OPINI: Secangkir Ilmu Paham, Jangan “SOK SOMBONG” Jikalau Ilmu Masih Dangkal

Makin di Gali Makin Terasa Dangkal dan Secangkir Ilmu Paham. (Fokuslintas.com/dok)

FOKUSLINTAS.com – Beberapa klarifikasi konon tingkat terbawah dalam ilmu itu adalah “PAHAM”, hal ini dimana wilayah kejernihan logika berfikir dan kerendahan hati. Dan ilmu tidak membutakannya, malah menjadikannya kaya.
Semisal, kalau mau banyak rezeki, pahami rezeki itu apa, bagaimana mendapatkannya secara syar’i, bagaimana mengupayakannya supaya menjadi berkah bermanfaat dalam hidup kita, setelah didapatkan bagaimana menggunakannya agar bisa memberi kebahagiaan serta bagaimana menyikapi kala rezeki tak sesuai harapan dan mengundang problem. Cari ilmunya, pahami dan amalkan.
Disisi lain, tingkat ke dua terbawah adalah “KURANG PAHAM”. Orang kurang paham akan terus belajar sampai dia paham, dia akan terus bertanya untuk mendapatkan simpul-simpul pemahaman yang benar …!
Mengapa orang belajar? Karena merasa kurang paham tentang sesuatu.
Begitu pula dengan rezeki. Jika merasa rezekinya susah, macet melulu dan tak selancar jalan tol, tanyakan pada diri mengapa bisa demikian? Adakah yang salah pada diri, pada cara dan pada pemanfaatan sumberdaya untuk memperolehnya? Gali terus sampai mendapatkan jawabannya.
Naik setingkat lagi adalah mereka yang “SALAH PAHAM”. Salah paham itu biasanya karena emosi dikedepankan, sehingga dia tidak sempat berfikir jernih. Dan ketika mereka akhirnya paham, mereka biasanya meminta maaf atas kesalah-pahamannya.
Inilah yang terjadi pada kebanyakan kita, salah paham soal rezeki. Saat rezeki lagi minta ampun susahnya kita merasa cukup merapalkan doa-doa tertentu, melakukan amalan-amalan tertentu, terus berharap besoknya langsung berubah jadi kaya serta merta??? Orang bodoh pun bakal tahu kalau ini pikiran yang salah.
Terus enggak boleh doa dan melakukan amalan?… Tentu boleh saja karena doa itu mengagungkan nama Allah. Tapi jangan mengandalkan itu sebagai jalan menuju tercapainya impian kita, doa dan amalan itu selain bekerja adalah bagian dari ikhtiar, demi mendapatkan ridhaNya.
Kemudian tingkat tertinggi dari ilmu itu adalah “GAGAL PAHAM”. Gagal paham ini biasanya lebih karena “KESOMBONGAN”.
Karena merasa berilmu, dia sudah tidak mau lagi menerima ilmu dari orang lain.
Tidak mau lagi menerima masukan dari siapapun (baik itu nasehat dan sebagainya), atau pilih-pilih hanya mau menerima ilmu (nasehat) dari yang dia suka saja, bukan ilmu yang disampaikan, tapi siapa yang menyampaikan …?
Ciri orang “SOMBONG” dan dangkal ilmunya itu:
1. Tertutup hatinya.
2. Tertutup akal pikirannya.
3. Tertutup pendengarannya.
Tertutup logikanya.
4. Ia selalu merasa cukup dengan pendapatnya sendiri dan yang dimiliki.
Parahnya lagi …, Dia tidak menyadari bahwa pemahamannya yang gagal itu, menjadi bahan tertawaan orang yang paham.
Dia tetap dengan dirinya, dan dia bangga dengan kegagal pahamannya.
Kok PAHAM ada di tingkat terbawah dan GAGAL PAHAM di tingkat yang paling tinggi ? Apa tidak terbalik ?
“Orang semakin paham akan semakin membumi, menunduk, merendah.”
Dia menjadi bijaksana, karena akhirnya dia tahu, bahwa sebenarnya banyak sekali ilmu yang belum dia ketahui, dia merasa seakan-akan dia tidak tahu apa-apa…
Dia terus mau menerima ilmu, dari manapun ilmu itu datangnya.
Dia tidak melihat siapa yang bicara, tetapi dia melihat …, apa yang disampaikan …!
Dia paham …,
Ilmu itu seperti air, dan air hanya mengalir ke tempat yang lebih rendah.
Semakin dia merendahkan hatinya, semakin tercurah ilmu kepadanya. Sedangkan gagal paham itu ilmu tingkat tinggi. Dia seperti balon gas yang berada di atas awan.
Dia terbang tinggi dengan kesombongannya.
Memandang rendah ke-ilmuan lain yang tak sepaham dengannya dan merasa akulah kebenaran … !!!*
Masalahnya …, dia tidak mempunyai pijakan yang kuat, sehingga mudah ditiup angin, tanpa mampu menolak. Sering berubah arah, tanpa kejelasan yang pasti.
Akhirnya dia terbawa kemana-mana sampai terlupa jalan pulang, dia tersesat dengan pemahamannya dan lambat laun akan dibinasakan oleh kesombongannya …
Dia akan mengakui ke gagal pahamannya dengan penyesalan yang amat sangat dalam.
Jadi yang perlu diingat, akal akan berfungsi dengan benar, ketika hatimu merendah.
Ketika hatimu meninggi, maka ilmu jugalah yang akan membutakan si pemilik akal.
Ternyata di situlah kuncinya.
“Lidah orang bijaksana, berada didalam hatinya, dan tidak pernah melukai hati siapapun yang mendengarnya, tetapi hati orang dungu, berada di belakang lidahnya, selalu hanya ingin perkataannya saja yang paling benar dan harus didengar … !!!”
“Ilmu itu open ending”
Makin digali makin terasa dangkal.
Jadi kalau ada orang yang merasa sudah tahu segalanya, berarti dia tidak tahu apa-apa.. !!!”
( Eko Awi )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *