuwono VI dengan Pangeran Diponegoro dalam pengusiran penjajah dari bumi Indonesia.

Terbukti lokasi Alas Krendowahono yang terkenal adanya Punden Betari Durgo juga direhab, lalu adanya petilasan sendang Shina dan batu tempat bertapanya Paku Buwono VI sudah diberi pendopo sehingga bisa dimanfaatkan baik dari pemburu berkah, peziarah sampai pelaku spiritual. (Awi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *